Javascript must be enabled to continue!
Penyisihan Kadar Amoniak dalam Limbah Cair Industri Pupuk Menggunakan Sequencing Batch Reactor
View through CrossRef
ABSTRAK
Sifat toksik nitrogen amoniak dalam limbah cair berbahaya bagi kehidupan sehingga perlu untuk dihilangkan. Pada penelitian ini penyisihan kadar amoniak yang tinggi dalam limbah cair industri pupuk dilakukan melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi menggunakan Sequencing Batch Reactor (SBR). Dua reaktor SBR digunakan dimana pada reaktor pertama (R1) dilakukan pengadukan dan pada reaktor kedua (R2) dilakukan aerasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembebanan 0,787 mg amoniak/L/hari dan Hydraulic Retention Time (HRT) 20 hari, efisiensi penyisihan kadar amoniak mampu dicapai pada kisaran 71,26%-90,91% (R1) dan 62,32% -92,21% (R2). Pengukuran pH pada HRT 20 hari berada pada rentang 8,25-8,65 pada R1 dan pH 8,34-8,73 pada R2. Pada HRT 15 hari, efisiensi penyisihan kadar amoniak efluen pada R1 menurun yaitu dari 90,89 % menjadi 86,81% dan pada R2 menurun dari 90,59% menjadi 40,99 %. Pada HRT 15 hari, efisiensi penyisihan kadar amoniak pada R1 lebih baik dibandingkan pada R2 yang disebabkan adanya penambahan aerasi pada R1 di akhir penelitian.
Kata kunci: amoniak, limbah cair, industri pupuk, sequencing batch reactor
ABSTRACT
The toxic nature of ammonia nitrogen in liquid waste is dangerous for life, so it needs to be eliminated. In this study, the removal of high ammonia levels in the fertilizer industry wastewater was carried out through a process of nitrification and denitrification using the Sequencing Batch Reactor (SBR). Two SBR reactors were used where the first reactor (R1) was stirred and the second reactor (R2) was aerated. The results showed that at a load of 0.787 mg of ammonia/L/day and 20 days of Hydraulic Retention Time (HRT), the efficiencies of removal of ammonia levels were achieved in the range of 71.26%-90.91% (R1) and 62.32%- 92.21% (R2). The pH measurements at 20 days of HRT were in the range of 8.25-8.65 at R1 and pH 8.34-8.73 at R2. At 15 days of HRT, the effluent ammonia level removal efficiency at R1 decreased from 90.89% to 86.81% and at R2 decreased from 90.59% to 40.99%. At 15 days of HRT, the efficiency of ammonia level removal at R1 was better than that in R2 due to the addition of aeration to R1 at the end of the study.
Keywords: ammonia, liquid waste, fertilizer industry, sequencing batch reactor
Politeknik Negeri Bandung
Title: Penyisihan Kadar Amoniak dalam Limbah Cair Industri Pupuk Menggunakan Sequencing Batch Reactor
Description:
ABSTRAK
Sifat toksik nitrogen amoniak dalam limbah cair berbahaya bagi kehidupan sehingga perlu untuk dihilangkan.
Pada penelitian ini penyisihan kadar amoniak yang tinggi dalam limbah cair industri pupuk dilakukan melalui proses nitrifikasi dan denitrifikasi menggunakan Sequencing Batch Reactor (SBR).
Dua reaktor SBR digunakan dimana pada reaktor pertama (R1) dilakukan pengadukan dan pada reaktor kedua (R2) dilakukan aerasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pembebanan 0,787 mg amoniak/L/hari dan Hydraulic Retention Time (HRT) 20 hari, efisiensi penyisihan kadar amoniak mampu dicapai pada kisaran 71,26%-90,91% (R1) dan 62,32% -92,21% (R2).
Pengukuran pH pada HRT 20 hari berada pada rentang 8,25-8,65 pada R1 dan pH 8,34-8,73 pada R2.
Pada HRT 15 hari, efisiensi penyisihan kadar amoniak efluen pada R1 menurun yaitu dari 90,89 % menjadi 86,81% dan pada R2 menurun dari 90,59% menjadi 40,99 %.
Pada HRT 15 hari, efisiensi penyisihan kadar amoniak pada R1 lebih baik dibandingkan pada R2 yang disebabkan adanya penambahan aerasi pada R1 di akhir penelitian.
Kata kunci: amoniak, limbah cair, industri pupuk, sequencing batch reactor
ABSTRACT
The toxic nature of ammonia nitrogen in liquid waste is dangerous for life, so it needs to be eliminated.
