Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

EVALUASI PERSEBARAN LOKASI HALTE BRT KORIDOR MANGKANG-PENGGARON KOTA SEMARANG

View through CrossRef
Permasalahan kemacetan di Kota Semarang sebagian besar diakibatkan oleh banyaknya kendaraan pribadi yang turun ke jalan. Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi dari tahun 2005-2009 mengalami peningkatan sebesar 43% (<a title="Badan Pusat Statistik, 2009 #150" href="file:///C:/Users/JPK/Google%20Drive/JPK%20Vol%202%20No%201%20Agustus%202014/05.mareno.doc#_ENREF_1">Badan Pusat Statistik, 2009</a>). Peningkatan jumlah kendaraan pribadi di Kota Semarang disebabkan semakin mudahnya mendapatkan kendaraan pribadi, baik lewat pembelian secara tunai atau kredit (mengangsur). Peningkatan tersebut tidak didukung dengan kapasitas jalan khususnya dari sisi lebar dan kuantitasnya. Akibatnya jalan-jalan di kota menjadi macet. Upaya penyelesaian permasalahan kemacetan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang adalah pengadaan program angkutan umum massal, yaitu Bus Rapid Transit (BRT). BRT diharapkan dapat menciptakan tatanan transportasi yang lebih madani di Kota Semarang, sekaligus mampu menjawab kebutuhan pelayanan angkutan umum yang handal. Pengoperasian BRT diperlukan adanya fasilitas penunjang, salah satunya adalah halte. Penentuan lokasi dan jumlah halte memiliki peran yang penting dalam penggunaan moda BRT. Pembangunan halte yang tidak baik akan mengakibatkan bertambahnya permasalahan transportasi, karena banyak masyarakat yang seharusnya menjadi target pengguna BRT menjadi enggan untuk menggunakan moda ini. Keengganan tersebut dikarenakan masyarakat kesulitan saat akan memanfaatkan fasilitas yang ada. Hal ini dapat terlihat dari sisi teknis, seperti tidak efektifnya angkutan pengumpan (feeder), frekuensi tunggu BRT belum terjadwal. dan jarak antar halte yang masih berjauhan. Kenyataannya, pembangunan halte satu dan lainnya tidak berdasarkan identifikasi titik-titik konsentrasi calon penumpang, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan. Seharusnya rapat renggangnya jarak halte BRT ditentukan sesuai kebutuhan calon penumpang, bukannya diatur dalam jarak tertentu. Untuk itu, dilakukanlah penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi persebaran lokasi halte BRT Koridor Mangkang-Penggaron Kota Semarang. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan distribusi frekuensi. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara dan kuesioner. Tahapan analisis yang diterapkan dalam penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi karakteristik fisik lokasi halte BRT dan lokasi bangkitan pada lokasi halte BRT. Setelah itu, melakukan analisis persebaran lokasi halte BRT dengan melihat kriteria-kriteria yang digunakan dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi berdasarkan hasil analisis. Berdasarkan hasil pembobotan dengan menggunakan aturan H.A Sturgess, maka didapatkan bahwa halte Simpang Lima, Balaikota, dan SMA 5 adalah persebaran lokasi halte BRT yang paling sesuai. Sedangkan halte Mullo, Gramedia, Pasar Bulu, dan ADA Pasar Bulu sudah sesuai serta halte RRI-SPBU dan Pandanaran masih kurang sesuai. Jika dilihat berdasarkan kriteria persebaran lokasi halte, maka kriteria yang sudah baik adalah kriteria pergantian moda serta keamanan dan keselamatan. Kriteria yang sudah cukup baik adalah kemudahan menggunakan halte BRT, dekat dengan pusat kegiatan, letak halte, dan waktu tempuh menuju halte. Sedangkan kriteria yang masih kurang adalah jarak antar halte dan dekat dengan jalur dan fasilitas pejalan kaki. Secara keseluruhan persebaran lokasi halte BRT sudah cukup baik. Kriteria yang dinilai cukup baik mempunyai bobot tertinggi dengan total 906 (49,81%). Kriteria persebaran lokasi halte BRT yang dinilai baik memiliki bobot 516 (28,37%), sedangkan yang termasuk dalam kriteria kurang mempunyai nilai 397 (21,83%). Berdasarkan hasil evaluasi, maka penentuan lokasi halte BRT yang menurut penilaian responden masih kurang disebabkan tidak diperhatikannya kriteria jarak antar halte, fasilitas pejalan kaki, dan peletakan halte dengan pusat aktivitas. Oleh karena itu, perlu penambahan jumlah halte pada daerah yang memiliki potensi untuk membangkitkan jumlah penumpang yang cukup tinggi. Lokasi-lokasi tersebut antara lain sebelum perempatan bangkong jalan A. Yani, depan Lawang Sewu, depan Museum Mandala bakti dan depan Carrefour Pemuda.
