Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

PERBANDINGAN PENGENCERAN LARUTAN GIEMSA 3% DAN 5% TERHADAP PEMERIKSAAN MORFOLOGI PLASMODIUM FALCIPARUM

View through CrossRef
Pewarnaan sediaan darah malaria menggunakan cat Giemsa stok yang harus diencerkan terlebih dahulu dengan konsentrasi tertentu agar parasit dalam sel darah merah dapat menerima zat warna Giemsa sehingga memudahkan mengidentifikasih parasit.konsentrasi pengenceran Giemsa untuk pemeriksaan parasit malaria yang di anjurkan oleh Direktur Jendral PP dan PI.Kementrian kesehatan adalah Giemsa dengan konsentrasi 3%,tetapi di lapangan baik puskesmas maupun rumah sakit memiliki pengenceran larutan Giemsa yang berbeda.Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil pewarnaan pada morfologi plasmodium falciparum yang di warnai menggunakan larutan Giemsa 3% dan 5%. Jenis penelitia eksperimen.sampel penelitian yaitu darah positif terinfeksi malaria falciparum.Hasil pewarnaan pada pengenceran Giemsa 3% diperoleh inti dengan kategori baik sebanyak 14%,tidak baik 2% bagian sitoplasma diperoleh hasil kategore baik 10% tidak baik 6% pada titik mourer dengan hasil kategori baik 13% tidak baik 3% pada pewarnaan pengenceran Giemsa 5% diperoleh inti dengan kategori baik 11% tidak baik 7%,pada bagian sitoplasma dengan kategori baik 5% tidak baik 11% pada titik mourer dengan kategori baik 7% dan tidak baik 8%. Hasil yang didapat menggunakan uji chi square sehingga di dapat nilai p=0.003<a= 0.05 artinya nilai p<a menunjukan ada perbedaan morfologi plasmodium falciparum yang di warnai menggunakan pengenceran larutan Giemsa 3% dan 5%.   Kata Kunci : Konsentrasi Giemsa, Morfolofi dan Plasmodium Falciparum
Title: PERBANDINGAN PENGENCERAN LARUTAN GIEMSA 3% DAN 5% TERHADAP PEMERIKSAAN MORFOLOGI PLASMODIUM FALCIPARUM
Description:
Pewarnaan sediaan darah malaria menggunakan cat Giemsa stok yang harus diencerkan terlebih dahulu dengan konsentrasi tertentu agar parasit dalam sel darah merah dapat menerima zat warna Giemsa sehingga memudahkan mengidentifikasih parasit.
konsentrasi pengenceran Giemsa untuk pemeriksaan parasit malaria yang di anjurkan oleh Direktur Jendral PP dan PI.
Kementrian kesehatan adalah Giemsa dengan konsentrasi 3%,tetapi di lapangan baik puskesmas maupun rumah sakit memiliki pengenceran larutan Giemsa yang berbeda.
Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan hasil pewarnaan pada morfologi plasmodium falciparum yang di warnai menggunakan larutan Giemsa 3% dan 5%.
Jenis penelitia eksperimen.
sampel penelitian yaitu darah positif terinfeksi malaria falciparum.
Hasil pewarnaan pada pengenceran Giemsa 3% diperoleh inti dengan kategori baik sebanyak 14%,tidak baik 2% bagian sitoplasma diperoleh hasil kategore baik 10% tidak baik 6% pada titik mourer dengan hasil kategori baik 13% tidak baik 3% pada pewarnaan pengenceran Giemsa 5% diperoleh inti dengan kategori baik 11% tidak baik 7%,pada bagian sitoplasma dengan kategori baik 5% tidak baik 11% pada titik mourer dengan kategori baik 7% dan tidak baik 8%.
Hasil yang didapat menggunakan uji chi square sehingga di dapat nilai p=0.
003<a= 0.
05 artinya nilai p<a menunjukan ada perbedaan morfologi plasmodium falciparum yang di warnai menggunakan pengenceran larutan Giemsa 3% dan 5%.
  Kata Kunci : Konsentrasi Giemsa, Morfolofi dan Plasmodium Falciparum.

Related Results

Prevalence of Plasmodium Species among Humans and Monkeys at Mole National Park in Northern Ghana
Prevalence of Plasmodium Species among Humans and Monkeys at Mole National Park in Northern Ghana
Malaria is one of the most severe public health problems in Ghana. In developing countries such as Ghana, with high of prevalence of malaria, the procedures for diagnoses and detec...
Development of a Novel Cytochrome b Real-Time PCR Assay for Identification of Plasmodium malariae
Development of a Novel Cytochrome b Real-Time PCR Assay for Identification of Plasmodium malariae
This article aims to establish a novel cytochrome b real-time PCR assay using Taqman probe for identification of P. malariae and its discrimination from other Plasmodium human infe...
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN LARUTAN GIEMSA 3% TERHADAP KUALITAS PREPARAT MALARIA
PENGARUH LAMA PENYIMPANAN LARUTAN GIEMSA 3% TERHADAP KUALITAS PREPARAT MALARIA
Pemeriksaan mikroskopik merupakan Gold standart untuk identifikasi parasit malaria dengan menggunakan Giemsa 3% yang langsung di gunakan sesaat setelah di buat sebagai larutan stan...
Perbedaan Daya Hambat Kefir Susu Kambing dengan Kefir Susu Sapi Terhadap Escherichia coli secara In Vitro
Perbedaan Daya Hambat Kefir Susu Kambing dengan Kefir Susu Sapi Terhadap Escherichia coli secara In Vitro
Latar Belakang. Kefir merupakan produk susu fermentasi dari Kaukasus. Komposisinya didominasi oleh bakteri asam laktat (BAL) dan zat metabolit sekunder yang dihasilkannya seperti b...
Ekstrak Betasianin dari Umbi Bit (Beta vulgaris) sebagai Pewarna Alami pada Sediaan Apusan Darah Tepi
Ekstrak Betasianin dari Umbi Bit (Beta vulgaris) sebagai Pewarna Alami pada Sediaan Apusan Darah Tepi
ABSTRAK Morfologi sel berupa eritrosit, trombosit dan leukosit merupakan bagian dari pemeriksaan Apusan Darah Tepi (ADT). Pemeriksaan ini mampu mengindetifikasi jenis dan jum...
ANALISIS PERBANDINGAN WAKTU PEWARNAAN MENGGUNAKAN GIEMSA 10% TERHADAP HASIL SEDIAAN DARAH MALARIA
ANALISIS PERBANDINGAN WAKTU PEWARNAAN MENGGUNAKAN GIEMSA 10% TERHADAP HASIL SEDIAAN DARAH MALARIA
Penelitian tentang pemeriksaan malaria secara mikroskopik  terhadap parameter waktu  dengan menggunakan pewarna giemsa 10%. Hasil penilaian pewarnaan sediaan darah malaria meliputi...

Back to Top