In this study, the removal of high ammonia levels in the fertilizer industry wastewater was carried out through a process of nitrification and denitrification using the Sequencing Batch Reactor (SBR).
Two SBR reactors were used where the first reactor (R1) was stirred and the second reactor (R2) was aerated.
The results showed that at a load of 0.
787 mg of ammonia/L/day and 20 days of Hydraulic Retention Time (HRT), the efficiencies of removal of ammonia levels were achieved in the range of 71.
26%-90.
91% (R1) and 62.
32%- 92.
21% (R2).
The pH measurements at 20 days of HRT were in the range of 8.
25-8.
65 at R1 and pH 8.
34-8.
73 at R2.
At 15 days of HRT, the effluent ammonia level removal efficiency at R1 decreased from 90.
89% to 86.
81% and at R2 decreased from 90.
59% to 40.
99%.
At 15 days of HRT, the efficiency of ammonia level removal at R1 was better than that in R2 due to the addition of aeration to R1 at the end of the study.
Keywords: ammonia, liquid waste, fertilizer industry, sequencing batch reactor.
Related Results
NILAI TAMBAH LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR
NILAI TAMBAH LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU MENJADI PUPUK ORGANIK CAIR
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai tambah limbah cair industri tahu yang diolah menjadi pupuk cair organik secara ekonomis. Limbah cair industri tahu menjadi sumber ...
Pengaruh Pupuk Hayati Cair BRE4 dan Pupuk Organik Terhadap Keragaman Nematoda Tanah Pada Lahan Kopi Arabika
Pengaruh Pupuk Hayati Cair BRE4 dan Pupuk Organik Terhadap Keragaman Nematoda Tanah Pada Lahan Kopi Arabika
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk hayati cair BRE4 dan pupuk organik terhadap keragaman nematoda tanah pada lahan kopi arabika. Penelitian dilaksanakan di la...
PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK KANDANG TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT MOLER (Fusarium oxysporum) DAN PRODUKSI BAWANG MERAH BERPOLA TANAM ORGANIK
PENGARUH PUPUK HAYATI DAN PUPUK KANDANG TERHADAP INTENSITAS PENYAKIT MOLER (Fusarium oxysporum) DAN PRODUKSI BAWANG MERAH BERPOLA TANAM ORGANIK
Rendahnya produksi bawang merah di Indonesia disebabkan salah satunya oleh penyakit moler (Fusarium oxysporum). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk h...
Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Hasil Fermentasi Menggunakan Em4, Air Kelapa & Gula Sebagai Pupuk Organik Cair
Pemanfaatan Limbah Cair Tahu Hasil Fermentasi Menggunakan Em4, Air Kelapa & Gula Sebagai Pupuk Organik Cair
Pertanian modern menghadapi tantangan meningkatkan produktivitas tanpa merusak lingkungan. Salah satu solusi yang menarik adalah penggunaan pupuk organik cair dari limbah tahu yang...
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengolahan Limbah Cair Produksi Tempe di Kampung Tempe Kota Tangerang
Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengolahan Limbah Cair Produksi Tempe di Kampung Tempe Kota Tangerang
<p><em>Perkembangan industri tempe di Kota Tangerang didukung oleh salah satu sentra industri tempe yaitu Kampung Tempe, Koang Jaya, Karawaci, Tangerang, Banten. Indust...
PENURUNAN KADAR COD PADA LIMBAH CAIR CINCAU DENGAN METODE KARBON AKTIF DAN AERASI
PENURUNAN KADAR COD PADA LIMBAH CAIR CINCAU DENGAN METODE KARBON AKTIF DAN AERASI
Industri pangan merupakan salah satu industri yang berkembang pesat di Indonesia. Perkembangan industri haruslah diiringi dengan pengelolaan limbah yang baik agar tidak menimbulkan...
Evaluasi Pengelolaan Limbah di Pusat Riset Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi
Evaluasi Pengelolaan Limbah di Pusat Riset Teknologi Aplikasi Isotop dan Radiasi
Penggunaan bahan kimia ataupun radioaktif pada penelitian tentunya akan menjadi limbah berbahaya dan beracun bagi lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Limbah yang dihasil...
Pelatihan Pemanfaatan Limbah Alami Menjadi Pupuk Cair di Desa Limpakuwus Banyumas
Pelatihan Pemanfaatan Limbah Alami Menjadi Pupuk Cair di Desa Limpakuwus Banyumas
Petani jamaah muhammadiyah menghadapi tantangan dalam mencari alternatif penggunaan pupuk sebagai nutrisi tanaman karena peningkatan biaya sarana dan biaya produksi pertanian dan n...

