Javascript must be enabled to continue!
Studi Literatur: Mekanisme Hubungan Pola Makan Buruk dan Stres terhadap Dispepsia Fungsional
View through CrossRef
Abstract. Dyspepsia is one of the most common gastrointestinal complaints among individuals in productive age. Eating habit and psychological conditions are considered as major risk factors contributing to the development of dyspepsia. Poor eating patterns are suspected to play a role through the mechanism involving impaired gastric motility and visceral hypersensitivity. Stress also contributes by increasing gastric acid production and reducing prostaglandin levels. This study is a qualitative literature review that aimed for examining the role of poor eating pattern and stress in the risk of dyspepsia. Secondary data were gathered from national and international scientific articles obtained through electronic databases. Data analysis was conducted descriptively to identify the relationship between poor eating patterns, stress, and dyspepsia. The finding indicate that poor eating patterns may increase the risk of dyspepsia through delayed gastric emptying, increased gastric acid secretion due to prolonged fasting intervals, and consumption of irritative foods that cause gastric distention and heightened visceral sensitivity. Meanwhile, stress influence dyspepsia through the activation of brain-gutaxis which includes increased cortisol secretion that stimulates gastric acid production, disrupt gastroduodenal motility, increases intestinal permeability, and reduces mucosal protection. Based on these findings, it can be concluded that poor eating patterns and stress have contributive impacts on the risk of dyspepsia. Therefore, promotive interventions related to healthy eating behavior and stress management are reccomended.
Abstrak. Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran pencernaan yang sering dikeluhkan oleh kelompok usia produktif. Kebiasaan makan serta kondisi psikologis kerap menjadi faktor risiko utama terhadap terjadinya dispepsia. Pola makan yang buruk diduga menjadi salah satu faktor yang berperan melalui gangguan motilitas lambung dan hipersensitivitas viseral. Stres juga berkontribusi dengan cara meningkatkan produksi asam lambung dan menurunkan produksi prostaglandin. Penelitian ini merupakan studi literatur dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan mengkaji peran pola makan buruk dan stres terhadap risiko dispepsia. Pengumpulan data sekunder diambil dari artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan melalui basis data elektronik. Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengidentifikasi hubungan pola makan buruk dan stres dengan dispepsia. Hasil studi menunjukkan bahwa pola makan buruk dapat meningkatkan risiko dispepsia melalui mekanisme perlambatan pengosongan lambung (delayed gastric emptying), peningkatan sekresi asam lambung akibat jeda makan yang panjang, serta konsumsi makanan iritatif yang dapat menyebabkan distensi lambung dan peningkatan sensitivitas viseral. Sementara stres berpengaruh melalui aktivasi brain-gut axis, yaitu dengan meningkatkan sekresi kortisol yang merangsang produksi asam lambung, mengganggu motilitas gastroduodenal, meningkatkan permeabilitas usus, dan menurunkan proteksi mukosa. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola makan buruk dan stres memiliki dampak kontributif terhadap risiko dispepsia. Oleh karena itu, intervensi promotif mengenai pola makan sehat dan pengendalian stres dirasa perlu dilakukan.
Universitas Islam Bandung (Unisba)
Title: Studi Literatur: Mekanisme Hubungan Pola Makan Buruk dan Stres terhadap Dispepsia Fungsional
Description:
Abstract.
Dyspepsia is one of the most common gastrointestinal complaints among individuals in productive age.
Eating habit and psychological conditions are considered as major risk factors contributing to the development of dyspepsia.
Poor eating patterns are suspected to play a role through the mechanism involving impaired gastric motility and visceral hypersensitivity.
Stress also contributes by increasing gastric acid production and reducing prostaglandin levels.
This study is a qualitative literature review that aimed for examining the role of poor eating pattern and stress in the risk of dyspepsia.
Secondary data were gathered from national and international scientific articles obtained through electronic databases.
Data analysis was conducted descriptively to identify the relationship between poor eating patterns, stress, and dyspepsia.
The finding indicate that poor eating patterns may increase the risk of dyspepsia through delayed gastric emptying, increased gastric acid secretion due to prolonged fasting intervals, and consumption of irritative foods that cause gastric distention and heightened visceral sensitivity.
Meanwhile, stress influence dyspepsia through the activation of brain-gutaxis which includes increased cortisol secretion that stimulates gastric acid production, disrupt gastroduodenal motility, increases intestinal permeability, and reduces mucosal protection.
Based on these findings, it can be concluded that poor eating patterns and stress have contributive impacts on the risk of dyspepsia.
Therefore, promotive interventions related to healthy eating behavior and stress management are reccomended.
