Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

KEANEKARAGAMAN BAKTERI PADA RUMPUT LAUT (Kappaphicus alvarezii) DI PERAIRAN PANTAI AMAL

View through CrossRef
Rumput laut (Kappaphycus alvarezii) merupakan komoditas penting perikanan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi dan menjadi salah satu sumber devisa negara serta sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir. Selain itu rumput laut banyak digunakan sebagai bahan dasar industri makanan, farmasi dan energi. Namun produksi rumput laut kota Tarakan pada tahun 2019 mengalami penurunan dari 159.468 ton menjadi 152.76 ton. Salah satu yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi rumput laut adalah serangan penyakit  ice-ice yang disebabkan oleh bakteri. Tujuan dari penelitian untuk mengetahui keanekaragaman bakteri yang terdapat pada rumput laut di perairan Pantai Amal Tarakan. Isolasi bakteri dilakukan dengan menggunakan metode stread plat pada media TCBS (thiosulphate citrate bile salt sucrose) dan TSA (thiosulphate sucrosa agar). Sampel rumput laut dihaluskan lalu diambil sebanyak 5 gram kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi media TCBS dan TSA. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370C atau suhu ruangan selama 24 jam. Identifikasi bakteri dilakukan dengan mengacu pada buku Bergey’s Manual of Determinatif Bacteriology dan Manual For the Identification of Medical Bacteria dengan melakukan uji biokimia yang meliputi; Uji Pewarnaan Gram, Test Oksidase, Katalase, O/F (Oksidasi/Fermentasi), glukosa, motility, Produksi asam dari karbohidrat (D-Glukosa dan D-mannitol), lysin, urea, ornithin dan methil red. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Keanekaragaman bakteri pada rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di perairan Pantai Amal Tarakan diantaranya Corynebacterium, Acinetobacter, Bacillus, Pseudomonas dan Vibrio yang berpotensi menyebabkan penyakit ice-ice. Rekomendasi: Perlu menjaga keseimbangan lingkungan dengan memperhatikan parameter kualitas air, agar rumput laut tidak stres, sebab infeksi bakteri bersifat sekunder. Seaweed (Kappaphycus alvarezii) is an important fishery commodities that has a high economic value and is a source of foreign exchange and a source of income for coastal communities. In addition, seaweed is widely used as a basic material for the food, pharmaceutical and energy industries. However, Tarakan's seaweed production in 2019 decreased from 159.468 tons to 152.576 tons. One of the causes of a decrease in seaweed production is the attack of ice-ice disease caused by bacteria. The purpose of this study was to determine the diversity of bacteria found in seaweed in the waters of Amal Beach, Tarakan. Bacterial isolation was carried out using TCBS (thiosulphate citrate bile salt sucrosa) and TSA (thiosulphate sucrosa agar) media. Seaweed samples were mashed and then taken as much as 5 grams and then put into a petri dish containing TCBS and TSA media. Then incubated at 37°C or room temperature for 24 hours. Identification of bacteria is carried out by referring to the book Bergey's Manual of Determinative Bacteriology and Manual For the Identification of Medical Bacteria by conducting biochemical  tests which include; Gram stain test, oxidase test, catalase, O/F (Oxidation-Fermentation), glucose, motility, acid production from carbohydrates (D-glucose and D-mannitol), lysine, urea, ornithine and methyl red. The results showed that there was a diversity of bacteria in seaweed (Kappaphycus alvarezii) in the waters of the Tarakan Amal Coast including Corynebacterium, Acinetobacter, Bacillus, Pseudomonas and Vibrio which have the potential to cause ice-ice disease. Recommendation: It is necessary to maintain environmental balance by paying attention to water quality parameters, so that seaweed is not stressed, because bacterial infections are secondary.
Title: KEANEKARAGAMAN BAKTERI PADA RUMPUT LAUT (Kappaphicus alvarezii) DI PERAIRAN PANTAI AMAL
Description:
Rumput laut (Kappaphycus alvarezii) merupakan komoditas penting perikanan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi dan menjadi salah satu sumber devisa negara serta sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir.
Selain itu rumput laut banyak digunakan sebagai bahan dasar industri makanan, farmasi dan energi.
Namun produksi rumput laut kota Tarakan pada tahun 2019 mengalami penurunan dari 159.
468 ton menjadi 152.
76 ton.
Salah satu yang menyebabkan terjadinya penurunan produksi rumput laut adalah serangan penyakit  ice-ice yang disebabkan oleh bakteri.
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui keanekaragaman bakteri yang terdapat pada rumput laut di perairan Pantai Amal Tarakan.
Isolasi bakteri dilakukan dengan menggunakan metode stread plat pada media TCBS (thiosulphate citrate bile salt sucrose) dan TSA (thiosulphate sucrosa agar).
Sampel rumput laut dihaluskan lalu diambil sebanyak 5 gram kemudian dimasukkan ke dalam cawan petri yang berisi media TCBS dan TSA.
Selanjutnya diinkubasi pada suhu 370C atau suhu ruangan selama 24 jam.
Identifikasi bakteri dilakukan dengan mengacu pada buku Bergey’s Manual of Determinatif Bacteriology dan Manual For the Identification of Medical Bacteria dengan melakukan uji biokimia yang meliputi; Uji Pewarnaan Gram, Test Oksidase, Katalase, O/F (Oksidasi/Fermentasi), glukosa, motility, Produksi asam dari karbohidrat (D-Glukosa dan D-mannitol), lysin, urea, ornithin dan methil red.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat Keanekaragaman bakteri pada rumput laut (Kappaphycus alvarezii) di perairan Pantai Amal Tarakan diantaranya Corynebacterium, Acinetobacter, Bacillus, Pseudomonas dan Vibrio yang berpotensi menyebabkan penyakit ice-ice.
Rekomendasi: Perlu menjaga keseimbangan lingkungan dengan memperhatikan parameter kualitas air, agar rumput laut tidak stres, sebab infeksi bakteri bersifat sekunder.
 Seaweed (Kappaphycus alvarezii) is an important fishery commodities that has a high economic value and is a source of foreign exchange and a source of income for coastal communities.
In addition, seaweed is widely used as a basic material for the food, pharmaceutical and energy industries.
However, Tarakan's seaweed production in 2019 decreased from 159.
468 tons to 152.
576 tons.
One of the causes of a decrease in seaweed production is the attack of ice-ice disease caused by bacteria.
The purpose of this study was to determine the diversity of bacteria found in seaweed in the waters of Amal Beach, Tarakan.
Bacterial isolation was carried out using TCBS (thiosulphate citrate bile salt sucrosa) and TSA (thiosulphate sucrosa agar) media.
Seaweed samples were mashed and then taken as much as 5 grams and then put into a petri dish containing TCBS and TSA media.
Then incubated at 37°C or room temperature for 24 hours.
Identification of bacteria is carried out by referring to the book Bergey's Manual of Determinative Bacteriology and Manual For the Identification of Medical Bacteria by conducting biochemical  tests which include; Gram stain test, oxidase test, catalase, O/F (Oxidation-Fermentation), glucose, motility, acid production from carbohydrates (D-glucose and D-mannitol), lysine, urea, ornithine and methyl red.
The results showed that there was a diversity of bacteria in seaweed (Kappaphycus alvarezii) in the waters of the Tarakan Amal Coast including Corynebacterium, Acinetobacter, Bacillus, Pseudomonas and Vibrio which have the potential to cause ice-ice disease.
Recommendation: It is necessary to maintain environmental balance by paying attention to water quality parameters, so that seaweed is not stressed, because bacterial infections are secondary.

