Javascript must be enabled to continue!
Struktur Tritangtu pada Siger Aksesoris Pengantin Sunda Priangan
View through CrossRef
The bride is a symbol of changes in the cycle of human life which is interpreted sacredly. One of the symbols of its sacredness is the use of siger as one of the accessories for Sundanese wedding costume. This paper aims to identify the concept of Sundanese Tritangtu philosophy in Siger Sunda Priangan accessories which cover Sumedang, Sukapura, and Galuh regions. The analysis applies Levi-Strauss structuralism theory, through the stages of elements, binary opposition, transformation and paradigmatic. The three models of Siger Sunda Priangan style, Sumedang style, Sukapura style, and Galuh style were used as the objects of study. The fndings show the same physical structure forms a similar patern, so that the basic structure of Siger crown forms a triple patern in the philosophy of Sundanese people. The same structure of the three Siger forms shows the concepts of surface structure and deep structure in the way of thinking of the Sundanese people. In this context, it means that the form of Siger and the use of Siger in Sundanese brides have standard rules, because they have a sacred meaning.Keywords: Siger Sunda, Tritangtu, Sundanese Bride, Siger ABSTRAKPengantin sebagai simbol perubahan siklus kehidupan manusia yang dimaknai secara sakral. Salah satu simbol kesakralannya berada pada penggunaan siger sebagai salah satu aksesoris kostum pengantin sunda. Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi konsep Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh sebagai komponen dari filsafat Sunda Tritangtu pada aksesoris Siger Sunda Priangan yang meliputi wilayah Sumedang, Sukapura, dan Galuh. Analisis menggunakan teori strukturalisme Levi-Strauss, melalui tahapan elemen-elemen, oposisi binner, transformasi dan paradigmatik. Tiga model Siger Sunda Priangan gaya Sumedang, gaya Sukapura, dan gaya Galuh yang dijadikan objek kajian ditemukan struktur fisik yang sama berbentuk segitiga, sehingga struktur dasar mahkota Siger membentuk pola tiga. Struktur yang sama dari ketiga ragam bentuk siger tersebut menunjukkan konsep surface struktur dan deep struktur filsafat Tri Tangtu. Hal ini dimaknai, bahwa bentuk siger dan penggunaan siger pada pengantin sunda memiliki tata aturan yang baku, karena memiliki makna yang sakral.
Institut Seni Budaya Indonesia Bandung
Title: Struktur Tritangtu pada Siger Aksesoris Pengantin Sunda Priangan
Description:
The bride is a symbol of changes in the cycle of human life which is interpreted sacredly.
One of the symbols of its sacredness is the use of siger as one of the accessories for Sundanese wedding costume.
This paper aims to identify the concept of Sundanese Tritangtu philosophy in Siger Sunda Priangan accessories which cover Sumedang, Sukapura, and Galuh regions.
The analysis applies Levi-Strauss structuralism theory, through the stages of elements, binary opposition, transformation and paradigmatic.
The three models of Siger Sunda Priangan style, Sumedang style, Sukapura style, and Galuh style were used as the objects of study.
The fndings show the same physical structure forms a similar patern, so that the basic structure of Siger crown forms a triple patern in the philosophy of Sundanese people.
The same structure of the three Siger forms shows the concepts of surface structure and deep structure in the way of thinking of the Sundanese people.
In this context, it means that the form of Siger and the use of Siger in Sundanese brides have standard rules, because they have a sacred meaning.
Keywords: Siger Sunda, Tritangtu, Sundanese Bride, Siger ABSTRAKPengantin sebagai simbol perubahan siklus kehidupan manusia yang dimaknai secara sakral.
Salah satu simbol kesakralannya berada pada penggunaan siger sebagai salah satu aksesoris kostum pengantin sunda.
Tulisan ini bertujuan mengidentifikasi konsep Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh sebagai komponen dari filsafat Sunda Tritangtu pada aksesoris Siger Sunda Priangan yang meliputi wilayah Sumedang, Sukapura, dan Galuh.
Analisis menggunakan teori strukturalisme Levi-Strauss, melalui tahapan elemen-elemen, oposisi binner, transformasi dan paradigmatik.
