Javascript must be enabled to continue!
Pembangunan dan Pengesahan Instrumen Pengetahuan, Sikap dan Penghayatan Terhadap Unsur Tradisi Dalam Perlembagaan Persekutuan
View through CrossRef
Unsur tradisi merupakan isu sensitif yang boleh mendatangkan pertelingkahan antara kaum. Di media sosial, elemen unsur tradisi sering menjadi punca pergaduhan antara orang Melayu dengan bukan Melayu. Oleh itu, menjadi satu keperluan untuk memahami pengetahuan, sikap dan penghayatan masyarakat terhadap unsur tradisi. Namun, tiada skala pengukuran yang disahkan dan dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, sikap dan penghayatan masyarakat Malaysia terhadap unsur tradisi. Maka, kajian ini akan membangunkan skala yang sah dan dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, sikap dan penghayatan unsur tradisi dalam Perlembagaan Persekutuan Malaysia. Metodologi kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dijalankan secara keratan rentas terhadap 2389 responden melalui pensampelan berkelompok ke atas responden Melayu, Cina dan India di Semenanjung Malaysia, berusia 18 tahun dan ke atas. Instrumen soal selidik dibangunkan sendiri berdasarkan elemen unsur tradisi yang terdapat dalam Perlembagaan Persekutuan dan model KAP (knowledge, attitude and practices) dan disemak oleh pakar bidang sosiologi perlembagaan dan psikometrik. Seterusnya ujian rintis dijalankan sebanyak dua kali, dan etika penyelidikan diperoleh serta kajian sebenar dijalankan. Setelah selesai pengumpulan data melalui media sosial, pengesahan serta kebolehpercayaan konstruk dan item dilakukan menggunakan analisis Item Response Theory (IRT) dan Conformation Factor Analysis menggunakan perisian SPSS, Jamovi dan Amos. Hasil kajian menunjukkan 34 item bagi konstruk pengetahuan, sikap dan penghayatan sah dan dapat digunakan berdasarkan kepada kesahan dalaman ketiga-tiga konstruk (Cronbach α > .70). Namun beberapa item bagi konstruk sikap dan penghayatan perlu dibuang iaitu item-item yang mempunyai factor loading yang rendah. Implikasinya, item-item yang tinggal lebih mengukur dengan tepat dan tidak berlaku pertindihan antara item.
Title: Pembangunan dan Pengesahan Instrumen Pengetahuan, Sikap dan Penghayatan Terhadap Unsur Tradisi Dalam Perlembagaan Persekutuan
Description:
Unsur tradisi merupakan isu sensitif yang boleh mendatangkan pertelingkahan antara kaum.
Di media sosial, elemen unsur tradisi sering menjadi punca pergaduhan antara orang Melayu dengan bukan Melayu.
Oleh itu, menjadi satu keperluan untuk memahami pengetahuan, sikap dan penghayatan masyarakat terhadap unsur tradisi.
Namun, tiada skala pengukuran yang disahkan dan dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, sikap dan penghayatan masyarakat Malaysia terhadap unsur tradisi.
Maka, kajian ini akan membangunkan skala yang sah dan dapat digunakan untuk mengukur pengetahuan, sikap dan penghayatan unsur tradisi dalam Perlembagaan Persekutuan Malaysia.
Metodologi kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dijalankan secara keratan rentas terhadap 2389 responden melalui pensampelan berkelompok ke atas responden Melayu, Cina dan India di Semenanjung Malaysia, berusia 18 tahun dan ke atas.
Instrumen soal selidik dibangunkan sendiri berdasarkan elemen unsur tradisi yang terdapat dalam Perlembagaan Persekutuan dan model KAP (knowledge, attitude and practices) dan disemak oleh pakar bidang sosiologi perlembagaan dan psikometrik.
Seterusnya ujian rintis dijalankan sebanyak dua kali, dan etika penyelidikan diperoleh serta kajian sebenar dijalankan.
Setelah selesai pengumpulan data melalui media sosial, pengesahan serta kebolehpercayaan konstruk dan item dilakukan menggunakan analisis Item Response Theory (IRT) dan Conformation Factor Analysis menggunakan perisian SPSS, Jamovi dan Amos.
Hasil kajian menunjukkan 34 item bagi konstruk pengetahuan, sikap dan penghayatan sah dan dapat digunakan berdasarkan kepada kesahan dalaman ketiga-tiga konstruk (Cronbach α > .
70).
Namun beberapa item bagi konstruk sikap dan penghayatan perlu dibuang iaitu item-item yang mempunyai factor loading yang rendah.
Implikasinya, item-item yang tinggal lebih mengukur dengan tepat dan tidak berlaku pertindihan antara item.
Related Results
Kedaulatan Raja-Raja Melayu Melangkaui Peruntukan Perlembagaan Persekutuan: Implikasinya ke atas Sistem Raja Berperlembagaan di Malaysia
Kedaulatan Raja-Raja Melayu Melangkaui Peruntukan Perlembagaan Persekutuan: Implikasinya ke atas Sistem Raja Berperlembagaan di Malaysia
Malaysia mengamalkan sistem Raja Berperlembagaan iaitu Raja harus bertindak mengikut peruntukan perlembagaan yang telah ditetapkan sekaligus menutup ruang kepada kebebasan memerint...
PERANAN KAUM AWAM DALAM PELAYANAN GEREJA
PERANAN KAUM AWAM DALAM PELAYANAN GEREJA
Ungkapan ”persekutuan Roh” dalam Filipi 2:1 bisa berarti persekutuan dengan Roh yang dimungkinkan oleh Roh Kudus sendiri. Gagasan Perjanjian Baru tentang persekutuan ini sering kal...
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
This study examines the role of corporate governance in moderating the influence of green accounting disclosure, corporate social responsibility (CSR), and firm size on the financi...
Penghayatan Orang Muda Katolik Asrama Santo Stefanus Tentang Makna Persekutuan Dalam Kehidupan Menggereja
Penghayatan Orang Muda Katolik Asrama Santo Stefanus Tentang Makna Persekutuan Dalam Kehidupan Menggereja
Tujuan penelitian ini untuk melihat sejauh mana penghayatan Orang Muda Katolik asrama St. Stefanus Waena Jayapura tentang persekutuan dalam kehidupan menggereja. Metode yang gunaka...
PEMBANGUNAN HUKUM YANG BERKELANJUTAN: USAHA MENCAPAI PEMBANGUNAN NASIONAL YANG BERKELANJUTAN
PEMBANGUNAN HUKUM YANG BERKELANJUTAN: USAHA MENCAPAI PEMBANGUNAN NASIONAL YANG BERKELANJUTAN
Pembangunan merupakan usaha sadar dari masyarakat untuk mencapai kesejahteraannya adalah hal yang wajar dilakukan oleh masyarakat untuk mencapai kesejahteraannya sendiri. Sayangnya...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
MANAJEMEN KOMUNIKASI DALAM PROSESI TRADISI MAPPABOTTING DESA AMPARITA KECAMATAN TELLU LIMPOE KABUPATEN SIDENRENG RAPPANG SULAWESI SELATAN
Tradisi perkawinan adat bugis atau yang dikenal dengan tradisi Mappabotting khususnya masyarakat Hindu Bugis memiliki beberapa tahap atau proses komunikasi. Tentunya untuk ...

