Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Sinkretisme dalam Serat Centhini Jilid I Karya Sri Susuhanan Pakubuwana V

View through CrossRef
Masyarakat Jawa memiliki budaya yang kuat, sehingga berpengaruh terhadap eksistensi agama yang dipeluk masyarakatnya, termasuk Islam. Agama Islam yang diperagakan masyarakat Jawa berbeda dari negara asalnya (Arab), karena pelaksanaan Islam di Jawa dipadukan dengan budaya (Hindhu-Budha) dan tradisi yang sudah ada turun temurun. Sebagian besar masyarakat Jawa pemeluk Islam, hingga saat ini masih melakukan tradisi nyekar, nyadran, selamatan, sedekah bumi, larung sesaji, dan sebagainya. Perayaan tradisi tersebut dilaksanakan berdasarkan perpaduan antara budaya Jawa dengan ajaran Islam. Maksudnya, ritual tradisi menggunakan budaya Jawa, sedangkan doa-doa yang digunakan menggunakan tata cara Islam. Hal itulah yang dinamakan sinkretisme. Sinkretisme merupakan aliran perpaduan dari beberapa paham untuk mencari keserasian dan keseimbangan. Sinkretisme antara budaya Jawa dengan Islam tergambar jelas dalam Serat Centini yang disusun Sri Susuhunan Pakubuwana V. Dalam Serat Centini Jilid I diceritakan terjadinya kontak dari berbagai budaya. Akibatnya, menghasilkan perpaduan antar budaya yang berbeda. Selain itu, Serat Centhini Jilid I juga menceritakan tokoh-tokoh Islam menggunakan metode kultural untuk berupaya mencari keselarasan (harmonisasi) dengan ajaran-ajaran peninggalan dari khazanah Jawa, yaitu animisme, dinamisme, Budha, dan Hindu. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sinkretisme yang terjadi di Jawa dalam Serat Centhini Jilid I.
Dr. Soetomo University
Title: Sinkretisme dalam Serat Centhini Jilid I Karya Sri Susuhanan Pakubuwana V
Description:
Masyarakat Jawa memiliki budaya yang kuat, sehingga berpengaruh terhadap eksistensi agama yang dipeluk masyarakatnya, termasuk Islam.
Agama Islam yang diperagakan masyarakat Jawa berbeda dari negara asalnya (Arab), karena pelaksanaan Islam di Jawa dipadukan dengan budaya (Hindhu-Budha) dan tradisi yang sudah ada turun temurun.
Sebagian besar masyarakat Jawa pemeluk Islam, hingga saat ini masih melakukan tradisi nyekar, nyadran, selamatan, sedekah bumi, larung sesaji, dan sebagainya.
Perayaan tradisi tersebut dilaksanakan berdasarkan perpaduan antara budaya Jawa dengan ajaran Islam.
Maksudnya, ritual tradisi menggunakan budaya Jawa, sedangkan doa-doa yang digunakan menggunakan tata cara Islam.
Hal itulah yang dinamakan sinkretisme.
Sinkretisme merupakan aliran perpaduan dari beberapa paham untuk mencari keserasian dan keseimbangan.
Sinkretisme antara budaya Jawa dengan Islam tergambar jelas dalam Serat Centini yang disusun Sri Susuhunan Pakubuwana V.
Dalam Serat Centini Jilid I diceritakan terjadinya kontak dari berbagai budaya.
Akibatnya, menghasilkan perpaduan antar budaya yang berbeda.
Selain itu, Serat Centhini Jilid I juga menceritakan tokoh-tokoh Islam menggunakan metode kultural untuk berupaya mencari keselarasan (harmonisasi) dengan ajaran-ajaran peninggalan dari khazanah Jawa, yaitu animisme, dinamisme, Budha, dan Hindu.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sinkretisme yang terjadi di Jawa dalam Serat Centhini Jilid I.

Related Results

Menelusuri Jejak Kuliner Tembayat dalam Serat Centhini
Menelusuri Jejak Kuliner Tembayat dalam Serat Centhini
This study aims to determine the kinds or variety of food that was in Tembayat listed in Serat Centhini. In explaining about the political atmosphere during the manufacture of Sera...
Erotika Syeh Amongraga: Kajian Teologi Mistik dan Seksualitas dalam Serat Centhini
Erotika Syeh Amongraga: Kajian Teologi Mistik dan Seksualitas dalam Serat Centhini
AbstractThis article attempts to explore the eroticism of Syeh Amongraga in Serat Centhini. The author uses Serat Centhini edited by Karkono Partokusumo (1985) and the latest conte...
PERLAWANAN DARI DALAM KRATON: Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Dalam Serat Sruti Jarwa Pada Masa Pakubuwana IX 1865 – 1871
PERLAWANAN DARI DALAM KRATON: Ajaran Kepemimpinan Asthabrata Dalam Serat Sruti Jarwa Pada Masa Pakubuwana IX 1865 – 1871
Studi ini merupakan kajian sejarah karya sastra Jawa yang merekontruksi tentang kepemimpinan Pakubuwana IX 1865-1871. Melalui salah sastra yang berjudul Serat Sruti Jarwa Pakubuwan...
SISTEM KEPENGARANGAN DALAM SERAT-SERAT WULANG PAKUBUWONO IX
SISTEM KEPENGARANGAN DALAM SERAT-SERAT WULANG PAKUBUWONO IX
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan sistem kepengarangan dalam serat-serat wulang Pakubuwono (PB) IX. Data penelitian berupa kata dan kalimat yang menunjukkan sistem kepengara...
Sintesis Biokomposit Resin Epoksi/Serat Ijuk/Serat Kelapa dengan Alkalisasi KOH
Sintesis Biokomposit Resin Epoksi/Serat Ijuk/Serat Kelapa dengan Alkalisasi KOH
Saat ini penggunaan polimer di dunia industri semakin berkembang, salah satunya dengan dibentuk menjadi komposit polimer. Matriks yang dapat digunakan dalam pembuatan komposit sala...
SERAT ALAM SEBAGAI BAHAN KOMPOSIT RAMAH LINGKUNGAN
SERAT ALAM SEBAGAI BAHAN KOMPOSIT RAMAH LINGKUNGAN
Serat dalam material diartikan sebagai penguat dimana serat memiliki ukuran yang kecil namun memiliki fleksibilitas yang baik serta kekuatan dalam pembebanan yang tinggi. Dalam seg...
Karakterisasi Mekanik Komposit Serat Hybrid Serat Lidah Mertua dan Serat Eceng Gondok
Karakterisasi Mekanik Komposit Serat Hybrid Serat Lidah Mertua dan Serat Eceng Gondok
Penggunaan dan pemanfaatan komposit serat alam sebagai pengganti serat sintesis merupakan langkah yang bijak dalam meningkatkan nilai ekonomis serat alam mengingat keterbatasan sum...
Serat Centhini: Ajaran Menjadi Manusia Sejati
Serat Centhini: Ajaran Menjadi Manusia Sejati
Penelitian tentang manusia memang selalu menarik untuk dibahas dan diteliti karena manusia selalu menjadi misteri bagi dirinya sendiri juga bagi orang lain. Manusia pada zaman seka...

Back to Top