Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Analisis Keterikatan Emosi dan Hubungan Liniasi para Pemangku Kepentingan dalam Pelestarian Cagar Budaya Keraton di Kota Cirebon

View through CrossRef
Abstract. Social cohesion is the ability of groups to unite which is formed by cohesiveness through emotional attachment and linear relationships. The current phenomenon of globalization creates a lack of close social relations that can shape individualism which results in accelerating the process of socio-cultural change, especially in cultural acculturation. This concept of social cohesion should be utilized in the continuation of cultural preservation because it sees the importance of preserving culture as an asset and the uniqueness of a region. One of them is the city of Cirebon which still carries out its ancestral culture such as the traditional ceremonies of the Prophet's Birthday and Panjang Jimat and the art of mask dance and has a cultural heritage in the form of the three palace areas. Based on this phenomenon, the purpose of this study is to identify emotional attachments and linear relationships among stakeholders in the preservation of the Cirebon palace's cultural heritage. Researchers used content analysis techniques using a qualitative approach. The results of this study are that there are forms of participation and concern for the regional government and the community for the palace's cultural heritage; The local government cooperates with the palace, namely mask dance training and coaching in the form of educational counseling about the palace; The local government provides APBD funds to the palace every year. It can be concluded that emotional attachment and linear relationships play a role in the preservation of the palace's cultural heritage in the city of Cirebon, both of which can be enhanced by forming a discussion space between actors discussing the direction and plans for preservation as well as providing incentives from the regional service to actors who play an active role in the preservation of the palace's cultural heritage. Abstrak. Kohesi sosial adalah kemampuan kelompok untuk bersatu yang dibentuk oleh kekompakan melalui keterikatan emosi dan hubungan liniasi. Fenomena globalisasi saat ini menimbulkan kurangnya keeratan hubungan sosial yang membentuk sifat individualisme yang mengakibatkan perubahan sosial budaya khususnya dalam akulturasi budaya. Konsep kohesi sosial ini seharusnya dapat dimanfaatkan dalam keberlangsungan pelestarian budaya karena melihat pentingnya melestarikan budaya sebagai asset dan keunikan suatu daerah. Kota cirebon yang  masih menjalankan budaya leluhur seperti upacara adat Maulid Nabi dan Panjang Jimat serta kesenian Tari topeng serta memiliki cagar budaya berupa kawasan ketiga keraton. Berdasarkan fenomena tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi keterikatan emosi dan hubungan liniasi para pemangku kepentingan pelestarian cagar budaya keraton Cirebon. Peneliti menggunakan metode teknik analisis isi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah ada bentuk partisipasi dan kepedulian Pemda serta masyarakat terhadap cagar budaya keraton; Pemda melakukan Kerjasama dengan keraton yaitu pelatihan tari topeng serta pembinaan berupa penyuluhan pelajaran mengenai keraton;Pemda memberikan dana APBD kepada keraton tiap tahunnya. Dapat disimpulkan bahwa keterikatan emosi dan hubungan liniasi berperan terhadap pelestarian cagar budaya keraton di Kota Cirebon, keduanya dapat ditingkatkan dengan membentuk ruang diskusi antar para aktor membahas mengenai arah dan rencana pelestarian serta pemberian insentif dari dinas daerah kepada aktor yang berperan aktif dalam pelestarian cagar budaya keraton.
Title: Analisis Keterikatan Emosi dan Hubungan Liniasi para Pemangku Kepentingan dalam Pelestarian Cagar Budaya Keraton di Kota Cirebon
Description:
Abstract.
Social cohesion is the ability of groups to unite which is formed by cohesiveness through emotional attachment and linear relationships.
The current phenomenon of globalization creates a lack of close social relations that can shape individualism which results in accelerating the process of socio-cultural change, especially in cultural acculturation.
This concept of social cohesion should be utilized in the continuation of cultural preservation because it sees the importance of preserving culture as an asset and the uniqueness of a region.
One of them is the city of Cirebon which still carries out its ancestral culture such as the traditional ceremonies of the Prophet's Birthday and Panjang Jimat and the art of mask dance and has a cultural heritage in the form of the three palace areas.
Based on this phenomenon, the purpose of this study is to identify emotional attachments and linear relationships among stakeholders in the preservation of the Cirebon palace's cultural heritage.
Researchers used content analysis techniques using a qualitative approach.
The results of this study are that there are forms of participation and concern for the regional government and the community for the palace's cultural heritage; The local government cooperates with the palace, namely mask dance training and coaching in the form of educational counseling about the palace; The local government provides APBD funds to the palace every year.
It can be concluded that emotional attachment and linear relationships play a role in the preservation of the palace's cultural heritage in the city of Cirebon, both of which can be enhanced by forming a discussion space between actors discussing the direction and plans for preservation as well as providing incentives from the regional service to actors who play an active role in the preservation of the palace's cultural heritage.
Abstrak.
Kohesi sosial adalah kemampuan kelompok untuk bersatu yang dibentuk oleh kekompakan melalui keterikatan emosi dan hubungan liniasi.
Fenomena globalisasi saat ini menimbulkan kurangnya keeratan hubungan sosial yang membentuk sifat individualisme yang mengakibatkan perubahan sosial budaya khususnya dalam akulturasi budaya.
Konsep kohesi sosial ini seharusnya dapat dimanfaatkan dalam keberlangsungan pelestarian budaya karena melihat pentingnya melestarikan budaya sebagai asset dan keunikan suatu daerah.
Kota cirebon yang  masih menjalankan budaya leluhur seperti upacara adat Maulid Nabi dan Panjang Jimat serta kesenian Tari topeng serta memiliki cagar budaya berupa kawasan ketiga keraton.
Berdasarkan fenomena tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi keterikatan emosi dan hubungan liniasi para pemangku kepentingan pelestarian cagar budaya keraton Cirebon.
Peneliti menggunakan metode teknik analisis isi dengan menggunakan pendekatan kualitatif.
Hasil dari penelitian ini adalah ada bentuk partisipasi dan kepedulian Pemda serta masyarakat terhadap cagar budaya keraton; Pemda melakukan Kerjasama dengan keraton yaitu pelatihan tari topeng serta pembinaan berupa penyuluhan pelajaran mengenai keraton;Pemda memberikan dana APBD kepada keraton tiap tahunnya.
Dapat disimpulkan bahwa keterikatan emosi dan hubungan liniasi berperan terhadap pelestarian cagar budaya keraton di Kota Cirebon, keduanya dapat ditingkatkan dengan membentuk ruang diskusi antar para aktor membahas mengenai arah dan rencana pelestarian serta pemberian insentif dari dinas daerah kepada aktor yang berperan aktif dalam pelestarian cagar budaya keraton.

