Javascript must be enabled to continue!
PERFORMATIVITAS QUEER DALAM NOVEL CALABAI KARYA PEPI AL-BAYQUNIE (KEBERAGAMAN GENDER MASYARAKAT BUGIS DALAM KARYA SASTRA)
View through CrossRef
Karya sastra sebagai tiruan realitas kehidupan manusia terepresentasi dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie. Novel ini berlatar belakang kehidupan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan. Penelitian ini membahas tentang performativitas queer dalam novel Calabai melalui queer theory Judith Butler.Menurut Butler, performativitas adalah kondisi alamiah bagi manusia dalam menampilkan tubuhnya (fisik). Bahasan mengenai jenis kelamin (sex), gender, dan orientasi seksual adalah konstruksi sosial yang dapat bersifat cair, tidak alamiah, dan labil.Performativitas queer dalam narasi pengarang novel Calabai ditandai sebagai penampilan yang alamiah dan ditampilkan berulang-ulang oleh tokoh-tokoh cerita yang dianggap queer, yaitu calabai dan bissu. Bissu dikonstruksi oleh budaya sebagai gender ”bukan gender”dalam lingkungan sosialnya. Melalui narasi novel ini, masyarakat Bugis memiliki dan mengakui adanya gender kelima (bissu) dalam kebudayaan mereka. Narasi dalam novel Calabai mengungkapkan penampilan alamiah bissu yang terus diulang melalui diskursif masyarakat sekian lama, sehingga bissu terkonstruksi dalam kebudayaan Bugis sebagai gender queer.
Literary works is an imitation of the reality of human life is represented in Calabai by Pepi Al-Bayqunie. This novel takes the setting of Buginese community lifein South Sulawesi. This research discusses the queer performativity in novel Calabai through queer theory from Judith Butler. According to Butler, performativity is a natural condition for man in displaying his (physical) body. Discussion about sex, gender, and sexual orientation is a social construct that can be fluid, unnatural, and unstable. Performativity queer in Calabai's narratives is characterized as a natural appearance and repeatedly displayed by the characters of the story considered queer, calabai and bissu. Bissu was constructed by culture as gender "not gender" in its social environment. Through its narratives, Buginese society owns and recognizes the existence bissu as the fifth genderin their culture. Its narratives reveal the natural appearance of bissu which has been repeated over the discursive society for so long that bissu was constructed in Buginese culture as a gender queer.
Title: PERFORMATIVITAS QUEER DALAM NOVEL CALABAI KARYA PEPI AL-BAYQUNIE (KEBERAGAMAN GENDER MASYARAKAT BUGIS DALAM KARYA SASTRA)
Description:
Karya sastra sebagai tiruan realitas kehidupan manusia terepresentasi dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie.
Novel ini berlatar belakang kehidupan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan.
Penelitian ini membahas tentang performativitas queer dalam novel Calabai melalui queer theory Judith Butler.
Menurut Butler, performativitas adalah kondisi alamiah bagi manusia dalam menampilkan tubuhnya (fisik).
Bahasan mengenai jenis kelamin (sex), gender, dan orientasi seksual adalah konstruksi sosial yang dapat bersifat cair, tidak alamiah, dan labil.
Performativitas queer dalam narasi pengarang novel Calabai ditandai sebagai penampilan yang alamiah dan ditampilkan berulang-ulang oleh tokoh-tokoh cerita yang dianggap queer, yaitu calabai dan bissu.
Bissu dikonstruksi oleh budaya sebagai gender ”bukan gender”dalam lingkungan sosialnya.
Melalui narasi novel ini, masyarakat Bugis memiliki dan mengakui adanya gender kelima (bissu) dalam kebudayaan mereka.
Narasi dalam novel Calabai mengungkapkan penampilan alamiah bissu yang terus diulang melalui diskursif masyarakat sekian lama, sehingga bissu terkonstruksi dalam kebudayaan Bugis sebagai gender queer.
Literary works is an imitation of the reality of human life is represented in Calabai by Pepi Al-Bayqunie.
This novel takes the setting of Buginese community lifein South Sulawesi.
This research discusses the queer performativity in novel Calabai through queer theory from Judith Butler.
According to Butler, performativity is a natural condition for man in displaying his (physical) body.
Discussion about sex, gender, and sexual orientation is a social construct that can be fluid, unnatural, and unstable.
Performativity queer in Calabai's narratives is characterized as a natural appearance and repeatedly displayed by the characters of the story considered queer, calabai and bissu.
Bissu was constructed by culture as gender "not gender" in its social environment.
Through its narratives, Buginese society owns and recognizes the existence bissu as the fifth genderin their culture.
Its narratives reveal the natural appearance of bissu which has been repeated over the discursive society for so long that bissu was constructed in Buginese culture as a gender queer.
Related Results
TINDAK TUTUR ASERTIF DALAM NOVEL CALABAI KARYA PEPI AL-BAYQUNIE
TINDAK TUTUR ASERTIF DALAM NOVEL CALABAI KARYA PEPI AL-BAYQUNIE
Penelitian ini bertujuan memetakan wujud tindak tutur asertif yang digunakan dalam novel Calabai karya Pepi Al-Bayqunie. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif y...
SEJARAH BUDAYA MASYARAKAT BUGIS DI KELURAHAN BOEPINANG KECAMATAN POLEANG KABUPATEN BOMBANA
SEJARAH BUDAYA MASYARAKAT BUGIS DI KELURAHAN BOEPINANG KECAMATAN POLEANG KABUPATEN BOMBANA
ABSTRAK: Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) Untuk menjelaskan bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana, (2) Un...
SEJARAH MASYARAKAT NELAYAN SUKU BUGIS DI DESA POLEWALI, KECAMATAN LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN (1950-2017)
SEJARAH MASYARAKAT NELAYAN SUKU BUGIS DI DESA POLEWALI, KECAMATAN LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN (1950-2017)
ABSTRAK: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah kedatangan orang Bugis di Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan? (2) Bagaimana kond...
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Rokhmawan,Tristan. 2011. Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas...
Queer Pedagogy
Queer Pedagogy
Queer pedagogy is an approach to educational praxis and curricula emerging in the late 20th century, drawing from the theoretical traditions of poststructuralism, queer theory, and...
Pelatihan Kemampuan Berbahasa Bugis di Kalangan Warga Malaysia Keturunan Bugis Di Johor- Malaysia
Pelatihan Kemampuan Berbahasa Bugis di Kalangan Warga Malaysia Keturunan Bugis Di Johor- Malaysia
Pelatihan ini bertujuan untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan berbahasa Bugis di kalangan masyarakat Malaysia keturunan Bugis, khususnya yang berdomisili di Johor. Kegiata...
Performativitas Kebahasaan dan Perilaku Perempuan dalam Teks Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa
Performativitas Kebahasaan dan Perilaku Perempuan dalam Teks Film Tuhan Izinkan Aku Berdosa
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi performativitas kebahasaan dan perilaku perempuan serta pola-pola performativitas tersebut dalam teks film Tuhan Iz...
Rumah Bugis sebagai Bentuk Pemertahanan Budaya Masyarakat Bugis di Desa Kemojan Karimunjawa
Rumah Bugis sebagai Bentuk Pemertahanan Budaya Masyarakat Bugis di Desa Kemojan Karimunjawa
This paper examines the Bugis house in the Kemojan Village of Karimunjawa as a form of cultural retention of the Bugis people. The efforts of the Bugis community of Kemojan Karimun...

