Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Jelajah Kearifan Teknologi Bangunan Arsitektur Nusantara

View through CrossRef
Sejauh ini pengetahuan teknologi bangunan Indonesia yang diketengahkan dalam pendidikan formal lazimnya adalah pengetahuan yang diturunkan dari pemikiran non-nusantara (notabene adalah teknologi bangunan arsitektur barat). Hal demikian memunculkan diskusi timpang (menjurus kepada beda tafsir) ketika dilakukan tindak pembahasan struktur dan konstruksi arsitektur tradisional Nusantara dengan menggunakan idiomatika teknologi bangunan tradisional Barat. Dengan focus ke-iklim-an dan ke-gempa-an yang menjadi faktor pembentuk dalam teknologi penegakkan bangunan nusantara maka tulisan ini bertujuan mengungkapkan beberapa pemikiran teknologi bangunan arsitektur nusantara yang mempunyai kebedaan dengan teknologi bangunan barat. Melalui pendekatan deskriptif eksploratif dilakukan penjelajahan dengan interpretasi normatif atas penyandingan beberapa obyek arsitektur nusantara dalam konteks teknologi bangunan nusantara. Jelajah menghasilkan temuan pengetahuan teknologi bangunan nusantara yaitu dasar pemikiran struktur konstruksi wilayah dua musim, konsekwensi ruang arsitektural nusantara, teknik konstruksi ikat dan sambungan nusantara dan keragaman titik berat serta peran konstruksi sebagai pembentuk tempat (place). Jelajah ini dimaksudkan untuk membentuk mindset pensejajaran kearifan lokal arsitektur nusantara dengan ilmu struktur konstruksi barat. Tidak ada lagi hambatan ketidak percayaan penalaran bahwa pengetahuan Arsitektur Nusantara memang nyata berbeda dengan pengetahuan Arsitektur Barat. So far, the knowledge of Indonesian building technology that is presented in formal education is usually knowledge derived from non-archipelago thinking (incidentally is the technology of western architectural building). This thus gave rise to unequal discussions (leading to different interpretations) when the discussion on the structure and construction of the traditional archipelago architecture was carried out using the idiomatic technique of Western traditional building technology. With a focus on climate and earthquake which are forming factors in the building technology of the archipelago, this paper aims to express some thoughts on archipelago architectural building technology that has a difference with western building technology. Through a descriptive exploratory approach exploration is carried out with normative interpretation of the pairing of several archipelago architectural objects in the context of archipelago building technology. The exploration resulted in the discovery of archipelago building technology knowledge, namely the rationale for the construction of the two-season region, the consequences of the archipelago architectural space, the connective construction technique and the archipelago connection and the diversity of centers of gravity and the role of construction as a place-maker. This exploration is intended to form a mindset of the alignment of the local wisdom of the archipelago architecture with the science of western construction structures. There is no longer any obstacle to distrust of reasoning that the knowledge of Nusantara Architecture is indeed different from the knowledge of Western Architecture.
Title: Jelajah Kearifan Teknologi Bangunan Arsitektur Nusantara
Description:
Sejauh ini pengetahuan teknologi bangunan Indonesia yang diketengahkan dalam pendidikan formal lazimnya adalah pengetahuan yang diturunkan dari pemikiran non-nusantara (notabene adalah teknologi bangunan arsitektur barat).
Hal demikian memunculkan diskusi timpang (menjurus kepada beda tafsir) ketika dilakukan tindak pembahasan struktur dan konstruksi arsitektur tradisional Nusantara dengan menggunakan idiomatika teknologi bangunan tradisional Barat.
Dengan focus ke-iklim-an dan ke-gempa-an yang menjadi faktor pembentuk dalam teknologi penegakkan bangunan nusantara maka tulisan ini bertujuan mengungkapkan beberapa pemikiran teknologi bangunan arsitektur nusantara yang mempunyai kebedaan dengan teknologi bangunan barat.
Melalui pendekatan deskriptif eksploratif dilakukan penjelajahan dengan interpretasi normatif atas penyandingan beberapa obyek arsitektur nusantara dalam konteks teknologi bangunan nusantara.
Jelajah menghasilkan temuan pengetahuan teknologi bangunan nusantara yaitu dasar pemikiran struktur konstruksi wilayah dua musim, konsekwensi ruang arsitektural nusantara, teknik konstruksi ikat dan sambungan nusantara dan keragaman titik berat serta peran konstruksi sebagai pembentuk tempat (place).
Jelajah ini dimaksudkan untuk membentuk mindset pensejajaran kearifan lokal arsitektur nusantara dengan ilmu struktur konstruksi barat.
Tidak ada lagi hambatan ketidak percayaan penalaran bahwa pengetahuan Arsitektur Nusantara memang nyata berbeda dengan pengetahuan Arsitektur Barat.
So far, the knowledge of Indonesian building technology that is presented in formal education is usually knowledge derived from non-archipelago thinking (incidentally is the technology of western architectural building).
This thus gave rise to unequal discussions (leading to different interpretations) when the discussion on the structure and construction of the traditional archipelago architecture was carried out using the idiomatic technique of Western traditional building technology.
With a focus on climate and earthquake which are forming factors in the building technology of the archipelago, this paper aims to express some thoughts on archipelago architectural building technology that has a difference with western building technology.
Through a descriptive exploratory approach exploration is carried out with normative interpretation of the pairing of several archipelago architectural objects in the context of archipelago building technology.
The exploration resulted in the discovery of archipelago building technology knowledge, namely the rationale for the construction of the two-season region, the consequences of the archipelago architectural space, the connective construction technique and the archipelago connection and the diversity of centers of gravity and the role of construction as a place-maker.
This exploration is intended to form a mindset of the alignment of the local wisdom of the archipelago architecture with the science of western construction structures.
There is no longer any obstacle to distrust of reasoning that the knowledge of Nusantara Architecture is indeed different from the knowledge of Western Architecture.