Abstrak.
Dispepsia merupakan salah satu gangguan saluran pencernaan yang sering dikeluhkan oleh kelompok usia produktif.
Kebiasaan makan serta kondisi psikologis kerap menjadi faktor risiko utama terhadap terjadinya dispepsia.
Pola makan yang buruk diduga menjadi salah satu faktor yang berperan melalui gangguan motilitas lambung dan hipersensitivitas viseral.
Stres juga berkontribusi dengan cara meningkatkan produksi asam lambung dan menurunkan produksi prostaglandin.
Penelitian ini merupakan studi literatur dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan mengkaji peran pola makan buruk dan stres terhadap risiko dispepsia.
Pengumpulan data sekunder diambil dari artikel ilmiah nasional dan internasional yang relevan melalui basis data elektronik.
Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengidentifikasi hubungan pola makan buruk dan stres dengan dispepsia.
Hasil studi menunjukkan bahwa pola makan buruk dapat meningkatkan risiko dispepsia melalui mekanisme perlambatan pengosongan lambung (delayed gastric emptying), peningkatan sekresi asam lambung akibat jeda makan yang panjang, serta konsumsi makanan iritatif yang dapat menyebabkan distensi lambung dan peningkatan sensitivitas viseral.
Sementara stres berpengaruh melalui aktivasi brain-gut axis, yaitu dengan meningkatkan sekresi kortisol yang merangsang produksi asam lambung, mengganggu motilitas gastroduodenal, meningkatkan permeabilitas usus, dan menurunkan proteksi mukosa.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola makan buruk dan stres memiliki dampak kontributif terhadap risiko dispepsia.
Oleh karena itu, intervensi promotif mengenai pola makan sehat dan pengendalian stres dirasa perlu dilakukan.
Related Results
Dispepsia : Klasifikasi, Faktor Risiko, Patofisiologi dan Tatalaksana
Dispepsia : Klasifikasi, Faktor Risiko, Patofisiologi dan Tatalaksana
Dispepsia merupakan kumpulan gejala yang mengarah pada penyakit/gangguan saluran pencernaan atas. Prevalensi uninvestigated dyspepsia dan dispepsia fungsional di Asia adalah 5-30%....
Hubungan Pola Hidup Sehat dengan Dispepsia pada Mahasiswa Tingkat Akhir UNISBA
Hubungan Pola Hidup Sehat dengan Dispepsia pada Mahasiswa Tingkat Akhir UNISBA
Abstract Dyspepsia is a common health problem in the productive age group, including university students. Final-year students are at high risk of developing dyspepsia due to irregu...
Stres dan gejala dispepsia fungsional pada remaja
Stres dan gejala dispepsia fungsional pada remaja
Remaja merupakan populasi yang berisiko mengalami berbagai permasalahan kesehatan, salah satunya gejala dispepsia fungsional. Stres menjadi salah satu penyebab munculnya permasalah...
Hubungan Tingkat Stres Dengan Sindrom Dispepsia Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
Hubungan Tingkat Stres Dengan Sindrom Dispepsia Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana
Stres merupakan masalah psikologi yang menimbulkan perubahan perilaku, fisiologi maupun psikologi seseorang. Mahasiswa pendidikan dokter merupakan kalangan yang rentang terhadap s...
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN SINDROM DISPEPSIA PADA MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN SINDROM DISPEPSIA PADA MAHASISWA PENDIDIKAN PROFESI DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, senda...
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT JALAN POLI PENYAKIT DALAM DI RSUD KOJA (Studi pada Pasien Rawat Jalan Poli Penyakit Dalam di RSUD Koja Tahun 2020)
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DISPEPSIA PADA PASIEN RAWAT JALAN POLI PENYAKIT DALAM DI RSUD KOJA (Studi pada Pasien Rawat Jalan Poli Penyakit Dalam di RSUD Koja Tahun 2020)
Dispepsia merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi di masyarakat. WHO memprediksi pada tahun 2020, proporsi angka kematian karena penyakit tidak menular akan mening...
HUBUNGAN GAYA BELAJAR DENGAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA YANG MENDERITA DISPEPSIA FUNGSIONAL
HUBUNGAN GAYA BELAJAR DENGAN INDEKS PRESTASI KUMULATIF PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA YANG MENDERITA DISPEPSIA FUNGSIONAL
Abstrak. Dispepsia fungsional merupakan kelainan fungsional yang terdiri dari gejala klinis seperti nyeri ulu hati, perut kembung, cepat kenyang, mual dan muntah. Hal ini berpengar...

