Javascript must be enabled to continue!
DHABITH KRITERIA HADIS SHAHIH Studi Kasus: Periwayatan Hadis bi al-Ma’na
View through CrossRef
Hadis Rasulullah SAW dalam bentuk qauli (perkataan) dapat diriwayatkan dengan bentuk lafaz sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah , namun hadis dalam bentuk perbuatan dan taqrir beliau, sudah tentu diformulasikan oleh para sahabat yang menyaksikannya. Kenyataannya tidak semua hadis qauli ini disampaikan dengan lafaz yang sama. Ada kalanya memang Rasulullah SAW sendiri yang menyampaikan lafaz yang berbeda karena para shahabat yang menerimanya tidak paham dengan lafaz yang pertama disampaikan Rasulullah SAW, sehingga Rasulullah SAW menggantinya dengan lafaz lain yang dimengerti oleh para shahabat tersebut. Namun ada kalanya para periwayat hadis mengganti lafaz hadis tersebut dengan kata yang bersinonim disebabkan mereka tidak dapat mengingat lafaz asli yang didengarnya dari Rasulullah SAW. Pada hal dalam menyampaikan hadis, para periwayat tersebut harus dhabith atau dapat menerima hadis dengan baik dan benar dan menyampaikannya kembali sebagaimana yang diterimanya dengan baik dan benar pula.Periwatan hadis yang tidak sesuai dengan lafaz aslinya ini disebut riwayat bi al-ma’na. Dalam realitasnya periwayatan hadis bi al-ma’na ini tidak dapat dihindari dan sering terjadi. Dalam sejarah hadis, pada awalnya ternyata periwayatan hadis bi al-ma’na ini merupakan dispensasi sebelum kitab-kitab hadis dibukukan. Dispensasi bagi periwayatan bi al-ma’na ini bukanlah merupakan indikasi dari ketidakkonsistenan para ulama dalam memenuhi persyaratan ke-dhabith-an, karena sebenarnya para ulama telah menetapkan kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi para rawi dalam periwayatan hadis .
Title: DHABITH KRITERIA HADIS SHAHIH Studi Kasus: Periwayatan Hadis bi al-Ma’na
Description:
Hadis Rasulullah SAW dalam bentuk qauli (perkataan) dapat diriwayatkan dengan bentuk lafaz sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah , namun hadis dalam bentuk perbuatan dan taqrir beliau, sudah tentu diformulasikan oleh para sahabat yang menyaksikannya.
Kenyataannya tidak semua hadis qauli ini disampaikan dengan lafaz yang sama.
Ada kalanya memang Rasulullah SAW sendiri yang menyampaikan lafaz yang berbeda karena para shahabat yang menerimanya tidak paham dengan lafaz yang pertama disampaikan Rasulullah SAW, sehingga Rasulullah SAW menggantinya dengan lafaz lain yang dimengerti oleh para shahabat tersebut.
Namun ada kalanya para periwayat hadis mengganti lafaz hadis tersebut dengan kata yang bersinonim disebabkan mereka tidak dapat mengingat lafaz asli yang didengarnya dari Rasulullah SAW.
Pada hal dalam menyampaikan hadis, para periwayat tersebut harus dhabith atau dapat menerima hadis dengan baik dan benar dan menyampaikannya kembali sebagaimana yang diterimanya dengan baik dan benar pula.
Periwatan hadis yang tidak sesuai dengan lafaz aslinya ini disebut riwayat bi al-ma’na.
Dalam realitasnya periwayatan hadis bi al-ma’na ini tidak dapat dihindari dan sering terjadi.
Dalam sejarah hadis, pada awalnya ternyata periwayatan hadis bi al-ma’na ini merupakan dispensasi sebelum kitab-kitab hadis dibukukan.
Dispensasi bagi periwayatan bi al-ma’na ini bukanlah merupakan indikasi dari ketidakkonsistenan para ulama dalam memenuhi persyaratan ke-dhabith-an, karena sebenarnya para ulama telah menetapkan kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi para rawi dalam periwayatan hadis .
Related Results
الضوابط الفقهية في فقه الإمام الشافعي
الضوابط الفقهية في فقه الإمام الشافعي
Kaidah dan dhabith fiqih keduanya sama-sama merupakan rumusan hukum yang di dalamnya mencakup banyak masalah. Perbedaan keduanya terletak pada cakupannya; kalau kaidah mencakup per...
KRITIK TERHADAP KITAB SHAHIH AL-BUKHARI DAN SHAHIH MUSLIM
KRITIK TERHADAP KITAB SHAHIH AL-BUKHARI DAN SHAHIH MUSLIM
Para ulama telah sepakat tentang keautentikan hadis-hadis yang termuat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Namun sekarang, sebagian ulama sudah mulai melakukan kritik ...
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
PENYELESAIAN HADIS MUKHTALIF TENTANG PENYAKIT YANG TERTULAR, JUNUB DAN ZIARAH KUBUR
Hadis merupakan sumber utama pedoman hidup setelah al-Qur’an. Berdasarkan faktanya tidak semua hadis bersumber dari Rasulullah, pasal ini dilihat dari konteks sejarah perkembangann...
PEREMPUAN PERIWAYAT HADIS-HADIS HUKUM DALAM KITAB BULUGH AL-MARAM KARYA IMAM IBN HAJAR AL-ASQALANI
PEREMPUAN PERIWAYAT HADIS-HADIS HUKUM DALAM KITAB BULUGH AL-MARAM KARYA IMAM IBN HAJAR AL-ASQALANI
<p>Kajian mengenai peran perempuan dalam bidang keagamaan pada umumnya tetap menemukan signifikansinya mengingat kajian tentang ketokohan perempuan dalam bidang tersebutmasih...
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
Kontribusi Ali Mustafa Yaqub (1952-2016) dalam Dinamika Kajian Hadis di Indonesia
<p>Artikel ini akan membahas tentang kontribusi Ali Mustafa Yaqub dalam dinamika kajian hadis di Indonesia. Ia adalah salah seorang pakar di bidang hadis. Hadis-hadis yang di...
Mengenal Tuntas Seluk Beluk Periwayatan Hadis
Mengenal Tuntas Seluk Beluk Periwayatan Hadis
Hadis merupakan sumber primer kedua setelah al-Qur’an dalam patokan pengambilan hukum Islam. Sebagai sumber primer, tentu banyak aturan yang diberlakukan dalam penentuan validitas ...
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
PROGRAM TAHFIZ HADIS DI PONDOK PESANTREN AL FALAH PUTERI BANJARBARU
Abstract: The Tahfiz Hadis program is one of the extracurricular programs carried out at the Al Falah Puteri Islamic Boarding School Banjarbaru. This program was formed because of ...
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
EPISTEMOLOGI KRITIK HADIS
Hadis disepakati sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Namun, untuk dapat menjadikannya sebagai dasar ajaran, hadis harus melewati uji naqd al-hadis dan fiqh al-hadi...

