Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Kajian Kritis terhadap Rumusan Konsep Mufassir: Perspektif Ushul Tafsir

View through CrossRef
In the study of ushûl al-tafsir, among the most important things in discussing the basics of interpretation is establishing the concept of mufassir. This is because without understanding this issue, it will greatly affect the understanding of the character of the person doing the interpretation, as well as their criteria and unique characteristics of their work. In the past, studies on the levels of commentators, known as Thabaqât al-Mufassirin, were widely discussed to determine the levels of commentators and the criteria that distinguish who belongs to this group and who does not. Unfortunately, this concept has not received adequate attention in the study of turath, and even contemporary efforts to address this issue are still limited and often face various challenges. This paper aims to present a critical analysis in formulating the concept of a commentator, so that the forms of commentary work that make someone worthy of being recognized as a commentator can be identified. On the other hand, the division of commentators and their levels based on the working methods they applied will be discussed. This research is based on a literature study with a critical analytical approach. Among the findings of this research, there are two main points: (1) There are diverse forms of interpretation work, each of which is not of equal degree, encompassing various categories such as the producer of interpretive works (muntij al-tafsir), the editor (muharrir al-tafsir), the collector (jami’ li al-tafsir), the summarizer (mukhtashir al-tafsir), the explainer (syârih li al-tafsir), the teacher of tafsir (muallim al-tafsir), and the transmitter of tafsir (nâqil li al-Tafsir); (2) The term "mufassir" has a wide range of tolerance in its usage, where mufassir can be generally categorized into two groups: practical and participatory mufassir. Abstrak: Dalam kajian Ushul tafsir diantara hal yang paling utama dalam pembahasan dasar penafsiran adalah menetapkan konsep mufassir. Hal ini dikarenakan tanpa memahami isu ini akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman mengenai karakter orang yang melakukan tafsir serta kriteria dan ciri khas pekerjaan mereka. Di masa lalu kajian mengenai tingkatan para mufassir yang dikenal dengan sebutan Thabaqât al-Mufassirin banyak dibahas dengan tujuan untuk menentukan tingkatan mufassir dan kriteria yang membedakan siapa yang termasuk dalam golongan ini dan siapa yang tidak. Sayangnya, konsep ini belum mendapat perhatian yang memadai dalam kajian turats, bahkan upaya-upaya kontemporer yang berupaya membahas masalah ini masih terbatas serta sering menghadapi berbagai tantangan. Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan analisis kritis dalam merumuskan konsep mufassir, sehingga dapat diidentifikasi bentuk-bentuk pekerjaan tafsir yang membuat seseorang layak diakui sebagai mufassir. Di sisi lain, akan dibahas pembagian para mufassir dan tingkatan mereka berdasarkan metode kerja yang diterapkan. Penelitian ini berbasis studi pustaka dengan pendekatan analitis kritis. Di antara hasil penelitian ini, terdapat dua poin utama: (1) Ada beragam bentuk amal penafsiran yang masing - masing tidak berada dalam derajat yang sama, yang mencakup berbagai kategori seperti penghasil karya penafsiran (muntij al-tafsir), penjelas perbedaan antara pemahaman yang benar dan yang lemah (muharrir al-tafsir), pengumpul materi tafsir (jami’ li al-tafsir), peringkas karya tafsir (mukhtashir al-tafsir), penjelas karya tafsir (syarih li al-tafsir), pengajar tafsir (muallim al-tafsir), dan penyampai tafsir (nâqil li al-Tafsir); (2) Istilah mufassir memiliki banyak ruang untuk toleransi dalam penggunaannya, dimana mufassir dapat dikategorikan dalam dua kelompok secara umum, yaitu mufassir praktis dan mufassir partisipatif.
Title: Kajian Kritis terhadap Rumusan Konsep Mufassir: Perspektif Ushul Tafsir
Description:
In the study of ushûl al-tafsir, among the most important things in discussing the basics of interpretation is establishing the concept of mufassir.
This is because without understanding this issue, it will greatly affect the understanding of the character of the person doing the interpretation, as well as their criteria and unique characteristics of their work.
In the past, studies on the levels of commentators, known as Thabaqât al-Mufassirin, were widely discussed to determine the levels of commentators and the criteria that distinguish who belongs to this group and who does not.
Unfortunately, this concept has not received adequate attention in the study of turath, and even contemporary efforts to address this issue are still limited and often face various challenges.
This paper aims to present a critical analysis in formulating the concept of a commentator, so that the forms of commentary work that make someone worthy of being recognized as a commentator can be identified.
On the other hand, the division of commentators and their levels based on the working methods they applied will be discussed.
This research is based on a literature study with a critical analytical approach.
Among the findings of this research, there are two main points: (1) There are diverse forms of interpretation work, each of which is not of equal degree, encompassing various categories such as the producer of interpretive works (muntij al-tafsir), the editor (muharrir al-tafsir), the collector (jami’ li al-tafsir), the summarizer (mukhtashir al-tafsir), the explainer (syârih li al-tafsir), the teacher of tafsir (muallim al-tafsir), and the transmitter of tafsir (nâqil li al-Tafsir); (2) The term "mufassir" has a wide range of tolerance in its usage, where mufassir can be generally categorized into two groups: practical and participatory mufassir.
Abstrak: Dalam kajian Ushul tafsir diantara hal yang paling utama dalam pembahasan dasar penafsiran adalah menetapkan konsep mufassir.
Hal ini dikarenakan tanpa memahami isu ini akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman mengenai karakter orang yang melakukan tafsir serta kriteria dan ciri khas pekerjaan mereka.
Di masa lalu kajian mengenai tingkatan para mufassir yang dikenal dengan sebutan Thabaqât al-Mufassirin banyak dibahas dengan tujuan untuk menentukan tingkatan mufassir dan kriteria yang membedakan siapa yang termasuk dalam golongan ini dan siapa yang tidak.
Sayangnya, konsep ini belum mendapat perhatian yang memadai dalam kajian turats, bahkan upaya-upaya kontemporer yang berupaya membahas masalah ini masih terbatas serta sering menghadapi berbagai tantangan.
Tulisan ini bertujuan untuk mengemukakan analisis kritis dalam merumuskan konsep mufassir, sehingga dapat diidentifikasi bentuk-bentuk pekerjaan tafsir yang membuat seseorang layak diakui sebagai mufassir.
Di sisi lain, akan dibahas pembagian para mufassir dan tingkatan mereka berdasarkan metode kerja yang diterapkan.
Penelitian ini berbasis studi pustaka dengan pendekatan analitis kritis.
Di antara hasil penelitian ini, terdapat dua poin utama: (1) Ada beragam bentuk amal penafsiran yang masing - masing tidak berada dalam derajat yang sama, yang mencakup berbagai kategori seperti penghasil karya penafsiran (muntij al-tafsir), penjelas perbedaan antara pemahaman yang benar dan yang lemah (muharrir al-tafsir), pengumpul materi tafsir (jami’ li al-tafsir), peringkas karya tafsir (mukhtashir al-tafsir), penjelas karya tafsir (syarih li al-tafsir), pengajar tafsir (muallim al-tafsir), dan penyampai tafsir (nâqil li al-Tafsir); (2) Istilah mufassir memiliki banyak ruang untuk toleransi dalam penggunaannya, dimana mufassir dapat dikategorikan dalam dua kelompok secara umum, yaitu mufassir praktis dan mufassir partisipatif.

