Javascript must be enabled to continue!
PROBLEMATIKA PRODUKSI BIOETANOL DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA ENERGI NASIONAL
View through CrossRef
Bioetanol memiliki arti strategis bagi Indonesia karena menghubungkan kebijakan energi terbarukan, sumber daya pertanian domestik, kinerja industri gula, dan ketahanan energi nasional. Namun, bioetanol tidak dapat diposisikan semata-mata sebagai agenda pencampuran bahan bakar di hilir apabila sistem bahan baku hulunya belum terverifikasi melalui data yang andal, standar mutu, kesiapan spasial, dan kontrak pasokan yang bankable. Penelitian ini menganalisis problematika produksi bioetanol dalam mendukung swasembada energi nasional dengan menyusun pembacaan hulu secara berurutan pada penyebaran kebun tebu, sebaran 59 pabrik gula aktif, produksi gula provinsi, produksi molases aktual nasional, estimasi baseline molases 2025-2026, dan dinamika perdagangan molases. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan kajian literatur terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tebu dan gula Indonesia masih terkonsentrasi secara spasial, terutama di Jawa Timur dan Lampung. Produksi molases aktual nasional tercatat 1,471 juta ton pada 2020, meningkat menjadi 1,686 juta ton pada 2023, dan berada pada 1,636 juta ton pada 2024. Dengan menggunakan rasio historis gula terhadap tebu dan molases terhadap tebu, ketersediaan molases baseline diperkirakan sebesar 1,706 juta ton pada 2025 dan 1,773 juta ton pada 2026. Akan tetapi, volume tersebut tidak otomatis menjadi bahan baku bioetanol yang bankable karena molases juga diserap oleh industri domestik yang telah berjalan dan pasar ekspor. Artikel ini menyimpulkan bahwa Indonesia memerlukan neraca molases nasional yang terverifikasi, tata kelola molases berbasis mutu, serta integrasi kebijakan gula-energi agar bioetanol dapat berkontribusi secara andal terhadap swasembada energi nasional.
Kata kunci: bioetanol; molases; pabrik gula; ketahanan energi; swasembada energi
Title: PROBLEMATIKA PRODUKSI BIOETANOL DALAM MENDUKUNG SWASEMBADA ENERGI NASIONAL
Description:
Bioetanol memiliki arti strategis bagi Indonesia karena menghubungkan kebijakan energi terbarukan, sumber daya pertanian domestik, kinerja industri gula, dan ketahanan energi nasional.
Namun, bioetanol tidak dapat diposisikan semata-mata sebagai agenda pencampuran bahan bakar di hilir apabila sistem bahan baku hulunya belum terverifikasi melalui data yang andal, standar mutu, kesiapan spasial, dan kontrak pasokan yang bankable.
Penelitian ini menganalisis problematika produksi bioetanol dalam mendukung swasembada energi nasional dengan menyusun pembacaan hulu secara berurutan pada penyebaran kebun tebu, sebaran 59 pabrik gula aktif, produksi gula provinsi, produksi molases aktual nasional, estimasi baseline molases 2025-2026, dan dinamika perdagangan molases.
Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan kajian literatur terstruktur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tebu dan gula Indonesia masih terkonsentrasi secara spasial, terutama di Jawa Timur dan Lampung.
Produksi molases aktual nasional tercatat 1,471 juta ton pada 2020, meningkat menjadi 1,686 juta ton pada 2023, dan berada pada 1,636 juta ton pada 2024.
Dengan menggunakan rasio historis gula terhadap tebu dan molases terhadap tebu, ketersediaan molases baseline diperkirakan sebesar 1,706 juta ton pada 2025 dan 1,773 juta ton pada 2026.
Akan tetapi, volume tersebut tidak otomatis menjadi bahan baku bioetanol yang bankable karena molases juga diserap oleh industri domestik yang telah berjalan dan pasar ekspor.
Artikel ini menyimpulkan bahwa Indonesia memerlukan neraca molases nasional yang terverifikasi, tata kelola molases berbasis mutu, serta integrasi kebijakan gula-energi agar bioetanol dapat berkontribusi secara andal terhadap swasembada energi nasional.
