Javascript must be enabled to continue!
Analisis Jejas Gigitan pada Kasus Forensik Klinik
View through CrossRef
Abstract: Examination of bite mark is one form of dental assistance for the enforcement of justice. A dentist can examine bite mark or be asked his/her expert assessment of bite mark that has been recorded by another dentist. The source of bite marks, the substrate onto which they are generated, and the technique of lifting the bite imprints serve as important tools in analysis. This study was aimed to obtain mengetahui seberapa besar analisis jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku. This was a retrospective and descriptive study, using clinical forensic data from RS Bhayangkara Tingkat III in Manado from January 2015 to December 2019. This study used 2,197 clinical forensic cases data, of which there were 34 cases with bite marks. The most common bite sites were found in the arms (23.4%) and the least locations were found on the cheeks and neck (0.2%). There were 85.29% of bite marks that could be matched with suspected tooth molds. In conclusion, as many as 85.29% of bite marks in this study could be matched with suspected tooth molds. Albeit, mismatch of tooth patterns is not automatically removed somebody from the suspect list. Determinant variables such as the location of bite mark, movement of the jaw or part of the body bitten, and the process of inflammation in the body of the victim must be used as material for analysis in identifying the perpetrators.Keywords: bite mark, forensic odontology, identification of suspect Abstrak: Pemeriksaan jejas gigi (bite mark) merupakan salah satu bentuk bantuan dokter gigi bagi penegakan keadilan. Seorang dokter gigi dapat diminta melakukan pemeriksaan dan analisis jejas gigi atau diminta untuk memberikan keterangan ahli tentang jejas gigi yang telah diperoleh dokter gigi lain. Sumber bekas gigitan, media yang digunakan untuk mendokumen-tasikan dan teknik mentransfer bekas gigitan berfungsi sebagai alat penting dalam analisis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar analisis jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku. Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data forensik klinik dari RS Bhayangkara tingkat III Manado pada rentang tahun 2015-2019. Pada penelitian ini digunakan data dari 2197 kasus forensik klinik; diantaranya terdapat 34 kasus dengan jejas gigitan (bite mark). Lokasi jejas gigitan terbanyak ditemukan pada lengan (23,4%) dan paling sedikit pada pipi dan leher, (0,2%) serta didapatkan 85,29% jejas gigitan pada penelitian ini dapat dicocokkan dengan cetakan gigi tersangka. Simpulan penelitian ini ialah sebesar 85,2% jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku, namun ketidakcocokan pola gigi tidak secara otomatis menyingkirkan seseorang dari daftar tersangka. Variabel penentu seperti lokasi gigitan, pergerakan rahang atau bagian tubuh yang digigit, dan proses peradangan pada tubuh korban harus dijadikan bahan analisis dalam mengidentifikasi pelaku, agar tidak terjadi kesalahan identifikasi pelaku.Kata kunci: jejas gigitan, odontologi forensik, identifikasi pelaku
Title: Analisis Jejas Gigitan pada Kasus Forensik Klinik
Description:
Abstract: Examination of bite mark is one form of dental assistance for the enforcement of justice.
A dentist can examine bite mark or be asked his/her expert assessment of bite mark that has been recorded by another dentist.
The source of bite marks, the substrate onto which they are generated, and the technique of lifting the bite imprints serve as important tools in analysis.
This study was aimed to obtain mengetahui seberapa besar analisis jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku.
This was a retrospective and descriptive study, using clinical forensic data from RS Bhayangkara Tingkat III in Manado from January 2015 to December 2019.
This study used 2,197 clinical forensic cases data, of which there were 34 cases with bite marks.
The most common bite sites were found in the arms (23.
4%) and the least locations were found on the cheeks and neck (0.
2%).
There were 85.
29% of bite marks that could be matched with suspected tooth molds.
In conclusion, as many as 85.
29% of bite marks in this study could be matched with suspected tooth molds.
Albeit, mismatch of tooth patterns is not automatically removed somebody from the suspect list.
Determinant variables such as the location of bite mark, movement of the jaw or part of the body bitten, and the process of inflammation in the body of the victim must be used as material for analysis in identifying the perpetrators.
Keywords: bite mark, forensic odontology, identification of suspect Abstrak: Pemeriksaan jejas gigi (bite mark) merupakan salah satu bentuk bantuan dokter gigi bagi penegakan keadilan.
Seorang dokter gigi dapat diminta melakukan pemeriksaan dan analisis jejas gigi atau diminta untuk memberikan keterangan ahli tentang jejas gigi yang telah diperoleh dokter gigi lain.
Sumber bekas gigitan, media yang digunakan untuk mendokumen-tasikan dan teknik mentransfer bekas gigitan berfungsi sebagai alat penting dalam analisis.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar analisis jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku.
