Javascript must be enabled to continue!
PERIWAYATAN HADIS SECARA MAKNA PERSPEKTIF MUHAMMAD AMIN AL-SYINQITHIY
View through CrossRef
Perdebatan tentang periwayatan hadis secara makna bukanlah sesuatu yang baru. Akar masalah ini timbul karena adanya pernyataan Rasulullah yang melarang dan dalam riwayat lain Rasulullah malah membolehkan. Kebolehan periwayatan secara makna dikhawatirkan berpeluang pada berubahnya makna hadis sebagai konsekuensi dari perubahan teks. Para ulama kaum muslimin di antaranya Muhammad Amin Al-Syinqithiy menentukan syarat dan batasan terkait periwayatan secara makna dan siapa saja yang boleh melakukannya. Beliau menentukan syarat dan batasan tersebut agar perawi yang kesulitan dalam meriwayatkan secara lafaz dapat meriwayatkan secara makna sebagai bentuk kemudahan. Ketentuan syarat dan batasan tersebut juga agar perawi yang meriwayatkan secara makna tidak liar dalam meriwayatkannya sehingga hadis terjaga keautentikan dan keorisinalannya dari penyelewengan dan pemalsuan. Dengan mengangangkat judul penelitian tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang apa hukum periwayatan secara makna dan apa saja syarat dan batasan ketika melakukannya. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan kualitatif yang bersifat kepustakaan, dan berdasarkan hasil temuan penelitian, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa periwayatan hadis secara makna hukumnya boleh menurut Al-Syinqithiy, tetapi terdapat syarat-syarat dan batasan-batasan yang ketat dan wajib dipenuhi ketika meriwayatkannya.
Title: PERIWAYATAN HADIS SECARA MAKNA PERSPEKTIF MUHAMMAD AMIN AL-SYINQITHIY
Description:
Perdebatan tentang periwayatan hadis secara makna bukanlah sesuatu yang baru.
Akar masalah ini timbul karena adanya pernyataan Rasulullah yang melarang dan dalam riwayat lain Rasulullah malah membolehkan.
Kebolehan periwayatan secara makna dikhawatirkan berpeluang pada berubahnya makna hadis sebagai konsekuensi dari perubahan teks.
Para ulama kaum muslimin di antaranya Muhammad Amin Al-Syinqithiy menentukan syarat dan batasan terkait periwayatan secara makna dan siapa saja yang boleh melakukannya.
Beliau menentukan syarat dan batasan tersebut agar perawi yang kesulitan dalam meriwayatkan secara lafaz dapat meriwayatkan secara makna sebagai bentuk kemudahan.
Ketentuan syarat dan batasan tersebut juga agar perawi yang meriwayatkan secara makna tidak liar dalam meriwayatkannya sehingga hadis terjaga keautentikan dan keorisinalannya dari penyelewengan dan pemalsuan.
Dengan mengangangkat judul penelitian tersebut, peneliti ingin mengetahui tentang apa hukum periwayatan secara makna dan apa saja syarat dan batasan ketika melakukannya.
Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan kualitatif yang bersifat kepustakaan, dan berdasarkan hasil temuan penelitian, peneliti menggunakan jenis penelitian deskriptif.
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa periwayatan hadis secara makna hukumnya boleh menurut Al-Syinqithiy, tetapi terdapat syarat-syarat dan batasan-batasan yang ketat dan wajib dipenuhi ketika meriwayatkannya.
Related Results
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
Abstract: The Tahfiz Hadis program is one of the extracurricular programs carried out at the Al Falah Puteri Islamic Boarding School Banjarbaru. This program was formed because of ...
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
Hadis disepakati sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Namun, untuk dapat menjadikannya sebagai dasar ajaran, hadis harus melewati uji naqd al-hadis dan fiqh al-hadi...
Mengenal Tuntas Seluk Beluk Periwayatan Hadis
Mengenal Tuntas Seluk Beluk Periwayatan Hadis
Hadis merupakan sumber primer kedua setelah al-Qur’an dalam patokan pengambilan hukum Islam. Sebagai sumber primer, tentu banyak aturan yang diberlakukan dalam penentuan validitas ...
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
WACANA SAINTIFIK HADIS DALAM KONSTRUKSI KESAHIHAN HADIS
Penelitian ini bermaksud menjelaskan penelitian hadis menurut standar prosedur ilmiah penelitian hadis yang disebut saintifik hadis. Wacana saintifik hadis dalam konstruksi kesahih...
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
Sunan Abu Dawud merupakan salah satu dari enam kitab hadis utama dalam tradisi hadis Sunni. Kitab ini disusun oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Ash'ath al-Sijistani pada abad ke-...
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG ZAKAT PERTANIAN, PEMBEKAMAN SAAT BERPUASA DAN MASALAH ZUNUB SAAT BERPUASA
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG ZAKAT PERTANIAN, PEMBEKAMAN SAAT BERPUASA DAN MASALAH ZUNUB SAAT BERPUASA
Semua hadis rasulullah SAW yang telah sampai pada kita terlebih dahulu diperhatikan dari aspek kualitasnya, Baik yang diterapkan maupun tidak. Dilihat dari kualitasnya hadis bisa d...

