Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TANTRAISME : MENGKONSTRUKSI KESADARAN TRANSENDENTAL MELALUI RITUAL INTIM EROTIS

View through CrossRef
Abstrak Fenomena penyimpangan seksual marak terjadi sebagai bentuk penyempurnaan dari terjadinya berbagai kasus amoral di dunia. Bahkan, fenomena penyimpangan seksual kerap terjadi pada lingkungan atau institusi yang berlabelkan keagamaan. Hal ini terjadi karena pengkultusan istilah tabu dalam seksual yang hingga dewasa ini dipahami oleh umat manusia secara kolektif. Ini menandakan bahwa ada polarisasi pikiran yang terjadi sejak masa lampau, yang membedakan koridor spiritualitas dan seksualitas dalam sekat yang tebal. Dalam hal ini, seksualitas menjadi suatu hal yang bersifat destruktif dan dikonotasikan negatif. Demikian halnya dengan Tantra, yang selalu dikonotasikan negatif karena dalam ajarannya memuat konsep-konsep seksual sebagai salah satu bentuk ritual. Untuk memperoleh data yang bersifat valid dan komprehensif, tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, artinya penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dan mendeskripsikan berbagai data yang diperoleh melalui pengumpulan data yang telah dihimpun, selanjutnya melakukan sintesis data yaitu melalui proses memilah dan memilih berbagai data yang relevan sehingga mampu menghasilkan sintesa penelitian yang akurat. Dalam perkembangannya, Tantra dipandang dalam dua paradigma yang bertentangan, sehingga perlu dikaji dalam dialektika pikiran, karena Tantra merupakan ajaran yang telah mendunia, dan istilah Tantra pun menjadi tidak asing dalam perkembangan manusia secara sosial. Dalam tulisan ini, disajikan pemahaman holistik mengenai Tantra sebagai media konstruksi kesadaran transendental melalui ritual-ritual erotis. Dalam pandangan Tantra, seksualitas menjadi salah satu upaya mencapai kebebasan karena ajaran Tantra tidak saja didefinisikan sebatas aktivitas persetubuhan atau biologis, tetapi terdapat nilai-nilai Ketuhanan di dalamnya. Sebagai bentuk faktual, spiritualitas Tantra adalah tersenyawanya unsur kama petak dan kama bang menjadi Kama Dewa (Ongkara), yang dalam pandangan semiotika dipahami sebagai keadaan Tuhan yang penuh dengan ketenangan serta tanpa keterikatan unsur awidya. Kata Kunci : Tantraisme, Kesadaran, Transendental, Intim Erotis  
Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar
Title: TANTRAISME : MENGKONSTRUKSI KESADARAN TRANSENDENTAL MELALUI RITUAL INTIM EROTIS
Description:
Abstrak Fenomena penyimpangan seksual marak terjadi sebagai bentuk penyempurnaan dari terjadinya berbagai kasus amoral di dunia.
Bahkan, fenomena penyimpangan seksual kerap terjadi pada lingkungan atau institusi yang berlabelkan keagamaan.
Hal ini terjadi karena pengkultusan istilah tabu dalam seksual yang hingga dewasa ini dipahami oleh umat manusia secara kolektif.
Ini menandakan bahwa ada polarisasi pikiran yang terjadi sejak masa lampau, yang membedakan koridor spiritualitas dan seksualitas dalam sekat yang tebal.
Dalam hal ini, seksualitas menjadi suatu hal yang bersifat destruktif dan dikonotasikan negatif.
Demikian halnya dengan Tantra, yang selalu dikonotasikan negatif karena dalam ajarannya memuat konsep-konsep seksual sebagai salah satu bentuk ritual.
Untuk memperoleh data yang bersifat valid dan komprehensif, tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, artinya penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dan mendeskripsikan berbagai data yang diperoleh melalui pengumpulan data yang telah dihimpun, selanjutnya melakukan sintesis data yaitu melalui proses memilah dan memilih berbagai data yang relevan sehingga mampu menghasilkan sintesa penelitian yang akurat.
Dalam perkembangannya, Tantra dipandang dalam dua paradigma yang bertentangan, sehingga perlu dikaji dalam dialektika pikiran, karena Tantra merupakan ajaran yang telah mendunia, dan istilah Tantra pun menjadi tidak asing dalam perkembangan manusia secara sosial.
Dalam tulisan ini, disajikan pemahaman holistik mengenai Tantra sebagai media konstruksi kesadaran transendental melalui ritual-ritual erotis.
Dalam pandangan Tantra, seksualitas menjadi salah satu upaya mencapai kebebasan karena ajaran Tantra tidak saja didefinisikan sebatas aktivitas persetubuhan atau biologis, tetapi terdapat nilai-nilai Ketuhanan di dalamnya.
Sebagai bentuk faktual, spiritualitas Tantra adalah tersenyawanya unsur kama petak dan kama bang menjadi Kama Dewa (Ongkara), yang dalam pandangan semiotika dipahami sebagai keadaan Tuhan yang penuh dengan ketenangan serta tanpa keterikatan unsur awidya.
Kata Kunci : Tantraisme, Kesadaran, Transendental, Intim Erotis  .