Institute of Research and Community Services Diponegoro University (LPPM UNDIP)
Title: EVALUASI PERSEBARAN LOKASI HALTE BRT KORIDOR MANGKANG-PENGGARON KOTA SEMARANG
Description:
Permasalahan kemacetan di Kota Semarang sebagian besar diakibatkan oleh banyaknya kendaraan pribadi yang turun ke jalan.
Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi dari tahun 2005-2009 mengalami peningkatan sebesar 43% (<a title="Badan Pusat Statistik, 2009 #150" href="file:///C:/Users/JPK/Google%20Drive/JPK%20Vol%202%20No%201%20Agustus%202014/05.
mareno.
doc#_ENREF_1">Badan Pusat Statistik, 2009</a>).
Peningkatan jumlah kendaraan pribadi di Kota Semarang disebabkan semakin mudahnya mendapatkan kendaraan pribadi, baik lewat pembelian secara tunai atau kredit (mengangsur).
Peningkatan tersebut tidak didukung dengan kapasitas jalan khususnya dari sisi lebar dan kuantitasnya.
Akibatnya jalan-jalan di kota menjadi macet.
Upaya penyelesaian permasalahan kemacetan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang adalah pengadaan program angkutan umum massal, yaitu Bus Rapid Transit (BRT).
BRT diharapkan dapat menciptakan tatanan transportasi yang lebih madani di Kota Semarang, sekaligus mampu menjawab kebutuhan pelayanan angkutan umum yang handal.
Pengoperasian BRT diperlukan adanya fasilitas penunjang, salah satunya adalah halte.
Penentuan lokasi dan jumlah halte memiliki peran yang penting dalam penggunaan moda BRT.
Pembangunan halte yang tidak baik akan mengakibatkan bertambahnya permasalahan transportasi, karena banyak masyarakat yang seharusnya menjadi target pengguna BRT menjadi enggan untuk menggunakan moda ini.
Keengganan tersebut dikarenakan masyarakat kesulitan saat akan memanfaatkan fasilitas yang ada.
Hal ini dapat terlihat dari sisi teknis, seperti tidak efektifnya angkutan pengumpan (feeder), frekuensi tunggu BRT belum terjadwal.
dan jarak antar halte yang masih berjauhan.
Kenyataannya, pembangunan halte satu dan lainnya tidak berdasarkan identifikasi titik-titik konsentrasi calon penumpang, seperti perkantoran dan pusat perbelanjaan.
Seharusnya rapat renggangnya jarak halte BRT ditentukan sesuai kebutuhan calon penumpang, bukannya diatur dalam jarak tertentu.
Untuk itu, dilakukanlah penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi persebaran lokasi halte BRT Koridor Mangkang-Penggaron Kota Semarang.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif.
Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif dan distribusi frekuensi.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan berupa wawancara dan kuesioner.
Tahapan analisis yang diterapkan dalam penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi karakteristik fisik lokasi halte BRT dan lokasi bangkitan pada lokasi halte BRT.
Setelah itu, melakukan analisis persebaran lokasi halte BRT dengan melihat kriteria-kriteria yang digunakan dan yang terakhir adalah melakukan evaluasi berdasarkan hasil analisis.
Berdasarkan hasil pembobotan dengan menggunakan aturan H.
A Sturgess, maka didapatkan bahwa halte Simpang Lima, Balaikota, dan SMA 5 adalah persebaran lokasi halte BRT yang paling sesuai.
Sedangkan halte Mullo, Gramedia, Pasar Bulu, dan ADA Pasar Bulu sudah sesuai serta halte RRI-SPBU dan Pandanaran masih kurang sesuai.
Jika dilihat berdasarkan kriteria persebaran lokasi halte, maka kriteria yang sudah baik adalah kriteria pergantian moda serta keamanan dan keselamatan.
Kriteria yang sudah cukup baik adalah kemudahan menggunakan halte BRT, dekat dengan pusat kegiatan, letak halte, dan waktu tempuh menuju halte.
Sedangkan kriteria yang masih kurang adalah jarak antar halte dan dekat dengan jalur dan fasilitas pejalan kaki.
Secara keseluruhan persebaran lokasi halte BRT sudah cukup baik.
Kriteria yang dinilai cukup baik mempunyai bobot tertinggi dengan total 906 (49,81%).
Kriteria persebaran lokasi halte BRT yang dinilai baik memiliki bobot 516 (28,37%), sedangkan yang termasuk dalam kriteria kurang mempunyai nilai 397 (21,83%).
Berdasarkan hasil evaluasi, maka penentuan lokasi halte BRT yang menurut penilaian responden masih kurang disebabkan tidak diperhatikannya kriteria jarak antar halte, fasilitas pejalan kaki, dan peletakan halte dengan pusat aktivitas.
Oleh karena itu, perlu penambahan jumlah halte pada daerah yang memiliki potensi untuk membangkitkan jumlah penumpang yang cukup tinggi.
Lokasi-lokasi tersebut antara lain sebelum perempatan bangkong jalan A.
Yani, depan Lawang Sewu, depan Museum Mandala bakti dan depan Carrefour Pemuda.