Related Results

STRATEGI TRANSFORMASI ARSITEKTUR PADA STUDIO AKANOMA DI PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
STRATEGI TRANSFORMASI ARSITEKTUR PADA STUDIO AKANOMA DI PADALARANG, KABUPATEN BANDUNG BARAT
Abstrak - Arsitektur Indonesia, seperti halnya arsitektur banyak negara dan kawasan di dunia, akhir-akhir ini mengalami berbagai perubahan karena fenomena globalisasi. Modernisasi ...
ARSITEKTUR KONTEKSTUAL PADA RANCANGAN BANGUNAN GALERI NASIONAL INDONESIA
ARSITEKTUR KONTEKSTUAL PADA RANCANGAN BANGUNAN GALERI NASIONAL INDONESIA
Pada tahun 2013, Galeri Nasional Indonesia bersama dengan Ikatan Arsitek Indonesia Jakarta menggagas pengembangan bangunan Galeri Nasional Indonesia bersamaan dengan rencana utama ...
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI PADA BANGUNAN MAYA SANUR, BALI (DCM)
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR TRADISIONAL BALI PADA BANGUNAN MAYA SANUR, BALI (DCM)
Abstrak Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang terkenal dengan nilai kebudayaannya. Salah satu wujud kebudayaan yang riil dan dsudah teruji durabilitasnya merupaka...
Evaluasi Kesesuaian Pola Bangunan Lembaga Pembinaan Khusus Anak dan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan
Evaluasi Kesesuaian Pola Bangunan Lembaga Pembinaan Khusus Anak dan Lembaga Pemasyarakatan Perempuan
Fungsi dan Tujuan dari pendirian Lembaga Pemasyarakatan menjadikan pembangunannya tak dapat dilakukan secara asal, diperlukan standar dan standarisasi agar bangunan Lembaga Pemasya...
KAJIAN ARSITEKTUR FUTURISTIK PADA BANGUNAN MUSEUM (STUDI KASUS : ENZO FERRARI MUSEUM DI MODENA, ITALIA)
KAJIAN ARSITEKTUR FUTURISTIK PADA BANGUNAN MUSEUM (STUDI KASUS : ENZO FERRARI MUSEUM DI MODENA, ITALIA)
Penelitian ini mengeksplorasi penerapan arsitektur futuristik, khususnya pada bangunan museum, dengan mengambil studi kasus Enzo Ferrari Museum di Modena, Italia. Latar belakang pe...
BANGUNAN KOLONIAL BELANDA YANG MASIH BERDIRI DI JAKARTA SEBAGAI OBJEK WISATA BUDAYA
BANGUNAN KOLONIAL BELANDA YANG MASIH BERDIRI DI JAKARTA SEBAGAI OBJEK WISATA BUDAYA
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi bangunan bangunan Kolonial Belanda di Jakarta yang dijadikan objek wisata serta fungsinya saat dulu maupun sekarang. Penel...
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
SISTEM INFORMASI SEBAGAI KEILMUAN YANG MULTIDISIPLINER
Saat ini, dibandingkan dengan negara sekitar, di manakah posisi Indonesia? Tepat sesaat sebelum pandemi, World bank mengkategorikan Indonesia pada posisi upper middle income dan PB...
Analisis Struktur Bangunan Rumah Tinggal di Desa Jumoyo yang Berisiko Terhadap Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi
Analisis Struktur Bangunan Rumah Tinggal di Desa Jumoyo yang Berisiko Terhadap Banjir Lahar Dingin Gunung Merapi
Desa Jumoyo merupakan daerah rawan bencana yang salah satunya disebabkan oleh banjir lahar dingin. Banjir lahar dingin dari erupsi Gunung Merapi telah menyebabkan kerusakan banguna...

Back to Top