Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Alopesia universalis pada anak yang berespon baik dengan terapi kombinasi: sebuah laporan kasus

View through CrossRef
Background: Alopecia universalis is an autoimmune disease of the hair follicles, which results in complete loss of head and body hair. Until now there is no proven effective therapy in dealing with this disease. We report a case of alopecia universalis that responded well to combination therapy. Case: Female, 22 months old, complained by her parents due to hair loss on her head, eyebrows and eyelashes that had not grown back since the age of 8 months. On the fingernails and toenails found pitting nails, trachonycia. On scalp dermoscopy examination, multiple yellow dots were found. Severity of Alopecia Tool Score (SALT) was 100%. The patient was treated with minoxidil 5%, mometasone 0.1%, triamcinolone 12 mg and excimer laser. Administration of minoxidil increases prostaglandin production and maintains the anagen phase. Corticosteroids are immunosuppressive which suppress the immune attack of T cells on hair follicles. UV light on the excimer laser can reduce the proliferation of T lymphocytes, thereby reducing perifollicular inflammation and hair follicle damage. In this case, after 4 months of observation, the growth of terminal hair and vellus hair on the scalp, eyebrows and eyelashes was seen. On the patient's nails, the trachonycia was improved, with pitting nails remaining. SALT decreased to 58%. Conclusion: The combination therapy of minoxidil, corticosteroid and excimer laser gave good results in this case. During treatment, there were no side effects or recurrences.   Latar belakang : Alopesia universalis adalah penyakit autoimun pada folikel rambut, yang mengakibatkan kerontokan seluruh rambut kepala dan tubuh. Hingga saat ini belum ada terapi yang terbukti efektif dalam menangani penyakit ini. Berikut dilaporkan kasus alopesia universalis yang memberikan respon baik dengan terapi kombinasi. Kasus: Pasien perempuan, 22 bulan, dikeluhkan orang tuanya mengalami rambut kepala, alis dan bulu mata yang rontok dan tidak tumbuh kembali sejak usia 8 bulan. Pada kuku tangan dan kaki didapatkan adanya pitting nails, trachonycia. Pada pemeriksaan dermoskopi kulit kepala didapatkan adanya multiple yellow dots. Severity of Alopecia Tool Score (SALT) 100%. Pasien diberikan terapi minoksidil 5%, mometason 0.1%, triamsinolone 12 mg dan laser excimer. Pemberian minoksidil meningkatkan produksi prostaglandin dan mempertahankan fase anagen. Kortikosteroid bersifat imunosupresif yang menekan serangan imunitas sel T pada folikel rambut. Sinar UV pada laser excimer dapat menurunkan proliferasi sel T limfosit sehingga mengurangi peradangan perifolikular dan kerusakan folikel rambut. Pada kasus, setelah pengamatan selama 4 bulan nampak adanya pertumbuhan rambut terminal dan rambut vellus pada kulit kepala, alis dan bulu mata. Pada kuku pasien nampak trachonycia membaik, tersisa pitting nails. SALT menurun menjadi 58%. Simpulan: Terapi kombinasi minoksidil, kortikosteroid dan laser excimer memberikan hasil yang baik pada kasus ini. Selama pengobatan tidak didapatkan adanya efek samping dan rekurensi.
Title: Alopesia universalis pada anak yang berespon baik dengan terapi kombinasi: sebuah laporan kasus
Description:
Background: Alopecia universalis is an autoimmune disease of the hair follicles, which results in complete loss of head and body hair.
Until now there is no proven effective therapy in dealing with this disease.
We report a case of alopecia universalis that responded well to combination therapy.
Case: Female, 22 months old, complained by her parents due to hair loss on her head, eyebrows and eyelashes that had not grown back since the age of 8 months.
On the fingernails and toenails found pitting nails, trachonycia.
On scalp dermoscopy examination, multiple yellow dots were found.
Severity of Alopecia Tool Score (SALT) was 100%.
The patient was treated with minoxidil 5%, mometasone 0.
1%, triamcinolone 12 mg and excimer laser.
Administration of minoxidil increases prostaglandin production and maintains the anagen phase.
Corticosteroids are immunosuppressive which suppress the immune attack of T cells on hair follicles.
UV light on the excimer laser can reduce the proliferation of T lymphocytes, thereby reducing perifollicular inflammation and hair follicle damage.
In this case, after 4 months of observation, the growth of terminal hair and vellus hair on the scalp, eyebrows and eyelashes was seen.
On the patient's nails, the trachonycia was improved, with pitting nails remaining.
SALT decreased to 58%.
Conclusion: The combination therapy of minoxidil, corticosteroid and excimer laser gave good results in this case.
During treatment, there were no side effects or recurrences.
  Latar belakang : Alopesia universalis adalah penyakit autoimun pada folikel rambut, yang mengakibatkan kerontokan seluruh rambut kepala dan tubuh.
Hingga saat ini belum ada terapi yang terbukti efektif dalam menangani penyakit ini.
Berikut dilaporkan kasus alopesia universalis yang memberikan respon baik dengan terapi kombinasi.
Kasus: Pasien perempuan, 22 bulan, dikeluhkan orang tuanya mengalami rambut kepala, alis dan bulu mata yang rontok dan tidak tumbuh kembali sejak usia 8 bulan.
Pada kuku tangan dan kaki didapatkan adanya pitting nails, trachonycia.
Pada pemeriksaan dermoskopi kulit kepala didapatkan adanya multiple yellow dots.
Severity of Alopecia Tool Score (SALT) 100%.
Pasien diberikan terapi minoksidil 5%, mometason 0.
1%, triamsinolone 12 mg dan laser excimer.
Pemberian minoksidil meningkatkan produksi prostaglandin dan mempertahankan fase anagen.
Kortikosteroid bersifat imunosupresif yang menekan serangan imunitas sel T pada folikel rambut.
Sinar UV pada laser excimer dapat menurunkan proliferasi sel T limfosit sehingga mengurangi peradangan perifolikular dan kerusakan folikel rambut.
Pada kasus, setelah pengamatan selama 4 bulan nampak adanya pertumbuhan rambut terminal dan rambut vellus pada kulit kepala, alis dan bulu mata.
Pada kuku pasien nampak trachonycia membaik, tersisa pitting nails.
SALT menurun menjadi 58%.
Simpulan: Terapi kombinasi minoksidil, kortikosteroid dan laser excimer memberikan hasil yang baik pada kasus ini.
Selama pengobatan tidak didapatkan adanya efek samping dan rekurensi.