Related Results

KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
KOMUNIKASI TRANSENDENTAL NYENUK DALAM UPACARA NGENTEG LINGGIH DI PURA DESA, DESA PELAGA, KECAMATAN PETANG, KABUPATEN BADUNG
ABSTRAK             Komunikasi transendental nyenuk merupakan rangkaian dari upacara ngenteg linggih yang dilaksanakan oleh masyarakat setelah pemabngunan atau mepugaran pura...
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Transformasi Bentuk Simbolik Arsitektur Candi Prambanan
Fenomena Arsitektur Candi Prambanan adalah unik karena memenuhi kriterium dimensi makna transendental sejak awal mula pembangunannya, masa kehidupan, masa kegelapan, penemuan kemba...
The Black Mass as Play: Dennis Wheatley's The Devil Rides Out
The Black Mass as Play: Dennis Wheatley's The Devil Rides Out
Literature—at least serious literature—is something that we work at. This is especially true within the academy. Literature departments are places where workers labour over texts c...
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PENYEBARAN KONTEN INTIM TANPA PERSETUJUAN DI WILAYAH HUKUM POLRES BULELENG
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KORBAN PENYEBARAN KONTEN INTIM TANPA PERSETUJUAN DI WILAYAH HUKUM POLRES BULELENG
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana bentuk perlindungan hukum terhadap korban penyebaran konten intim tanpa persetujuan serta untuk mengetahui faktor-faktor p...
Normatifikasi Nilai Transendental Dalam Pembentukan Hukum Positif di Indonesia: Perspektif Teori Hukum Transendental
Normatifikasi Nilai Transendental Dalam Pembentukan Hukum Positif di Indonesia: Perspektif Teori Hukum Transendental
Perkembangan sistem hukum Indonesia tidak dapat dilepaskan dari refleksi mendalam mengenai sumber dan legitimasi norma, di mana nilai-nilai transendental—yang bersumber pada agama,...
Reduksionisme Eksplanatif untuk Antropologi Transendental Jawadi Amuli
Reduksionisme Eksplanatif untuk Antropologi Transendental Jawadi Amuli
Abstract : This article explains how an explanatory reductionism theory can be applied to the integration of various disciplines in Jawadi Amuli’s transcendent anthropology. Depart...
Practice and Discourse: Ritual Vessels in a Fourth-Century BCE Chinese Tomb
Practice and Discourse: Ritual Vessels in a Fourth-Century BCE Chinese Tomb
Supposedly articulated by Confucius himself (ca. 551–ca. 479 BCE), this tightly knit political rhetoric provides a logical context for understanding the intrinsic relati...
KEMAMPUAN MEMBUKTIKAN MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA
KEMAMPUAN MEMBUKTIKAN MAHASISWA CALON GURU MATEMATIKA
<p class="AfiliasiCxSpFirst" align="left"><strong>Abstrak:</strong></p><p class="AfiliasiCxSpFirst" align="left"><strong></strong>Peneliti...

Back to Top