Javascript must be enabled to continue!
MORAL BUSHIDO DALAM HAIKU KARYA MASAOKA SHIKI
View through CrossRef
Abstrak Bushido adalah etika moral yang awalnya diterapkan kaum samurai sejak zaman Edo (1603-1868). Terdapat tiga sumber utama dalam aturan moral bushido antara lain ajaran Budha Zen, Shinto, dan Konfusianisme. Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk dalam suatu masyarakat yang telah disepakati secara umum. Moral tidak hanya ditemukan dalam kehidupan nyata, namun juga dalam karya sastra. Salah satu jenisnya adalah haiku. Haiku adalah salah satu jenis puisi Jepang yang terdiri atas 17 suku kata yang dibentuk dari konsep 5-7-5. Masaoka Shiki merupakan salah satu penyair haiku yang terkenal di Jepang. Peneliti menggunakan haiku karya Masaoka Shiki karena pola pemikirannya yang mendapatkan pengaruh ajaran moral Bushido, sehingga sebagai putra seorang bushi, secara tidak langsung, ajaran moral yang diterimanya berpengaruh terhadap pola pemikiran sehari-hari, seperti kebesaran jiwa, kesabaran dan lainnya. Termasuk juga dalam penciptaan karyanya. Fokus permasalahan penelitian ini adalah moral Bushido dalam haiku karya Masaoka Shiki.Peneliti menggunakan teori Nitobe (2008: vii-viii) tentang tujuh nilai moral bushido yaitu, gi ‘kejujuran’, yu ‘keberanian’, jin ‘kebajikan’, rei ‘kesopansantunan’, makoto ‘ketulusan hati’, meiyo ‘kehormatan’ dan chugi ‘kesetiaan’. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber data penelitian ini diambil dari buku yang berjudul Shiki Hyakku karya Toshinori Tsubouchi dan Akio Konishi. Teknik pengumpulan berupa teknik kepustakaan dan untuk menganalisis data digunakan analisis deskriptif. Simpulan penelitian ini adalah ditemukannya empat moral bushido di dalam puisi haiku, yakni moral bushido jin ‘kebajikan’, moral bushido rei ‘kesopansantunan’, moral bushido yu ‘keberanian’ dan moral bushido meiyo ‘kehormatan’.Kata Kunci: Bushido, haiku, Masaoka Shiki, moral
Title: MORAL BUSHIDO DALAM HAIKU KARYA MASAOKA SHIKI
Description:
Abstrak Bushido adalah etika moral yang awalnya diterapkan kaum samurai sejak zaman Edo (1603-1868).
Terdapat tiga sumber utama dalam aturan moral bushido antara lain ajaran Budha Zen, Shinto, dan Konfusianisme.
Moral adalah ajaran tentang baik dan buruk dalam suatu masyarakat yang telah disepakati secara umum.
Moral tidak hanya ditemukan dalam kehidupan nyata, namun juga dalam karya sastra.
Salah satu jenisnya adalah haiku.
Haiku adalah salah satu jenis puisi Jepang yang terdiri atas 17 suku kata yang dibentuk dari konsep 5-7-5.
Masaoka Shiki merupakan salah satu penyair haiku yang terkenal di Jepang.
Peneliti menggunakan haiku karya Masaoka Shiki karena pola pemikirannya yang mendapatkan pengaruh ajaran moral Bushido, sehingga sebagai putra seorang bushi, secara tidak langsung, ajaran moral yang diterimanya berpengaruh terhadap pola pemikiran sehari-hari, seperti kebesaran jiwa, kesabaran dan lainnya.
Termasuk juga dalam penciptaan karyanya.
Fokus permasalahan penelitian ini adalah moral Bushido dalam haiku karya Masaoka Shiki.
Peneliti menggunakan teori Nitobe (2008: vii-viii) tentang tujuh nilai moral bushido yaitu, gi ‘kejujuran’, yu ‘keberanian’, jin ‘kebajikan’, rei ‘kesopansantunan’, makoto ‘ketulusan hati’, meiyo ‘kehormatan’ dan chugi ‘kesetiaan’.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Sumber data penelitian ini diambil dari buku yang berjudul Shiki Hyakku karya Toshinori Tsubouchi dan Akio Konishi.
Teknik pengumpulan berupa teknik kepustakaan dan untuk menganalisis data digunakan analisis deskriptif.
Simpulan penelitian ini adalah ditemukannya empat moral bushido di dalam puisi haiku, yakni moral bushido jin ‘kebajikan’, moral bushido rei ‘kesopansantunan’, moral bushido yu ‘keberanian’ dan moral bushido meiyo ‘kehormatan’.
Kata Kunci: Bushido, haiku, Masaoka Shiki, moral .
Related Results
Meaning's Comparison of Two Autumn Haiku Written by Masaoka Shiki and Takarai Kikaku
Meaning's Comparison of Two Autumn Haiku Written by Masaoka Shiki and Takarai Kikaku
Every country has its own culture. Japan has a close culture of art, both modern and traditional. One of the Japanese arts in literature is poetry. Poetry in Japanese literature is...
MAJAS DALAM HAIKU KARYA MATSUO BASHO
MAJAS DALAM HAIKU KARYA MATSUO BASHO
Abstrak: Tulisan ini memaparkan hasil analisis majas yang terkandung dalam Haiku (puisi Jepang) karya Matsuo Basho dalam buku Basho’s Haiku: Selected Poems of Matsuo Basho. Haiku-h...
NILAI MORAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA
NILAI MORAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA
Abstrak Kata Kunci: Nilai Moral Baik dan Buruk, NovelOrang-Orang Biasa. Nilai-nilai Moral adalah ajaran baik atau buruk perbuatan atau kelakuan, akhlak, kewajiban, budi pekerti...
Pictures of Thailand as reflected in Haiku written by Japanese in Thailand
Pictures of Thailand as reflected in Haiku written by Japanese in Thailand
Japanese people who came to live in Thailand have written Haiku for more than 50 years. Through the Haiku, they describe many impressions of Thailand which reflect specific Japanes...
KIGO DALAM HAIKU KOBAYASHI ISSA DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK
KIGO DALAM HAIKU KOBAYASHI ISSA DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK
Haiku memiliki keunikan makna di dalamnya, bentuknya pendek, tetapi dapat menyatakan makna keseluruhan melalui kigo. Penelitian ini membahas jenis kigo dan makna kigo yang terkandu...
Selected Haiku
Selected Haiku
Mitsuhashi Toshio (1920-2001) joined a haiku group at age fifteen, and his haiku began to be accepted by magazines the following year. He was drawn to the Shinkō Haiku (Newly Risin...
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno
Rokhmawan,Tristan. 2011. Pandangan Dunia Pengarang Terhadap Masyarakat Kota Pasuruan Dalam Novel Membeli Cahaya Bulan Karya Kaji Karno. Skripsi, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas...
Escaping the Shadow
Escaping the Shadow
Photo by Karl Raymund Catabas on Unsplash
The interests of patients at most levels of policymaking are represented by a disconnected patchwork of groups … “After Buddha was dead, ...