Jenis penelitian ini ialah deskriptif retrospektif, menggunakan data forensik klinik dari RS Bhayangkara tingkat III Manado pada rentang tahun 2015-2019.
Pada penelitian ini digunakan data dari 2197 kasus forensik klinik; diantaranya terdapat 34 kasus dengan jejas gigitan (bite mark).
Lokasi jejas gigitan terbanyak ditemukan pada lengan (23,4%) dan paling sedikit pada pipi dan leher, (0,2%) serta didapatkan 85,29% jejas gigitan pada penelitian ini dapat dicocokkan dengan cetakan gigi tersangka.
Simpulan penelitian ini ialah sebesar 85,2% jejas gigitan dapat mengungkapkan pelaku, namun ketidakcocokan pola gigi tidak secara otomatis menyingkirkan seseorang dari daftar tersangka.
Variabel penentu seperti lokasi gigitan, pergerakan rahang atau bagian tubuh yang digigit, dan proses peradangan pada tubuh korban harus dijadikan bahan analisis dalam mengidentifikasi pelaku, agar tidak terjadi kesalahan identifikasi pelaku.
Kata kunci: jejas gigitan, odontologi forensik, identifikasi pelaku.
Related Results
Representasi Komunikasi Forensik pada Film Ice Cold
Representasi Komunikasi Forensik pada Film Ice Cold
Abstract. The murder case of Mirna Salihin, which sparked controversy and inspired the making of the documentary film "Ice Cold." This film attempts to depict the chronology of the...
Perawatan Ortodontik Gigitan Terbuka Anterior
Perawatan Ortodontik Gigitan Terbuka Anterior
Perawatan gigitan terbuka anterior telah lama dianggap sebagai tantangan bagi ortodontis. Prevalensi gigitan terbuka anterior antara 3,5% hingga 11% terdapat pada berbagai usia dan...
ANALISIS PENATALAKSANAAN ADMINISTRASI PADA KLINIK PRATAMA DI KOTA KENDARI TAHUN 2023
ANALISIS PENATALAKSANAAN ADMINISTRASI PADA KLINIK PRATAMA DI KOTA KENDARI TAHUN 2023
Abstrak
Latar Belakang : Klinik Pratama sebagai penyedia jasa pelayanan kesehatan pada penatalaksanaan administrasi di Klinik Calista Farma dan Klinik Fonaselab Medical yait...
Pertolongan Pertama Gigitan Ular Berbisa Berbasis Masyarakat di Wilayah Kabupaten Probolinggo: Studi Fenomenologi
Pertolongan Pertama Gigitan Ular Berbisa Berbasis Masyarakat di Wilayah Kabupaten Probolinggo: Studi Fenomenologi
Indonesia merupakan Negara tropis dengan populasi ular berbisa yang banyak, terutama dilahan pertanian yang mengakibibatkan banyak petani tergigit ular berbisa namun diabaikan. Gig...
PENDIDIKAN AKUNTANSI FORENSIK DI INDONESIA: SEBUAH KAJIAN LITERATUR
PENDIDIKAN AKUNTANSI FORENSIK DI INDONESIA: SEBUAH KAJIAN LITERATUR
Penelitian ini menganalisis secara sistematis artikel dan penelitian yang sudah ada tentang pendidikan akuntansi forensik di Indonesia. Penelitian ini juga hendak mengidentifikasi ...
PENDIDIKAN AKUNTANSI FORENSIK DAN INVESTIGASI PENIPUAN
PENDIDIKAN AKUNTANSI FORENSIK DAN INVESTIGASI PENIPUAN
Tingginya kasus kecurangan yang terjadi di Indonesia, baik dalam sektor keuangan maupun publik telah menyebabkan banyak kerugian bagi masyarakat Indonesia, juga menjadi perhatian b...
Prevalensi Maloklusi Anterior pada Anak Usia 8-12 tahun di SDN Renged 1 Tangerang
Prevalensi Maloklusi Anterior pada Anak Usia 8-12 tahun di SDN Renged 1 Tangerang
Abstract: Epidemiologic data on the prevalence of malocclusion is an important determinant in planning appropriate orthodontic services. This study aimed to describe the prevalence...
GAMBARAN KLINIS PENDERITA KANKER SERVIKS SETELAH KEMOTERAPI BERDASARKAN STADIUM
GAMBARAN KLINIS PENDERITA KANKER SERVIKS SETELAH KEMOTERAPI BERDASARKAN STADIUM
Pengamatan gambaran klinik pada pada penderita kanker serviks merupakan hal yang sangat penting karena dapat mengevaluasi efektivitas kemoterapi. Tujuan yang ingin dicapai dalam pe...