Related Results

Strategi Peningkatan Kelompok Nelayan Melalui Diversifikasi dan Pemasaran Produk Olahan Rumput Laut
Strategi Peningkatan Kelompok Nelayan Melalui Diversifikasi dan Pemasaran Produk Olahan Rumput Laut
Desa Tanailandu merupakan merupakan desa yang berada di Kabupaten Buton Tengah penghasil rumput laut. Rumput laut dikembangkan dengan memanfaatkan sepanjang Pantai desa oleh kelomp...
Karakteristik Fisikokimia dan Penerimaan Konsumen Kerupuk Rumput Laut Kappaphycus alvarezii
Karakteristik Fisikokimia dan Penerimaan Konsumen Kerupuk Rumput Laut Kappaphycus alvarezii
Kappaphycus alvarezii is widely used because it contains agar, carrageenan, porpyran, furcelaran and phycobilin pigments (consisting of phycoerethrin and phycocyanin). Optimization...
ANALISIS PERBANDINGAN MESIN PEMOTONG RUMPUT BADJA BG435 BAHAN BAKAR MINYAK DAN K-ONE ELEKTRIK
ANALISIS PERBANDINGAN MESIN PEMOTONG RUMPUT BADJA BG435 BAHAN BAKAR MINYAK DAN K-ONE ELEKTRIK
Pemotongan rumput merupakan suatu aktivitas yang penting dalam pemeliharaan rumput. Hal itu bertujuan agar hamparan rumput menjadi rapat dan merata. Oleh karena itulah ada baiknya ...
Identification of Kappaphycus alvarezii seaweed based on phylogenetic and carrageenan conten
Identification of Kappaphycus alvarezii seaweed based on phylogenetic and carrageenan conten
Increasing seaweed production requires accurate information regarding the genetic sources of seeds used. Identifying the seaweed species Kappaphycus molecular is one of the solutio...
Kearifan Lokal Sukur Laut Dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut di Pesisir Pantai Pamayang Kecamatan Cipatujah
Kearifan Lokal Sukur Laut Dalam Pengelolaan Sumber Daya Laut di Pesisir Pantai Pamayang Kecamatan Cipatujah
Kearifan lokal tradisi Syukur Laut merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar pesisir pantai Pamayangsari. Kegiatan ini memiliki nilai nilai tradisi yang bisa dikaji...
Rumput Laut, Makanan Sehat Abad 21
Rumput Laut, Makanan Sehat Abad 21
Pemanfaatan rumput laut sebagai bahan pangan telah dilakukan sejak jaman dahulu bahkan rumput laut disinyalir telah dikonsumsi sejak jaman manusia purba. Rumput laut umumnya bersif...
PENGOLAHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) MENJADI DAWET RUMPUT LAUT
PENGOLAHAN RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) MENJADI DAWET RUMPUT LAUT
Diversifikasi produk rumput laut jenis Eucheuma cottoni menjadi minuman khas daerah berupadawet. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan dawet rumput laut Eucheuma cottoni sertamen...

Back to Top