Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Struktur Dramatik Wayang Kulit Parwa Lakon Angsaliman Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi

View through CrossRef
Tulisan ini mengkaji struktur dramatik Wayang Kulit Parwa lakon Sang Angsaliman oleh dalang I Dewa Made Rai Mesi dari Kabupaten Bangli yang pernah populer pada era tahun 1970 hingga 1980an. Beliau adalah dalang inovatif pada masa itu karena memasukkan unsur bahasa daerah dari berbagai suku di Indonesia sebagai bahan lelucon. Beliau dalam pertunjukannya lebih banyak menampilkan lakon carangan yang salah satunya adalah Sang Angsaliman. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu data yang diperoleh di lapangan baik dari hasil pengamatan pita kaset maupun hasil wawancara diolah dan dianalisis serta disajikan secara formal melalui foto-foto dan secara non formal melalui penjelasan dengan menggunakan kata-kata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dramatik Wayang Parwa lakon Sang Angsaliman oleh dalang Dewa Made Rai Mesi mulai dari: (1) exposisi, yaitu adegan  peparuman atau perbincangan antara Yudistira dan juga Arjuna membicarakan masalah perang Bharatayuddha yang telah berlalu  dan wajib untuk menyucikan semua prajurit yang gugur dalam perang tersebut; (2) komplikasi, yaitu Sang Angsaliman menuju Astinapura dengan segenap rakyatnya yang bertujuan untuk memberikan penghormatan terakhir untuk ayahnya, tetapi setelah sampai terjadilah kesalahpahaman antara Sang Angsaliman dengan Yudistira; (3) klimaks, yaitu Sang Angsaliman memohon bantuan kepada Dewa Brahma dan Dewa Wisnu agar ia dapat menghadapi Hanoman juga Dewa Gana sehingga menjadi sangat kuat, bahkan Hanoman dan Dewa Gana menjadi tidak berdaya menghadapi Sang Angsaliman; dan (4) resolusi, yaitu  adegan Sang Angsaliman yang telah dibantu oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, tetapi  tetap dapat dikalahkan oleh Dewa Bayu. Sang Angsaliman diampuni oleh Dewa Bayu dengan syarat ia tidak boleh lagi mengganggu yadnya para Pandawa.
Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Denpasar
Title: Struktur Dramatik Wayang Kulit Parwa Lakon Angsaliman Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi
Description:
Tulisan ini mengkaji struktur dramatik Wayang Kulit Parwa lakon Sang Angsaliman oleh dalang I Dewa Made Rai Mesi dari Kabupaten Bangli yang pernah populer pada era tahun 1970 hingga 1980an.
Beliau adalah dalang inovatif pada masa itu karena memasukkan unsur bahasa daerah dari berbagai suku di Indonesia sebagai bahan lelucon.
Beliau dalam pertunjukannya lebih banyak menampilkan lakon carangan yang salah satunya adalah Sang Angsaliman.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, yaitu data yang diperoleh di lapangan baik dari hasil pengamatan pita kaset maupun hasil wawancara diolah dan dianalisis serta disajikan secara formal melalui foto-foto dan secara non formal melalui penjelasan dengan menggunakan kata-kata.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur dramatik Wayang Parwa lakon Sang Angsaliman oleh dalang Dewa Made Rai Mesi mulai dari: (1) exposisi, yaitu adegan  peparuman atau perbincangan antara Yudistira dan juga Arjuna membicarakan masalah perang Bharatayuddha yang telah berlalu  dan wajib untuk menyucikan semua prajurit yang gugur dalam perang tersebut; (2) komplikasi, yaitu Sang Angsaliman menuju Astinapura dengan segenap rakyatnya yang bertujuan untuk memberikan penghormatan terakhir untuk ayahnya, tetapi setelah sampai terjadilah kesalahpahaman antara Sang Angsaliman dengan Yudistira; (3) klimaks, yaitu Sang Angsaliman memohon bantuan kepada Dewa Brahma dan Dewa Wisnu agar ia dapat menghadapi Hanoman juga Dewa Gana sehingga menjadi sangat kuat, bahkan Hanoman dan Dewa Gana menjadi tidak berdaya menghadapi Sang Angsaliman; dan (4) resolusi, yaitu  adegan Sang Angsaliman yang telah dibantu oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, tetapi  tetap dapat dikalahkan oleh Dewa Bayu.
Sang Angsaliman diampuni oleh Dewa Bayu dengan syarat ia tidak boleh lagi mengganggu yadnya para Pandawa.

Related Results

Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Visualisasi Wayang Beber Pacitan dalam mendukung dialog tokoh
Abstrak Indonesia merupakan Negara yang mempunyai banyak budaya dan artefak peninggalan nenek moyang salah satu yang mendunia adalah Wayang, Wayang di Indonesia sangat banyak jenis...
STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON DEWA RUCI KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN DRAMA KLASIK SANGGAR TEATER MINI LAKON DEWA RUCI KAJIAN BENTUK DAN FUNGSI
ABSTRAK   Pada dasarnya nilai pendidikan karakter mempunyai tiga bagian yang saling bekaitan, yaitu pengetahuan moral, penghayatan moral dan perilaku moral. Oleh karena...
Struktur Dramatik Pertunjukan Wayang Parwa Lakon Erawan Rabi Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi
Struktur Dramatik Pertunjukan Wayang Parwa Lakon Erawan Rabi Oleh Dalang I Dewa Made Rai Mesi
Penelitian ini adalah sebuah kajian Lakon Irawan Rabi dalam Wayang Kulit Parwa, yang disajikan oleh dalang Rai Mesi. Permasalahan penelitian yang dibahas yaitu mengenai struktur dr...
Lakon Carangan Nurkala Kalidasa Karya R.H Tjetjep Supriadi
Lakon Carangan Nurkala Kalidasa Karya R.H Tjetjep Supriadi
Lakon adalah bagian terpenting dalam pertunjukan wayang golek ataupun pertunjukan lainnya. Hal tersebut di peruntukan untuk mempertegas cerita dalam sebuah pertunjukan. Dalam wayan...
Etika Wayang: Kebijaksanaan Hidup dalam Lakon Kresna Duta Sajian Pakeliran Ki Nartosabdo
Etika Wayang: Kebijaksanaan Hidup dalam Lakon Kresna Duta Sajian Pakeliran Ki Nartosabdo
Etika merupakan sebuah ilmu kritis dan rasional yang mempelajari tingkah laku manusia. Etika selalu berkembang dengan membuka cakrawala dialog melalui gagasan dan pemikiran baru, s...
Makna Ruwatan Wayang Cupak Dalang I Wayan Suaji
Makna Ruwatan Wayang Cupak Dalang I Wayan Suaji
Wayang Cupak termasuk pertunjukan langka di Bali, keberadaannya menambah genre pertunjukan Wayang Kulit Bali yang terus berkembang. Pertunjukan wayang kulit berfungsi sebagai wali,...

Back to Top