Related Results

Formulating The Concept of Mufassir
Formulating The Concept of Mufassir
Establishing the concept of a mufassir is an important issue that greatly influences the understanding of the character of those who perform tafsir as well as the criteria and dist...
Strategi Pemanfatan Ushul Fiqih dalam Menafsirkan Al-Qur’an
Strategi Pemanfatan Ushul Fiqih dalam Menafsirkan Al-Qur’an
Penafsiran Al-Qur’an merupakan aktivitas ilmiah yang membutuhkan metodologi yang sistematis untuk memastikan makna yang dihasilkan selaras dengan prinsip-prinsip syariat. Ushul Fiq...
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
STUDI KRITIS TAFSIR AL-MANAR KARYA MUHAMMAD ABBDUH DAN RASYID RIDLA
Al-Qur’an, dalam tradisi pemikiran Islam, telah melahirkan sederetan teks turunan yang demikian luas dan mengagumkan yang disebut Tafsir. Tafsir al-Qur’an adalah penjelasan tentang...
Pembelajaran Tafsir Di Dayah Ummul Ayman Samalanga
Pembelajaran Tafsir Di Dayah Ummul Ayman Samalanga
Dayah Ummul Ayman is one of the largest dayah in Aceh. The teaching of tafsir in this dayah is carried out through dayah curriculum and adapted to the abilities of students. Standa...
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
SEJARAH PERKEMBANGAN TAFSIR
AbstrakKegiatan tafsir Al-Qu’ran telah dimulai sejak masa Nabi Muhammad Saw dan terus mengalami perkembangan dari masa ke masa, yaitu periode Nabi Muhammad Saw dan sahabatnya, peri...

Back to Top