Tiga model Siger Sunda Priangan gaya Sumedang, gaya Sukapura, dan gaya Galuh yang dijadikan objek kajian ditemukan struktur fisik yang sama berbentuk segitiga, sehingga struktur dasar mahkota Siger membentuk pola tiga.
Struktur yang sama dari ketiga ragam bentuk siger tersebut menunjukkan konsep surface struktur dan deep struktur filsafat Tri Tangtu.
Hal ini dimaknai, bahwa bentuk siger dan penggunaan siger pada pengantin sunda memiliki tata aturan yang baku, karena memiliki makna yang sakral.
Related Results
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
Wayang dalam Tari Sunda Gaya Priangan
ABSTRACT This paper is a study on the potential  of puppet (wayang)  in the scope of Sundanese  culture of  Priangan subculture,  especially  dance.  Formerly  the term  ...
PERANAN LASYKAR HIZBULLAH DI PRIANGAN 1945-1948
PERANAN LASYKAR HIZBULLAH DI PRIANGAN 1945-1948
AbstrakPenelitian ini menggambarkan Peranan Lasykar Hizbullah di Priangan dalam kurun waktu 1945 hingga 1948. Untuk merekontruksi permasalahan ini digunakan metode sejarah yang ter...
KONTRIBUSI BERAS SIGER DALAM POLA KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA KONSUMEN BERAS SIGER DI PROVINSI LAMPUNG
KONTRIBUSI BERAS SIGER DALAM POLA KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA KONSUMEN BERAS SIGER DI PROVINSI LAMPUNG
Tujuan penelitian ini adalah mempelajari: (a) pola konsumsi beras siger, (b) konsumsi pangan rumah tangga, dan (c) kontribusi beras siger dalam pola konsumsi pangan rumah tangga...
Perubahan Fungsi Ketuk Tilu Di Priangan (1900-2000-an)
Perubahan Fungsi Ketuk Tilu Di Priangan (1900-2000-an)
ABSTRACTÂ Ketuk tilu is one of traditional arts which lives and thrives in Priangan community. At the beginning of its creation, Ketuk tilu was allegedly an art having ritual funct...
ANALISIS PERBANDINGAN MAKNA SIMBOLIS PADA RIASAN PENGANTIN JOGJA PUTRI DAN PENGANTIN SOLO PUTRI
ANALISIS PERBANDINGAN MAKNA SIMBOLIS PADA RIASAN PENGANTIN JOGJA PUTRI DAN PENGANTIN SOLO PUTRI
Makna yang tersirat dari suatu kata tidak hanya merujuk pada objek, peristiwa, atau keadaan tertentu. Oleh karena itu, kita tidak dapat memperoleh makna kata tersebut hanya dari ko...
Penggunaan Bahasa Sunda di Lingkungan Keluarga sebagai Upaya Konservasi Budaya
Penggunaan Bahasa Sunda di Lingkungan Keluarga sebagai Upaya Konservasi Budaya
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya indikasi keterancaman punahnya bahasa Sunda di lingkungan keluarga Sunda. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan dominansi penggunaan baha...
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN TATA RIAS PENGANTIN PUTRI JENGGOLO PADA MASYARAKAT SIDOARJO
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN TATA RIAS PENGANTIN PUTRI JENGGOLO PADA MASYARAKAT SIDOARJO
Tata rias pengantin Putri Jenggolo merupakan tata rias pengantin tradisional khas Sidoarjo. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa perias di Sidoarjo didapatkan hasil bahwa mi...
Persepsi Alumni Program Studi Pendidikan Tata Rias Terhadap Kesesuaian Kurikulum Tata Rias Dengan Kompetensi Modifikasi Rias Pengantin Yogya Putri
Persepsi Alumni Program Studi Pendidikan Tata Rias Terhadap Kesesuaian Kurikulum Tata Rias Dengan Kompetensi Modifikasi Rias Pengantin Yogya Putri
Kurikulum merupakan satu hal penting dalam dunia pendidikan, dimana kurikulum menjadi seperangkat alat dan pedoman di dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Penyusunan kuriku...

