Javascript must be enabled to continue!
STUDI STILISTIKA TERHADAP TONGKAT NABI MUSA AS DI DALAM ALQURAN
View through CrossRef
Al-Qur’an menggunakan tiga lafal yang berbeda dalam mengungkapkan makna ular yang terdapat dalam kisah Nabi Musa, yakni ẖayyah, tsu῾bân dan jânn. Di satu sisi al-Qur’an menjelaskan bahwa tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular yang sebenarnya (QS. al-A῾râf [7]: 107). Sementara di sisi lain, tongkat tersebut, disebutkan, berubah menyerupai ular (QS. al-Naml [27]: 10). Penelitian ini bertujuan mengungkapkan hakikat tongkat Nabi Musa, mengkaji lafal ‘ashâ dan lafal-lafal lain yang bermakna ular dalam kisah Nabi Musa as. beserta implikasinya berdasarkan teori diksional-leksikal. Diksional-leksikal merupakan salah satu cabang stilistika di mana diksional adalah pemilihan kata yang sesuai agar cocok dengan konteks yang dijelaskan, sedangkan leksikal adalah makna dasar suatu kata. Penelitian ini menggunakan pendekatan stilistik dan termasuk penelitian tematik konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tongkat Nabi Musa as. pada hakikatnya adalah sebuah kayu bersifat keras dan kokoh sehingga dapat membantunya dalam hal apapun. Al-Qur’an memilih diksi ‘ashâ karena istilah tersebut merujuk pada tongkat yang memang digunakan sebagai tumpuan ketika berjalan. Diksi tsu῾bân, sebaliknya, dipilih ketika Musa menunjukkan kekuasaan Allah di hadapan Fir῾aun, karena diksi tersebut (makna leksikal: sâla/jarâ) bermakna ular jantan yang besar, gemuk, panjang tapi tidak gesit. Sementara itu, ketika menerima mukjizat di Bukit Sinai, al-Qur’an memilih diksi ẖayyah karena ia termasuk jenis ular yang besar dan gesit) dan jânn (ular kecil tapi gesit; makna leksikal: satr), karena perubahan tongkat tersebut tertutup dari keramaian manusia. Lafal tsu῾bân bersanding dengan mubîn karena merujuk pada ular berbentuk aliran air ke dalam lembah dan terlihat jelas di hadapan Fir῾aun. Lafal ẖayyah bersanding dengan tas῾â karena ular tersebut berjalan dengan gesit dan mencari kehidupan. Lafal jânn bersanding dengan tahtazzu karena ular tersebut mempunyai gerakan gesit. Lafal jânn menjadi bayân lafal ẖayyah dalam kegesitannya, karena dua lafal tersebut digunakan dalam satu peristiwa. Sehingga tongkat Nabi Musa benar-benar berubah menjadi ular, bukan menyerupai ular.
Institut Agama Islam Negeri Madura
Title: STUDI STILISTIKA TERHADAP TONGKAT NABI MUSA AS DI DALAM ALQURAN
Description:
Al-Qur’an menggunakan tiga lafal yang berbeda dalam mengungkapkan makna ular yang terdapat dalam kisah Nabi Musa, yakni ẖayyah, tsu῾bân dan jânn.
Di satu sisi al-Qur’an menjelaskan bahwa tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular yang sebenarnya (QS.
al-A῾râf [7]: 107).
Sementara di sisi lain, tongkat tersebut, disebutkan, berubah menyerupai ular (QS.
al-Naml [27]: 10).
Penelitian ini bertujuan mengungkapkan hakikat tongkat Nabi Musa, mengkaji lafal ‘ashâ dan lafal-lafal lain yang bermakna ular dalam kisah Nabi Musa as.
beserta implikasinya berdasarkan teori diksional-leksikal.
Diksional-leksikal merupakan salah satu cabang stilistika di mana diksional adalah pemilihan kata yang sesuai agar cocok dengan konteks yang dijelaskan, sedangkan leksikal adalah makna dasar suatu kata.
Penelitian ini menggunakan pendekatan stilistik dan termasuk penelitian tematik konseptual.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tongkat Nabi Musa as.
pada hakikatnya adalah sebuah kayu bersifat keras dan kokoh sehingga dapat membantunya dalam hal apapun.
Al-Qur’an memilih diksi ‘ashâ karena istilah tersebut merujuk pada tongkat yang memang digunakan sebagai tumpuan ketika berjalan.
Diksi tsu῾bân, sebaliknya, dipilih ketika Musa menunjukkan kekuasaan Allah di hadapan Fir῾aun, karena diksi tersebut (makna leksikal: sâla/jarâ) bermakna ular jantan yang besar, gemuk, panjang tapi tidak gesit.