Kata kunci: bioetanol; molases; pabrik gula; ketahanan energi; swasembada energi.
Related Results
Audit Energi pada Dua Produk Kaca Lembaran di sebuah Pabrik Kaca
Audit Energi pada Dua Produk Kaca Lembaran di sebuah Pabrik Kaca
Industri pembuatan kaca tersusun atas empat bagian primer, yaitu: kaca lembaran, kaca khusus, kaca fiber, dan kaca container. Pabrik X merupakan sebuah perusahaan besar penghasil k...
KAJIAN KEBIJAKAN DAGING SAPI DI INDONESIA UNTUK MENDUKUNG SWASEMBADA DAGING SAPI
KAJIAN KEBIJAKAN DAGING SAPI DI INDONESIA UNTUK MENDUKUNG SWASEMBADA DAGING SAPI
Pertambahan jumlah penduduk di Indonesia menjadi salah satu faktor pendorong pelaksanaan program swasembada daging sapi. Beberapa upaya dilakukan oleh pemerintah demi mencapai prog...
Penyuluhan Pertanian: Pendekatan, Metode dan Dampaknya Terhadap Pembangunan Pertanian Dalam Mendukung Swasembada Pangan
Penyuluhan Pertanian: Pendekatan, Metode dan Dampaknya Terhadap Pembangunan Pertanian Dalam Mendukung Swasembada Pangan
Latar belakang: Penyuluhan pertanian memainkan peran krusial dalam meningkatkan kapasitas petani dan mendukung swasembada pangan melalui transfer pengetahuan, pemberdayaan, dan ado...
PENGARUH CAMPURAN BIOETANOL PADA PERTALITE TERHADAP UNJUK KERJA (PERFORMA) MESIN OTTO 4 SILINDER
PENGARUH CAMPURAN BIOETANOL PADA PERTALITE TERHADAP UNJUK KERJA (PERFORMA) MESIN OTTO 4 SILINDER
Dilatar belakangi oleh pemakaian motor bensin dari tahun ke tahun semakin meningkat, hal ini mengakibatkan pemakaian bahan bakar minyak bumi semakin meningkat dan tentu s...
MENENTUKAN WAKTU STANDAR PADA AKTIVITAS KERJA PRODUKSI SABLON MANUAL DI CV. DWIPUTRA IHWA
MENENTUKAN WAKTU STANDAR PADA AKTIVITAS KERJA PRODUKSI SABLON MANUAL DI CV. DWIPUTRA IHWA
Analisis waktu standar produksi merupakan salah satu analisis metoda kuantitatif yang dilakukan untuk mengukur waktu produksi dan bertujuan agar dapat memiliki waktu standar sebaga...
Pembuatan Bioetanol Tongkol Jagung (Zea mays) dan Batang Pisang (Musa paradisiaca) sebagai Bahan Bakar Alternatif
Pembuatan Bioetanol Tongkol Jagung (Zea mays) dan Batang Pisang (Musa paradisiaca) sebagai Bahan Bakar Alternatif
Pembuatan Bioetanol Tongkol Jagung (Zea mays) dan Batang Pisang (Musa paradisiaca) sebagai Bahan Bakar Alternatif
Najwa Muhbita Alya *1, Putri Asyifa Nurohmah 2, Nurul Hida...
Pengaruh Suhu Dan Waktu Hidrolisis Biji Alpukat (Persea americana M.) Menggunakan Katalis Hcl Terhadap Produksi Bioetanol
Pengaruh Suhu Dan Waktu Hidrolisis Biji Alpukat (Persea americana M.) Menggunakan Katalis Hcl Terhadap Produksi Bioetanol
Peningkatan populasi yang tinggi serta perkembangan industri mengakibatkan konsumsi energi yang semakin tinggi yang berdampak pada terjadinnya krisis energi. Untuk mengatasi masala...
ANALISIS GRANGER CAUSALITY TEST KONSUMSI ENERGI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
ANALISIS GRANGER CAUSALITY TEST KONSUMSI ENERGI DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Konsumsi energi adalah salah satu faktor penting bagi setiap negara. Pada skala agregat, konsumsi energi menjalankan perannya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. E...

