Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Batasan Tarian dalam Majlis Maulud

View through CrossRef
Syara' do not forbid a person to express his excitement, especially when the excitement is indeed instructed by Syara' as grateful to the birth of Prophet Muhammad s.a.w. Some of the Prophet’s companions showed their excitement when they met the Prophet s.a.w by singing and dancing. Nowadays there are several groups that adapted the act of some of the companions in the event of the Prophet's Maulidur Rasul. They performed dances in the event with a variety of styles and ways. These acts clearly brought confusion and the lack of understanding resulted in conflict and controversy among the people who are not accustomed to this uruf. The study aims to explain the Islamic legal views of the dance, its boundaries and the prohibition contained in it. This is because every human act has a guideline that must be followed so that it remains practical and does not create any damage. This study will first distinguish between the meaning of the word 'dance' with other words that have the meaning almost identical to it. The authors collect the opinions of the fuqaha in dance issues and their arguments and debate them before choosing the most appropriate opinion among them. Descriptive approaches are used to describe the dance performed by some groups in the Maulidur Rasul ceremony to see how appropriate it is to the purpose of the event. The results show that the dance to be performed should be restricted to the limitation that will keep the ceremony composed, not distracting the participants and disrupting the purpose of the Maulidur Rasul ceremony. ABSTRAK Syarak tidak melarang seseorang itu mengungkapkan kegembiraannya, terutama apabila kegembiraan tersebut sememangnya digalakkan syara’ seperti mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad s.a.w. Ada di antara para sahabat menunjukkan kegembiraan mereka apabila bertemu Nabi Muhammad s.a.w dengan nyanyian dan juga tarian. Dewasa ini, terdapat beberapa kumpulan yang mengadaptasi perbuatan sebahagian sahabat tersebut dalam majlis maulidur Rasul. Mereka mempersembahkan tarian dalam majlis tersebut dengan pelbagai cara dan gaya. Sudah semestinya pekara ini mendatangkan kekeliruan dan membangkitkan konflik serta kontroversi dalam kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan uruf ini. Kajian ini bertujuan menerangkan pandangan fikh mengenai tarian, batasan dan larangan yang terdapat di dalamnya. Hal ini kerana setiap perbuatan manusia itu mempunyai garis panduan yang perlu dipatuhi agar ia tetap berada dalam lingkungan maslahat dan tidak mengundang kerosakan. Kajian ini terlebih dahulu akan membezakan antara makna perkataan ‘tarian’ dengan perkataan lain yang mempunyai makna hampir serupa dengannya. Seterusnya mengumpulkan pendapat para fuqaha dalam masalah tarian berserta hujah-hujah mereka lalu membahaskannya sebelum memilih pendapat yang paling tepat di antaranya. Pendekatan deskriptif digunakan bagi menggambarkan tarian yang dipersembahkan sebahagian kumpulan dalam majlis maulid bagi melihat kesesuaiannya dengan tujuan majlis tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahawa tarian yang ingin dipersembahkan perlulah dibatasi dengan batasan yang akan menjaga ketenangan majlis, tidak melalaikan peserta dan mengganggu tujuan majlis maulid itu.
Title: Batasan Tarian dalam Majlis Maulud
Description:
Syara' do not forbid a person to express his excitement, especially when the excitement is indeed instructed by Syara' as grateful to the birth of Prophet Muhammad s.
a.
w.
Some of the Prophet’s companions showed their excitement when they met the Prophet s.
a.
w by singing and dancing.
Nowadays there are several groups that adapted the act of some of the companions in the event of the Prophet's Maulidur Rasul.
They performed dances in the event with a variety of styles and ways.
These acts clearly brought confusion and the lack of understanding resulted in conflict and controversy among the people who are not accustomed to this uruf.
The study aims to explain the Islamic legal views of the dance, its boundaries and the prohibition contained in it.
This is because every human act has a guideline that must be followed so that it remains practical and does not create any damage.
This study will first distinguish between the meaning of the word 'dance' with other words that have the meaning almost identical to it.
The authors collect the opinions of the fuqaha in dance issues and their arguments and debate them before choosing the most appropriate opinion among them.
Descriptive approaches are used to describe the dance performed by some groups in the Maulidur Rasul ceremony to see how appropriate it is to the purpose of the event.
The results show that the dance to be performed should be restricted to the limitation that will keep the ceremony composed, not distracting the participants and disrupting the purpose of the Maulidur Rasul ceremony.
ABSTRAK Syarak tidak melarang seseorang itu mengungkapkan kegembiraannya, terutama apabila kegembiraan tersebut sememangnya digalakkan syara’ seperti mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad s.
a.
w.
Ada di antara para sahabat menunjukkan kegembiraan mereka apabila bertemu Nabi Muhammad s.
a.
w dengan nyanyian dan juga tarian.
Dewasa ini, terdapat beberapa kumpulan yang mengadaptasi perbuatan sebahagian sahabat tersebut dalam majlis maulidur Rasul.
Mereka mempersembahkan tarian dalam majlis tersebut dengan pelbagai cara dan gaya.
Sudah semestinya pekara ini mendatangkan kekeliruan dan membangkitkan konflik serta kontroversi dalam kalangan masyarakat yang tidak terbiasa dengan uruf ini.
Kajian ini bertujuan menerangkan pandangan fikh mengenai tarian, batasan dan larangan yang terdapat di dalamnya.
Hal ini kerana setiap perbuatan manusia itu mempunyai garis panduan yang perlu dipatuhi agar ia tetap berada dalam lingkungan maslahat dan tidak mengundang kerosakan.
Kajian ini terlebih dahulu akan membezakan antara makna perkataan ‘tarian’ dengan perkataan lain yang mempunyai makna hampir serupa dengannya.
Seterusnya mengumpulkan pendapat para fuqaha dalam masalah tarian berserta hujah-hujah mereka lalu membahaskannya sebelum memilih pendapat yang paling tepat di antaranya.
Pendekatan deskriptif digunakan bagi menggambarkan tarian yang dipersembahkan sebahagian kumpulan dalam majlis maulid bagi melihat kesesuaiannya dengan tujuan majlis tersebut.
Hasil kajian menunjukkan bahawa tarian yang ingin dipersembahkan perlulah dibatasi dengan batasan yang akan menjaga ketenangan majlis, tidak melalaikan peserta dan mengganggu tujuan majlis maulid itu.

