Javascript must be enabled to continue!
Perubahan morfologis dan anatomis kelapa sawit pada rezim air dan salinitas berbeda
View through CrossRef
Salinitas tinggi dan genangan dapat terjadi pada tempat dan waktu yang sama; meskipun demikian pemahaman terhadap pengaruh kedua kondisi tersebut terhadap pertumbuhan, respon morfologis, dan anatomis kelapa sawit masih sedikit. Telah dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan 2 aras salinitas (non salin dan salin) dan tiga taraf genangan (tanpa genangan, interval genangan 2 minggu, dan interval genangan 4 minggu). Penelitian dilakukan dalam pot selama 4 bulan dengan bahan tanam kelapa sawit berumur 4 bulan. Parameter pertumbuhan dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada jenjang nyata 5%. Pengamatan visual secara langsung dan pembuatan preparat melintang akar dilakukan untuk mengetahui perubahan morfologi dan anatomi tanaman. Hasil analisis menunjukkan salinitas tinggi dan genangan konsisten menurunkan parameter pertumbuhan kelapa sawit. Salinitas tinggi dan genangan tidak secara konsisten mengubah rasio luas masing-masing jaringan penyusun akar primer, sekunder, dan tersier. Kelapa sawit membentuk pneumatophore dan saluran aerenkima pada kondisi genangan, baik non salin maupun salin. Mekanisme adaptasi terhadap genangan tersebut dapat menurunkan pengaruh negatif cekaman salinitas tinggi. High salinity and waterlogging can occur at the same place and time; however, the effects of these two conditions on growth, morphological, and anatomical responses of oil palm was not fully understood. A research had been done by combining two levels of salinity (non saline and saline) and three levels of waterlogging (without waterlogging, two-week waterlogging intervals, and four-week waterlogging intervals). The study was conducted in pots for 4 months used 4 months old oil palm planting material. The growth parameters were analyzed by analysis variance continued by Duncan multiple-range test at 5% level of convidence. The morphological and anatomical changes of plants were observed trought direct observation and root cross section. The results showed that high salinity and waterlogging consistently decreased the oil palm growth parameter. High salinity and waterlogging did not consistently change the ratio of the area of each primary, secondary, and tertiary root tissue. Palm oil formed pneumatophores and aerenchyma under both non saline and saline waterlogging. Adaptation mechanisms to these waterlogging could reduce the negative effects of high salinity stress.
Title: Perubahan morfologis dan anatomis kelapa sawit pada rezim air dan salinitas berbeda
Description:
Salinitas tinggi dan genangan dapat terjadi pada tempat dan waktu yang sama; meskipun demikian pemahaman terhadap pengaruh kedua kondisi tersebut terhadap pertumbuhan, respon morfologis, dan anatomis kelapa sawit masih sedikit.
Telah dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan 2 aras salinitas (non salin dan salin) dan tiga taraf genangan (tanpa genangan, interval genangan 2 minggu, dan interval genangan 4 minggu).
Penelitian dilakukan dalam pot selama 4 bulan dengan bahan tanam kelapa sawit berumur 4 bulan.
Parameter pertumbuhan dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada jenjang nyata 5%.
Pengamatan visual secara langsung dan pembuatan preparat melintang akar dilakukan untuk mengetahui perubahan morfologi dan anatomi tanaman.
Hasil analisis menunjukkan salinitas tinggi dan genangan konsisten menurunkan parameter pertumbuhan kelapa sawit.
Salinitas tinggi dan genangan tidak secara konsisten mengubah rasio luas masing-masing jaringan penyusun akar primer, sekunder, dan tersier.
Kelapa sawit membentuk pneumatophore dan saluran aerenkima pada kondisi genangan, baik non salin maupun salin.
Mekanisme adaptasi terhadap genangan tersebut dapat menurunkan pengaruh negatif cekaman salinitas tinggi.
High salinity and waterlogging can occur at the same place and time; however, the effects of these two conditions on growth, morphological, and anatomical responses of oil palm was not fully understood.