Related Results

KAJIAN TERITORIALITAS KERATON KANOMAN
KAJIAN TERITORIALITAS KERATON KANOMAN
Abstrak - Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan yang penting dalam sejarah terbentuknya Kota Cirebon. Keraton Kanoman didirikan pada tahun 1678, keraton berfungsi sebagai b...
PENERAPAN KONSEP SENTRALITAS PADA KERATON SURAKARTA HADININGRAT
PENERAPAN KONSEP SENTRALITAS PADA KERATON SURAKARTA HADININGRAT
Abstract - Keraton is a term to describe a place where Javanese ruler and his family lives. Keraton, which regarded as a historical building, holds an important role in development...
STRATEGI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG KEMBALI WISATAWAN DI KOTA CIREBON
STRATEGI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA TERHADAP KEPUTUSAN BERKUNJUNG KEMBALI WISATAWAN DI KOTA CIREBON
Penelitian ini mendeskripsikan tentang strategi pelestarian cagar budaya terhadap keputusan berkunjung kembali wisatawan di Kota Cirebon. Pelestarian dilakukan agar masyarakat ikut...
STRATEGI PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA MELALUI DIGITALISASI
STRATEGI PELESTARIAN BENDA CAGAR BUDAYA MELALUI DIGITALISASI
Perkembangan teknologi digital dewasa ini dapat dimanfaatkan dalam upaya pelestarian cagar budaya dengan melalui digitalisasi. Kajian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep digital...
Pemeringkatan Cagar Budaya Tidak Bergerak
Pemeringkatan Cagar Budaya Tidak Bergerak
Keanekaragaman cagar budaya Indonesia dapat mencerminkan kekayaan sekaligus identitas bangsa. Sebagai identitas bangsa, cagar budaya Indonesia jumlahnya belum diketahui secara past...
Dinamika Emosi Tokoh Kinan dalam Novel Layangan Putus Karya Mommy Asf
Dinamika Emosi Tokoh Kinan dalam Novel Layangan Putus Karya Mommy Asf
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dinamika emosi Kinan dalam novel Layangan Putus Karya Mommy Asf. Pendekatan yang digunakan adalah Psikologi Sastra. Metode yang d...
Revitalisasi Ragam Hias Batik Keraton Cirebon dalam Desain Baru Kreatif
Revitalisasi Ragam Hias Batik Keraton Cirebon dalam Desain Baru Kreatif
ABSTRACT Respecting traditions of the nation, which is preserving a batik tradition. Cirebon is the region that has a rich cultural treasures batik varied. Given its development, ...
Digitalisasi Kebudayaan Keraton Kanoman Cirebon
Digitalisasi Kebudayaan Keraton Kanoman Cirebon
Abstract. Keraton Kanoman is one of the most historical cultural heritages in  Cirebon City. Currently, the Canoman Palace still does not have an introduction media other than soci...

Back to Top