Related Results

Alih Aksara dan Alih Bahasa Teks Hikayat Maulud Nabi
Alih Aksara dan Alih Bahasa Teks Hikayat Maulud Nabi
This study aims to present the form of a physical description of the Hikayat Maulud Nabi text, present the form of transliteration of the Hikayat Maulud Nabi text, and present the ...
TARIAN SAJOMOANE
TARIAN SAJOMOANE
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan makna simbolik dan nili-nilai yang terkandung didalam tarian sajomoane.Untuk menganalisis data dalam penelitian ini me...
Tinjauan Teologis tentang Tarian dan Manfaatnya bagi Pertumbuhan Rohani
Tinjauan Teologis tentang Tarian dan Manfaatnya bagi Pertumbuhan Rohani
Dance is strongly connected to life, freedom, salvation, restoration and victory over the enemies. The Bible uses the word dance for the first time in the verse when Miriam took he...
Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Jamaah Majlis Taklim
Pemberdayaan Ekonomi Umat Berbasis Jamaah Majlis Taklim
Tulisan ini ingin membahas tentang upaya pemberdayaan ekonomi pada lembaga kegiatan keagamaan bernama majlis taklim. Pertanyaan penelitian dirumuskan apakah pemberdayaan ekonomi pa...
Kostum Tarian Topeng Ireng Kabupaten Magelang Menurut Perspektif Semiotika Charles Sanders Pierce
Kostum Tarian Topeng Ireng Kabupaten Magelang Menurut Perspektif Semiotika Charles Sanders Pierce
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari kostum tarian Topeng Ireng. Tarian Topeng Ireng merupakan salah satu kesenian asli daerah Kabupaten Magelang yang masih berkemb...
Memasyarakatkan Tarian Wisisi: Sebuah Upaya Mengolahragakan Masyarakat Melalui Kearifan Lokal Papua
Memasyarakatkan Tarian Wisisi: Sebuah Upaya Mengolahragakan Masyarakat Melalui Kearifan Lokal Papua
Papua memiliki kekayaan budaya yang luar biasa dan salah satunya adalah tarian wasisi. Namun, seiring kemajuan jaman atau modernisasi, pengetahuan masyarakat tentang tarian ini sem...
TARIAN DADAS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK PADA SANGGAR IGAL JUE PALANGKA RAYA
TARIAN DADAS DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER DISIPLIN ANAK PADA SANGGAR IGAL JUE PALANGKA RAYA
Problems discussed by Dadas Dance in Forming Disciplinary Character of Children in Jgal Palangka Raya Studio Igal. This study aims to determine the Dadas Dance in the Formation of ...
PERAN BADAN KONTAK MAJELIS TA’LIM PERMATA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KEAGAMAAN
PERAN BADAN KONTAK MAJELIS TA’LIM PERMATA UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KEAGAMAAN
Abstrak Penelitian yang berjudul “Peranan Badan Kontak Majelis Ta’lim Permata untuk menambah peningkatan Pemahaman Keagamaan Ibu-ibu Kampung Perawang Barat Kecamatan Tualang ...

Back to Top