A research had been done by combining two levels of salinity (non saline and saline) and three levels of waterlogging (without waterlogging, two-week waterlogging intervals, and four-week waterlogging intervals).
The study was conducted in pots for 4 months used 4 months old oil palm planting material.
The growth parameters were analyzed by analysis variance continued by Duncan multiple-range test at 5% level of convidence.
The morphological and anatomical changes of plants were observed trought direct observation and root cross section.
The results showed that high salinity and waterlogging consistently decreased the oil palm growth parameter.
High salinity and waterlogging did not consistently change the ratio of the area of each primary, secondary, and tertiary root tissue.
Palm oil formed pneumatophores and aerenchyma under both non saline and saline waterlogging.
Adaptation mechanisms to these waterlogging could reduce the negative effects of high salinity stress.
Related Results
Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Ledakan dan Kerusakannya pada Tanaman Kelapa Sawit / Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Outbreak and Its Damage on Oil palm
Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Ledakan dan Kerusakannya pada Tanaman Kelapa Sawit / Sexava nubila (Orthoptera: Tettigoniidae): Outbreak and Its Damage on Oil palm
<p>Oil palm (Elaeis guineensis) is one of the major estate crops in West Papua in terms of total area and production. Thousand hectares of oil palm plantations in Manokwari, ...
Analisis Titik Kritis Penjaminan Kualitas Benih Kelapa Sawit di Indonesia
Analisis Titik Kritis Penjaminan Kualitas Benih Kelapa Sawit di Indonesia
Benih kelapa sawit merupakan elemen yang sangat penting dalam menentukan hasil produksi tanaman kelapa sawit. Penggunaan benih sawit berkualitas (unggul) akan memberikan produktifi...
KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI LAHAN GAMBUT KONVERSI HUTAN ALAM MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
KERAGAMAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA (FMA) DI LAHAN GAMBUT KONVERSI HUTAN ALAM MENJADI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman Fungi Mikoriza Arbuskula(FMA) lahan gambut konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit diKotawaringin Timur. Penelit...
DAMPAK KELAPA SAWIT TERHADAP PEREKONOMIAN DIMASYARAKAT DI KABUPATEN ROKAN HILIR RIAU
DAMPAK KELAPA SAWIT TERHADAP PEREKONOMIAN DIMASYARAKAT DI KABUPATEN ROKAN HILIR RIAU
Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana tenaga kerja pabrik kelapa sawit dan bagaimana produtivitas petani sawit kontribusi perkebunana pabrik kelapa sawit terhadap pendapa...
Trend Produksi Dan Produktivitas Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan
Trend Produksi Dan Produktivitas Kelapa Sawit Provinsi Kalimantan Selatan
Salah satu potensi unggulan sektor perkebunan di Kalimantan Selatan adalah kelapa sawit. Perlu pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara efisien dengan produktivitas tinggi, sehin...
RANCANG BANGUN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT BERBASIS IOT(INTERNET OF THINGS)
RANCANG BANGUN PEMBIBITAN KELAPA SAWIT BERBASIS IOT(INTERNET OF THINGS)
Kelapa sawit adalah tanaman industri/ perkebunan yang diolah sebagai penghasil bahan baku minyak masak, minyak perseroan, maupun bahan bakar. Dalam pengembangan usaha budidaya tana...
Penerapan Teorema Bayes Untuk Mendiagnosa Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kelapa Sawit
Penerapan Teorema Bayes Untuk Mendiagnosa Hama dan Penyakit Pada Tanaman Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan tanaman perkebunan sebagai penghasil minyak. Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia. Kelapa sawit tumbu...
Evaluasi Sebaran Salinitas Jaringan Irigasi Tambak Sei Teras Kalimantan Tengah
Evaluasi Sebaran Salinitas Jaringan Irigasi Tambak Sei Teras Kalimantan Tengah
Daerah Irigasi Tambak (DIT) Sei Teras dimanfaatkan untuk budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dan termasuk area pengembangan food estate. Produktivitas DIT Sei Teras masih ...