Related Results

Analisis Jaringan 4G untuk Aplikasi Smart Ambulance
Analisis Jaringan 4G untuk Aplikasi Smart Ambulance
Intelligent Transport System (ITS) is an intelligent traffic system used for traffic management and engineering. The ITS network uses inter-vehicle telecommunication technology. Th...
Analisis Kelengkapan Utilitas Halte Transmetro Pekanbaru Jalan Pasir Putih dan Jalan Pandau Permai
Analisis Kelengkapan Utilitas Halte Transmetro Pekanbaru Jalan Pasir Putih dan Jalan Pandau Permai
Trans Metro Pekanbaru sebagai transportasi umum massal yang menggunakan bus sebagai transportasi pilihan bagi masyarakat Pekanbaru, pembangunan halte sebagai tempat pemberhentian u...
Performance Evaluation of BRT Standard in Decision Support System for Integrated Transportation Policy
Performance Evaluation of BRT Standard in Decision Support System for Integrated Transportation Policy
Increased urbanization implicated in the form of increased vehicles on roads which burdened limited resources and caused environmental deterioration. To reduce these effects, a Bus...
Koridor Karangwangi Sebagai ‘Main Street’ Kota Cirebon
Koridor Karangwangi Sebagai ‘Main Street’ Kota Cirebon
AbstrakKoridor Karangwangi adalah salah satu Jalan protokol di kota Cirebon,yang merupakan gabungan dari 2(dua) ruas Jalan , yaitu Jalan Karanggetas dan Jalan Siliwangi. Koridor Ka...
ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OBYEK WISATA TAMAN WISATA MARGASATWA MANGKANG SEMARANG
ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN OBYEK WISATA TAMAN WISATA MARGASATWA MANGKANG SEMARANG
UPTD Taman Margasatwa formed based on the mayor 68 Semarangnumber of 2008 , instability visitors is a phenomenon is interesting to checkmanagement has be done by the city Semarang ...
Determination of the most appropriate bus rapid transit system for the eThekwini Municipal Area
Determination of the most appropriate bus rapid transit system for the eThekwini Municipal Area
Invariably, a high percentage of the population of South Africa depends on public transport. In order to continue to satisfy commuters in terms of comfort, travel time, reliability...
ELEMEN VEGETASI DALAM PENATAAN RUANG KOTA PADA KORIDOR JALAN JAMIN GINTING BERASTAGI
ELEMEN VEGETASI DALAM PENATAAN RUANG KOTA PADA KORIDOR JALAN JAMIN GINTING BERASTAGI
ABSTRAK Representasi suatu ruang kota dapat diidentifikasi melalui aspek estetika lingkungan. Salah satu unsur utama lingkungan adalah vegetasi. Vegetasi berperan sebagai ele...

Back to Top