Sementara itu, ketika menerima mukjizat di Bukit Sinai, al-Qur’an memilih diksi ẖayyah karena ia termasuk jenis ular yang besar dan gesit) dan jânn (ular kecil tapi gesit; makna leksikal: satr), karena perubahan tongkat tersebut tertutup dari keramaian manusia.
Lafal tsu῾bân bersanding dengan mubîn karena merujuk pada ular berbentuk aliran air ke dalam lembah dan terlihat jelas di hadapan Fir῾aun.
Lafal ẖayyah bersanding dengan tas῾â karena ular tersebut berjalan dengan gesit dan mencari kehidupan.
Lafal jânn bersanding dengan tahtazzu karena ular tersebut mempunyai gerakan gesit.
Lafal jânn menjadi bayân lafal ẖayyah dalam kegesitannya, karena dua lafal tersebut digunakan dalam satu peristiwa.
Sehingga tongkat Nabi Musa benar-benar berubah menjadi ular, bukan menyerupai ular.
Related Results
Doa-doa Nabi Musa dalam Al-Qur’an
Doa-doa Nabi Musa dalam Al-Qur’an
Doa merupakan bentuk ritual ibadah yang wajib bagi setiap muslim. Penulis mengambil kisah doa Nabi Musa karena memiliki keistimewaan yaitu mirip dengan kisah Nabi Muhammad dari seg...
DINAMIKA PSIKOLOGIS MAHASISWA PENGHAFAL ALQURAN (Sebuah Studi Fenomenologis)
DINAMIKA PSIKOLOGIS MAHASISWA PENGHAFAL ALQURAN (Sebuah Studi Fenomenologis)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan memahami dinamika psikologis pada mahasiswa penghafal Alquran. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pe...
IDRIS SIREGAR ANALISIS PEMIKIRAN MUHAMMAD SYAHRUR DALAM KAJIAN HADIS
IDRIS SIREGAR ANALISIS PEMIKIRAN MUHAMMAD SYAHRUR DALAM KAJIAN HADIS
ABSTRACT
Alquran and Hadith is the source for Islamic teachings. This statement is in line with the e...
Pengenalan Kisah Nabi Dengan Augmented Reality Berbasis Buku Cerita Sebagai Metode Marker: Studi Kasus Nabi Idris, Nabi Saleh, Nabi Syuaib, Nabi Zulkifli, Nabi Ilyas Dan Nabi Ilyasa
Pengenalan Kisah Nabi Dengan Augmented Reality Berbasis Buku Cerita Sebagai Metode Marker: Studi Kasus Nabi Idris, Nabi Saleh, Nabi Syuaib, Nabi Zulkifli, Nabi Ilyas Dan Nabi Ilyasa
Mempelajari sejarah peradaban agama sangat penting bagi umat Islam, termasuk kisah-kisah Nabi. Terdapat beberapa kisah Nabi yang kurang dikenal, berdasarkan data yang diperoleh dar...
Kisah Nabi Musa dengan `Abdun dalam Al-Qur`An Menurut Kitab Tafsir Ibnu Katsir
Kisah Nabi Musa dengan `Abdun dalam Al-Qur`An Menurut Kitab Tafsir Ibnu Katsir
Di antara kisah para Nabi yang terdapat di dalam Al-Qur`an, kisah Nabi Musa alaihis salam adalah yang paling banyak disebutkan dan diulang. Hal ini menunjukkan pentingnya mempelaja...
Lirik Lagu “Hanya Rindu”: Analisis Stilistika Dan Pemaknaannya
Lirik Lagu “Hanya Rindu”: Analisis Stilistika Dan Pemaknaannya
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) mengkaji makna yang terdapat pada lirik lagu “Hanya Rindu” pada album anmesh kamaleng (2) penggunaan stilistika yang terkandung ...
Komunikasi kelompok Nabi Musa dengan Bani Israil Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 67-71
Komunikasi kelompok Nabi Musa dengan Bani Israil Dalam Surah Al-Baqarah Ayat 67-71
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui proses komunikasi kelompok Nabi Musa dengan Bani Israil dalam surah Al-Baqarah ayat 67-71. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif...
PROBLEMA NASKH DALAM ALQURAN (KRITIK HASBI ASH-SHIDDIQIEY TERHADAP KAJIAN NASKH)
PROBLEMA NASKH DALAM ALQURAN (KRITIK HASBI ASH-SHIDDIQIEY TERHADAP KAJIAN NASKH)
Naskh-mansūkh merupakan salah satu ilmu dari beberapa ilmu Alquran yang dapat dijadikan sebagai ‘alat’ untuk memahami pesan-pesan wahyu Alquran. Naskh-mansūkh merupakan salah satu ...

