Javascript must be enabled to continue!
Membincang Persepsi Keterpinggiran Perempuan
View through CrossRef
In social context, the common reality indicates that women becoming victim of men’s suppression. In modern terminology, the suppression is called “misogyny” meaning direct or indirect suppression on women whether in a rude or soft manner. The suppression itself occurs since men (including Moslems) do not have gender awareness and sensitivity. The awareness on women inequality has been detected since the presence of gender analysis in sociology. This paper focuses on the perception of women marginality in terms of the anatomy, theological vision, and historical experience. The perception of marginality does not immediately judge on the superiority of men towards women and the marginality of women. This perception appears since the different divison of role between men and women has become an important part of human civilization dynamics. The perception on women marginality is then irrelevant correlated to the guidance applied by the Prophet Muhammad saw that gave the same chance among men and women. For this reason, the concept of equality between men and women has a significant root and foundation in religious texts.[Realitas yang berlangsung di masyarakat pada umumnya menyebutkan kaum perempuan sebagai korban penindasan oleh kaum laki-laki. Praktik penindasan dalam istilah modern disebut misogyny, yang berarti tindakan penindasan terhadap kaum perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kasar maupun halus. Terjadinya penindasan tersebut disebabkan mereka (termasuk di dalamnya umat Islam) belum memiliki kesadaran dan sensitivitas jender yang utuh. Kesadaran tentang adanya ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan baru dirasakan setelah alat analisis jender dalam ilmu-ilmu sosial ditemukan. Tulisan ini mencoba membincang persepsi keterpinggiran perempuan dilihat dari sisi anatomi, visi teologis, hingga pengalaman kesejarahan. Dari hasil kajian ditemukan bahwa persepsi keterpinggiran perempuan tidak menjustifikasi superioritas laki-laki terhadap perempuan, dan apalagi memarginalkannya. Ini lantaran pembagian peran yang berbeda antara keduanya menjadi bagian penting dalam dinamika peradaban manusia. Persepsi keterpinggiran perempuan kemudian menjadi terbantahkan manakala dihadapkan kepada regulasi yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw yang memberi ruang yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan. Pada aras inilah konsep kesetaraan kaum perempuan memiliki akar dan landasannya yang signifikan dalam teks- teks keagamaan.]
Title: Membincang Persepsi Keterpinggiran Perempuan
Description:
In social context, the common reality indicates that women becoming victim of men’s suppression.
In modern terminology, the suppression is called “misogyny” meaning direct or indirect suppression on women whether in a rude or soft manner.
The suppression itself occurs since men (including Moslems) do not have gender awareness and sensitivity.
The awareness on women inequality has been detected since the presence of gender analysis in sociology.
This paper focuses on the perception of women marginality in terms of the anatomy, theological vision, and historical experience.
The perception of marginality does not immediately judge on the superiority of men towards women and the marginality of women.
This perception appears since the different divison of role between men and women has become an important part of human civilization dynamics.
The perception on women marginality is then irrelevant correlated to the guidance applied by the Prophet Muhammad saw that gave the same chance among men and women.
For this reason, the concept of equality between men and women has a significant root and foundation in religious texts.
[Realitas yang berlangsung di masyarakat pada umumnya menyebutkan kaum perempuan sebagai korban penindasan oleh kaum laki-laki.
Praktik penindasan dalam istilah modern disebut misogyny, yang berarti tindakan penindasan terhadap kaum perempuan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan kasar maupun halus.
Terjadinya penindasan tersebut disebabkan mereka (termasuk di dalamnya umat Islam) belum memiliki kesadaran dan sensitivitas jender yang utuh.
Kesadaran tentang adanya ketidakadilan yang menimpa kaum perempuan baru dirasakan setelah alat analisis jender dalam ilmu-ilmu sosial ditemukan.
Tulisan ini mencoba membincang persepsi keterpinggiran perempuan dilihat dari sisi anatomi, visi teologis, hingga pengalaman kesejarahan.
