Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PEREMPUAN PERIWAYAT HADIS-HADIS HUKUM DALAM KITAB BULUGH AL-MARAM KARYA IMAM IBN HAJAR AL-ASQALANI

View through CrossRef
<p>Kajian mengenai peran perempuan dalam bidang keagamaan pada umumnya tetap menemukan signifikansinya mengingat kajian tentang ketokohan perempuan dalam bidang tersebutmasih sangat langka. Artikel ini mencoba mengungkap peran perempuan dalam periwayatan hadis dengan memfokuskan pada kitab<em>Bulu</em><em>&gt;</em><em>gh al-Mara</em><em>&gt;</em><em>m min Adillah al-Ah</em><em>}</em><em>ka</em><em>&gt;</em><em>m </em>yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan merupakan salah satu kitab koleksi hadis hukum yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren di Indonesia.</p><p>Adanya partisipasi kaum perempuan dalam periwayatan hadis sebagaimana terkodifikasi dalam kitab <em>Bulu</em><em>&gt;</em><em>gh al-Mara</em><em>&gt;</em><em>m </em>menunjukkan perhatian perempuan yang besar terhadap hadis Nabi Saw. Jumlah para periwayat tersebut mencapai 19 orang dengan tema periwayatan yang beragam. Jumlah ini cukup banyak mengingat kesibukan kaum perempuan dalam ruang domestik yang melebihi kaum lelaki. Selain itu, juga dikarenakan aktifitas perlawatan ilmiah yang menjadi salah satu sarana perolehan hadis masih sulit dilakukan kaum perempuan pada saat itu.Meski demikian kaum perempuan tidak jauh ketinggalan dalam berpartisipasi dan memantapkan eksistensi dan kapabilitasnya dalam periwayatan hadis.</p>Para <em>muhaddis\in </em>mengakui kualitas periwayatan hadis yang berasal dari sahabat perempuan. Hal ini terutama disebabkan kecenderungan para <em>muhaddis\in</em> yang tidak mempermasalahkan gender dalam periwayatan hadis. Dalam syarat-syarat <em>‘adalah</em> dan <em>dhab</em><em>t}} </em>yang harus diterapkan pada seorang periwayat hadis, misalnya, tidak terdapat ketentuan bahwa periwayat harus berjenis kelamin laki-laki.
Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
Title: PEREMPUAN PERIWAYAT HADIS-HADIS HUKUM DALAM KITAB BULUGH AL-MARAM KARYA IMAM IBN HAJAR AL-ASQALANI
Description:
<p>Kajian mengenai peran perempuan dalam bidang keagamaan pada umumnya tetap menemukan signifikansinya mengingat kajian tentang ketokohan perempuan dalam bidang tersebutmasih sangat langka.
Artikel ini mencoba mengungkap peran perempuan dalam periwayatan hadis dengan memfokuskan pada kitab<em>Bulu</em><em>&gt;</em><em>gh al-Mara</em><em>&gt;</em><em>m min Adillah al-Ah</em><em>}</em><em>ka</em><em>&gt;</em><em>m </em>yang ditulis oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dan merupakan salah satu kitab koleksi hadis hukum yang banyak dipelajari di pesantren-pesantren di Indonesia.
</p><p>Adanya partisipasi kaum perempuan dalam periwayatan hadis sebagaimana terkodifikasi dalam kitab <em>Bulu</em><em>&gt;</em><em>gh al-Mara</em><em>&gt;</em><em>m </em>menunjukkan perhatian perempuan yang besar terhadap hadis Nabi Saw.
Jumlah para periwayat tersebut mencapai 19 orang dengan tema periwayatan yang beragam.
Jumlah ini cukup banyak mengingat kesibukan kaum perempuan dalam ruang domestik yang melebihi kaum lelaki.
Selain itu, juga dikarenakan aktifitas perlawatan ilmiah yang menjadi salah satu sarana perolehan hadis masih sulit dilakukan kaum perempuan pada saat itu.
Meski demikian kaum perempuan tidak jauh ketinggalan dalam berpartisipasi dan memantapkan eksistensi dan kapabilitasnya dalam periwayatan hadis.
</p>Para <em>muhaddis\in </em>mengakui kualitas periwayatan hadis yang berasal dari sahabat perempuan.
Hal ini terutama disebabkan kecenderungan para <em>muhaddis\in</em> yang tidak mempermasalahkan gender dalam periwayatan hadis.
Dalam syarat-syarat <em>‘adalah</em> dan <em>dhab</em><em>t}} </em>yang harus diterapkan pada seorang periwayat hadis, misalnya, tidak terdapat ketentuan bahwa periwayat harus berjenis kelamin laki-laki.

Related Results

KAEDAH KEDABITAN PERIWAYAT: KAEDAH AL-JARH WA TADHBIT
KAEDAH KEDABITAN PERIWAYAT: KAEDAH AL-JARH WA TADHBIT
Kedabitan merupakan salah satu syarat untuk dikategorikan sebagai hadis yang berkualitas sahih ataupun hasan. Akan tetapi, perlu dikaji kembali pemahaman terkait “kedabitan” yang d...
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
METODE MUHAMMAD NASHIRUDDIN AL-ALBANI DALAM MENDAIFKAN HADIS: TELAAH KITAB DAIF SUNAN ABU DAUD
Sunan Abu Dawud merupakan salah satu dari enam kitab hadis utama dalam tradisi hadis Sunni. Kitab ini disusun oleh Imam Abu Dawud Sulaiman bin al-Ash'ath al-Sijistani pada abad ke-...
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
Kualitas Hadis dalam Kitab Pelajaran Akhlak Karya Adnan Yahya Lubis
Kualitas Hadis dalam Kitab Pelajaran Akhlak Karya Adnan Yahya Lubis
In the daily practice of Islamic teachings, it is found that some hadiths of unknown quality circulate among the general public and are used as references to educational institutio...
KRITIK TERHADAP KITAB SHAHIH AL-BUKHARI DAN SHAHIH MUSLIM
KRITIK TERHADAP KITAB SHAHIH AL-BUKHARI DAN SHAHIH MUSLIM
Para ulama telah sepakat tentang keautentikan hadis-hadis yang termuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Namun sekarang, sebagian ulama sudah mulai melakukan kritik ...
Peran Hadratus Syaikh Kh. Hasyim Asyari dalam Pengembangan Hadis di Indonesia
Peran Hadratus Syaikh Kh. Hasyim Asyari dalam Pengembangan Hadis di Indonesia
Sebagai negara yang penduduknya mayoritas Muslim, perkembangan hadis tentunya masuk ke Indonesia, menjadi menarik untuk dibahas karena sebagian besar penikmat ilmu hadis sendiri be...

Back to Top