Javascript must be enabled to continue!
Analisis Israilliyat dalam Penafsiran Q.S. Al-Mā’idah (112-115): “Studi Tafsir Al-Iklil Karya K.H. Misbah Musthofa”
View through CrossRef
Penelitian ini melihat bagaimana narasi Isrā’īliyyāt digunakan dalam penafsiran K.H. Misbah Musthofa terhadap Q.S. Al-Mā’idah 112–115 dalam Tafsīr al-Iklīl. Ini juga menunjukkan bagaimana sikap beliau dan perspektif para ulama digunakan untuk menilai riwayat-riwayat ini. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif berbasis studi pustaka dengan meninjau sumber tafsir kontemporer dan klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa K.H. Misbah mencantumkan banyak Isrā’īliyyāt tanpa menyebut sanad atau melakukan kritik terhadap kualitas riwayat, sehingga kisah-kisah itu hadir sebagai pelengkap naratif dalam penafsiran. Namun, kebanyakan ulama berpendapat bahwa kisah turunnya al-Mā’idah tentang Isrā’īliyyāt tidak dapat digunakan sebagai dasar tafsir kecuali yang sejalan dengan Al-Qur'an dan hadis sahih; riwayat yang bertentangan harus ditolak, dan tawaqquf digunakan untuk menilai riwayat yang tidak jelas. Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa interpretasi yang sah hanya dapat bergantung pada substansi ayat, yaitu permintaan Hawariyyun sebagai penguatan iman dan turunnya hidangan sebagai mukjizat, bukan pada detail Isrā’īliyyāt.
Title: Analisis Israilliyat dalam Penafsiran Q.S. Al-Mā’idah (112-115): “Studi Tafsir Al-Iklil Karya K.H. Misbah Musthofa”
Description:
Penelitian ini melihat bagaimana narasi Isrā’īliyyāt digunakan dalam penafsiran K.
H.
Misbah Musthofa terhadap Q.
S.
Al-Mā’idah 112–115 dalam Tafsīr al-Iklīl.
Ini juga menunjukkan bagaimana sikap beliau dan perspektif para ulama digunakan untuk menilai riwayat-riwayat ini.
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif berbasis studi pustaka dengan meninjau sumber tafsir kontemporer dan klasik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa K.
H.
Misbah mencantumkan banyak Isrā’īliyyāt tanpa menyebut sanad atau melakukan kritik terhadap kualitas riwayat, sehingga kisah-kisah itu hadir sebagai pelengkap naratif dalam penafsiran.
Namun, kebanyakan ulama berpendapat bahwa kisah turunnya al-Mā’idah tentang Isrā’īliyyāt tidak dapat digunakan sebagai dasar tafsir kecuali yang sejalan dengan Al-Qur'an dan hadis sahih; riwayat yang bertentangan harus ditolak, dan tawaqquf digunakan untuk menilai riwayat yang tidak jelas.
Secara keseluruhan, hasil menunjukkan bahwa interpretasi yang sah hanya dapat bergantung pada substansi ayat, yaitu permintaan Hawariyyun sebagai penguatan iman dan turunnya hidangan sebagai mukjizat, bukan pada detail Isrā’īliyyāt.
Related Results
Uudissanoja
Uudissanoja
Kielenaineksetajoittaa (kieli: suomi, sivulla: 112)alisteinen (kieli: suomi, sivulla: 112)emälaiva (kieli: suomi, sivulla: 113)emälippu (kieli: suomi, sivulla: 113)ennakoida (kieli...
Analisis Al-Dakhil Kisah Nabi Sulaiman dalam Tafsir Al-Iklil Karya Misbah Mustafa
Analisis Al-Dakhil Kisah Nabi Sulaiman dalam Tafsir Al-Iklil Karya Misbah Mustafa
Tafsir al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil Karya Misbah Mustafa menafsirkan surat al-Naml ayat 16 dengan riwayat ahli kitab bahwa ada burung dara dan katak yang bertasbih kepada Allah, da...
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
[Interpretation Method of Al-Ilmi Hamka and Al-Maraghiy on Al-Kawniyah Verses: A Comparison] Metode Pentafsiran Al-Ilmiy Hamka dan Al-Maraghiy Terhadap Ayat-Ayat Al-Kawniyyah : Satu Perbandingan
The Tafsir al-Azhar of HAMKA is one of the Malay world's tafsir which reveals the vastness of knowledge that encompasses and covers all disciplines of science. In this interpretati...
Kajian Kritis terhadap Rumusan Konsep Mufassir: Perspektif Ushul Tafsir
Kajian Kritis terhadap Rumusan Konsep Mufassir: Perspektif Ushul Tafsir
In the study of ushûl al-tafsir, among the most important things in discussing the basics of interpretation is establishing the concept of mufassir. This is because without underst...
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
POLA PENAFSIRAN MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DALAM TAFSĪR TŪJUH SŪRAH DAN ĀYĀT AṢ-ṢIYĀM TERHADAP TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: (Kajian Intertekstualitas)
Pada abad ke-20 M, penulisan tafsir al-Qur’an yang lahir di Nusantara umumnya menampilkan ciri kemodernannya, baik dari segi bahasa dan aksara. Namun, berbeda dengan Tafsīr Tūjuh S...
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān
Abstract: Munāsabah al-Qur’ān is a part of ‘Ulūm al-Qur’ān which presents pros and contrast. The pros ulama makes munāsabah as a method to reveal enigma system of Quran verses and ...
Kontribusi Tafsir <i>Bil Ma'tsur</i> dan Tafsir <i>Bil Ra'yi</i> serta Dilematik dalam Khazanah Penafsiran
Kontribusi Tafsir <i>Bil Ma'tsur</i> dan Tafsir <i>Bil Ra'yi</i> serta Dilematik dalam Khazanah Penafsiran
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kontribusi tafsir bil ma’tsur dan tafsir bil ra’yi dalam khazanah penafsiran Al-Qur’an, serta dilema yang muncul dari penggunaannya, serta m...
PENGARUH PENAFSIRAN THABA’ THABA’I TERHADAP TAFSIR AL-MISBAH KARYA MUHAMMAD QURAISH SHIHAB
PENGARUH PENAFSIRAN THABA’ THABA’I TERHADAP TAFSIR AL-MISBAH KARYA MUHAMMAD QURAISH SHIHAB
Ghirah mempelajari tafsir Qur’an bagi umat Islam sangat mengembirakan. Hal itu terlihat antusias umat mengikuti siaran saur bersama M. Quraish Shihab di Metro TV pada Ramadhan 14...