Dari hasil kajian ditemukan bahwa persepsi keterpinggiran perempuan tidak menjustifikasi superioritas laki-laki terhadap perempuan, dan apalagi memarginalkannya.
Ini lantaran pembagian peran yang berbeda antara keduanya menjadi bagian penting dalam dinamika peradaban manusia.
Persepsi keterpinggiran perempuan kemudian menjadi terbantahkan manakala dihadapkan kepada regulasi yang diterapkan oleh Nabi Muhammad Saw yang memberi ruang yang sama antara kaum laki-laki dan perempuan.
Pada aras inilah konsep kesetaraan kaum perempuan memiliki akar dan landasannya yang signifikan dalam teks- teks keagamaan.
].
Related Results
Peran Perempuan dalam Organisasi Aisyiyah
Peran Perempuan dalam Organisasi Aisyiyah
Peran perempuan adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi sosial yang diberikan kepada perempuan. Peran adalah yang harus dilakukan perempuan dalam suatu sit...
ASPIRASI PEREMPUAN DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERIODE 2014-2019 (Studi Pada Kantor DPRD Sulawesi Tenggara)
ASPIRASI PEREMPUAN DALAM PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PERIODE 2014-2019 (Studi Pada Kantor DPRD Sulawesi Tenggara)
Abstrak: Tujuan penelitian ini: (1) untuk mengetahui aspirasi perempuan dalam pembentukan peraturan daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara, (2)untuk mengetahui hambatan-hambatan apa ...
KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH
KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH
Peran perempuan Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai manusia yang hidup dalam situasi dramatis. Disatu sisi perempuan Indonesia dituntut untuk berperan dalam semua sektor, ...
MITOS TOKOH PEREMPUAN LAKON ABDULMULUK JAUHARI TEATER DULMULUK TUNAS HARAPAN
MITOS TOKOH PEREMPUAN LAKON ABDULMULUK JAUHARI TEATER DULMULUK TUNAS HARAPAN
<p>Penelitian berjudul “Mitos Tokoh Perempuan Lakon Abdulmuluk Jauhari Teater Dulmuluk Tunas Harapan” ini menganalisis tentang tokoh perempuan yang dimainkan oleh aktor laki-...
Woman’s Potrayal In Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam Feminist Perspective
Woman’s Potrayal In Perempuan Yang Menangis Kepada Bulan Hitam Feminist Perspective
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguak bagaimana perempuan digambarkan sebagai mahluk yang inferior tanpa kuasa jika tidak ada perlindungan lelaki. Perempuan Yang Menangis...
Persepsi Guru dan Siswa tentang Iklim Sekolah di Madrasah Tsanawiyah
Persepsi Guru dan Siswa tentang Iklim Sekolah di Madrasah Tsanawiyah
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai persepsi guru dan siswa tentang; dukungan kepada siswa, keakraban, partisipasi siswa, inovasi, kelengkapan sumber, dan...
Citra Perempuan dalam Novel Perempuan-Perempuan Langit Karya Dean Joe Kalalo
Citra Perempuan dalam Novel Perempuan-Perempuan Langit Karya Dean Joe Kalalo
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan unsur citra perempuan dalam novel Perempuan-Perempuan Langit karya Dean Joe Kalalo. Kritik sastra feminis perspektif Ruthven menjadi ...
CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL LA BARKA KARYA NH. DINI DAN KIM JI-YEONG LAHIR TAHUN 1982 KARYA CHO NAM JOO (KAJIAN SASTRA BANDINGAN)
CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL LA BARKA KARYA NH. DINI DAN KIM JI-YEONG LAHIR TAHUN 1982 KARYA CHO NAM JOO (KAJIAN SASTRA BANDINGAN)
Problematika mengenai stereotip perempuan tidak sedikit dimanfaatkan oleh pengarang dalam membangun struktur cerita. Citra perempuan dalam kajian sastra bandingan dalam novel La Ba...