Related Results

Perbandingan Kejadian Alopesia Androgenik yang Berketombe (Pityriasis Sicca) dan tidak Berketombe di Universitas Muslim Indonesia
Perbandingan Kejadian Alopesia Androgenik yang Berketombe (Pityriasis Sicca) dan tidak Berketombe di Universitas Muslim Indonesia
Alopesia androgenik adalah penipisan rambut pada manusia yang ditandai dengan penurunan tajam dalam ukuran folikel rambut, yang dapat dikaitkan dengan hilangnya batang rambut folik...
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PB...
Hubungan andropause dengan alopesia androgenik pada aparatur sipil negara di Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung tahun 2022
Hubungan andropause dengan alopesia androgenik pada aparatur sipil negara di Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung tahun 2022
Introduction: Andropause is a collection of clinical symptoms due to a decrease in testosterone levels below normal limits. Androgenic alopecia is baldness caused by the susceptibi...
EFEKTIVITAS BIAYA OBAT ANTIDIABETIK ORAL PASIEN DMT 2 DI RS X KOTA BOGOR PERIODE JULI-DESEMBER 2022
EFEKTIVITAS BIAYA OBAT ANTIDIABETIK ORAL PASIEN DMT 2 DI RS X KOTA BOGOR PERIODE JULI-DESEMBER 2022
Tingginya jumlah pasien diabetes melitus tipe 2 menimbulkan beban biaya yang sangat besar. Berdasarkan data laporan tahunan Rumah Sakit X, diabetes melitus tipe 2 termasuk dalam 10...
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Faktor Prediktor Kegagalan Virologis pada Pasien HIV yang Mendapat Terapi ARV Lini Pertama dengan Kepatuhan Berobat Baik
Pendahuluan. Pada negara dengan keterbatasan sumber daya, pengukuran viral load (VL) sebagai prediktor efektivitas terapi antiretroviral (ARV) tidak selalu mudah untuk diakses oleh...
Sosialisasi Perlindungan Anak Terhadap Prostitusi Anak Dan Kekerasan Terhadap Anak
Sosialisasi Perlindungan Anak Terhadap Prostitusi Anak Dan Kekerasan Terhadap Anak
Beberapa temuan ada ratusan ribu anak-anak Indonesia yang menjadi korban prostitusi anak dan kekerasan pada anak tiap tahunnya. Eksploitasi anak untuk prostitusi sangat membahayaka...
PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM
PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM
Perlindungan anak terhadap anak yang bermasalah dengan hukum, sebagai bagian utama peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia, karena anak adalah kelompok strategis berkelanjutan...

Back to Top