Javascript must be enabled to continue!
Wujud Patrimonialisme di Taman Ismail Marzuki, 1968-1998
View through CrossRef
This article discusses the forms of patrimonialism that occurred during the New Order era with a case study of Taman Ismail Marzuki. The state's involvement in hegemony in the field of culture transforms into Javanese power politics present in the post-colonial era so that the state fully controls the activities of artists in one space. As a public space, Taman Ismail Marzuki cannot be separated from political intervention, which has made it an arena for contestation between artists and the state. The New Order's patrimonial practice at Taman Ismail Marzuki lasted from 1968 to 1998, allowing the state to control artists for legitimisation purposes. The questions raised in this article include: why did the state build Taman Ismail Marzuki? How did the state utilise Taman Ismail Marzuki as its political project? Who are the actors in Taman Ismail Marzuki? This article uses the historical method which includes heuristics, source criticism, interpretation and historiography. The research uses the concept of patrimonialism and departs from the concept, there are results and findings that the author describes including: (1) Patrimonialism in the Culture, (2) Negotiation Space of Politics and Culture, (3) The State Takes the Role of Culture and (4) Criticising New Order Politics.
Title: Wujud Patrimonialisme di Taman Ismail Marzuki, 1968-1998
Description:
This article discusses the forms of patrimonialism that occurred during the New Order era with a case study of Taman Ismail Marzuki.
The state's involvement in hegemony in the field of culture transforms into Javanese power politics present in the post-colonial era so that the state fully controls the activities of artists in one space.
As a public space, Taman Ismail Marzuki cannot be separated from political intervention, which has made it an arena for contestation between artists and the state.
The New Order's patrimonial practice at Taman Ismail Marzuki lasted from 1968 to 1998, allowing the state to control artists for legitimisation purposes.
The questions raised in this article include: why did the state build Taman Ismail Marzuki? How did the state utilise Taman Ismail Marzuki as its political project? Who are the actors in Taman Ismail Marzuki? This article uses the historical method which includes heuristics, source criticism, interpretation and historiography.
The research uses the concept of patrimonialism and departs from the concept, there are results and findings that the author describes including: (1) Patrimonialism in the Culture, (2) Negotiation Space of Politics and Culture, (3) The State Takes the Role of Culture and (4) Criticising New Order Politics.
Related Results
Evaluasi Kesesuaian Elemen Taman terhadap Tujuan Pembangunan Taman Aktif di Kecamatan Bogor Utara
Evaluasi Kesesuaian Elemen Taman terhadap Tujuan Pembangunan Taman Aktif di Kecamatan Bogor Utara
Taman kota adalah taman yang berada di lingkungan perkotaan. Taman kota dapat mengantisipasi dampak negatif yang akan timbul dengan perkembangan kota dan dapat dinikmati oleh selur...
ELEMEN PENDUKUNG TAMAN KOTA DI TAMAN KRUCUK DAN TAMAN BUNDERAN MUNJUL
ELEMEN PENDUKUNG TAMAN KOTA DI TAMAN KRUCUK DAN TAMAN BUNDERAN MUNJUL
Sejak dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2012 lalu, Taman Krucuk yang berada di jalan Lohbener, Kesenden, Kejaksan, kota Cirebon, Jawa Barat belum kunjung sele...
Evaluasi Fungsi Ekologis Pada Taman-Taman Kota di Kota Bandung
Evaluasi Fungsi Ekologis Pada Taman-Taman Kota di Kota Bandung
Taman kota memeiliki fungsi utama yaitu fungsi ekologis. Taman kota dikatakan berfungsi ekologis ketika mampu membentuk keseimbangan lingkungan perkotaan dan kondisinya dapat dira...
Evaluasi Fungsi Ekologis Pada Taman-Taman Kota di Kota Bandung
Evaluasi Fungsi Ekologis Pada Taman-Taman Kota di Kota Bandung
Taman kota memeiliki fungsi utama yaitu fungsi ekologis. Taman kota dikatakan berfungsi ekologis ketika mampu membentuk keseimbangan lingkungan perkotaan dan kondisinya dapat dira...
Perlindungan Taman Kota Sebagai Jejak Sejarah Perkotaan : Upaya Pengelolaan Taman Kota Sebagai Aset Kota
Perlindungan Taman Kota Sebagai Jejak Sejarah Perkotaan : Upaya Pengelolaan Taman Kota Sebagai Aset Kota
Taman kota yang memiliki nilai sejarah merupakan warisan kekayaan budaya bangsa yang selain dapat dinikmati sebagai sarana kota, juga memiliki arti penting dari sisi sejarah perkem...
Pengawasan Taman Nasional Tesso Nilo Oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan
Pengawasan Taman Nasional Tesso Nilo Oleh Balai Taman Nasional Tesso Nilo Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan
Penelitian ini mengkaji mengenai pengawasan taman nasional tesso nilo oleh balai taman nasional tesso nilo kecamatan ukui kabupaten pelalawan, dengan rumusan masalah tentang bagaim...
Kajian Estetika Lagu “Rayuan Pulau Kelapa” Karya Ismail Marzuki
Kajian Estetika Lagu “Rayuan Pulau Kelapa” Karya Ismail Marzuki
“Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki, di dalam proses dan hasil perjalanan kreatif beliau sebagai pemusik-pejuang (bangsa) Indonesia. Ismail Marzuki adalah seorang seniman In...
Peningkatan Kenyamanan Termal Taman Kota Melalui Model Taman Air Berarsitektur Tradisonal
Peningkatan Kenyamanan Termal Taman Kota Melalui Model Taman Air Berarsitektur Tradisonal
Kenyamanan termal menjadi aspek penting dalam perancangan ruang luar seperti taman kota. Taman air tradisional Bali memiliki potensi untuk meningkatkan kenyamanan termal melalui pe...

