Javascript must be enabled to continue!
Prevalensi Maloklusi Anterior pada Anak Usia 8-12 tahun di SDN Renged 1 Tangerang
View through CrossRef
Abstract: Epidemiologic data on the prevalence of malocclusion is an important determinant in planning appropriate orthodontic services. This study aimed to describe the prevalence of anterior dental malocclusion which were crowding, spacing, protrusion teeth, crossbite, deep bite, and openbite among children. The study involved 106 students aged 8-12 years at Sekolah Dasar Negeri Renged I Tangerang (Elementary School) taken by stratified random sampling technique. Crowding teeth was measured by malalignment score using 45o ended plastic ruler, while crossbite and openbite were examined by inspection. The results showed that only 6.6% had normal occlusion and 93.4% had anterior dental malocclusion. Most cases were crowding (25.65%), followed by spacing, protrusion teeth, deep bite, anterior open bite, and anterior cross bites of 151 total cases. Statistical test showed significant relationships between age and crowding, spacing teeth, and cross bites. Meanwhile, there were no relationships between age and protrusion teeth, deep bite, and open bite. There was no significant relationship between gender and all types of anterior malocclusions. In conclusion, there is a high prevalence of anterior malocclusion among 8-12 years old children in Elementary School Renged I Tangerang.
Keywords: anterior malocclusion prevalence; children aged 8-12 years
Abstrak: Data epidemiologi mengenai prevalensi maloklusi anterior merupakan faktor penting dalam perencanaan yang tepat untuk layanan ortodontik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi berbagai kasus maloklusi anterior meliputi gigi berjejal, bercelah, gigi protrusif, gigitan silang, gigitan dalam dan terbuka pada anak. Subyek penelitian melibatkan 106 anak sekolah usia 8-12 tahun di Sekolah Dasar Negeri Renged I Tangerang. Pengukuran gigi berjejal dilakukan dengan skor indeks malalignment menggunakan penggaris plastik berujung 45o, sedangkan pengukuran gigi bercelah dilakukan dengan jangka berujung runcing, serta gigitan silang dan gigitan terbuka dilihat dengan inspeksi. Hasil pemeriksaan menunjukkan hanya 6,6% anak memiliki oklusi normal dan 93,4% mengalami maloklusi anterior. Jenis kasus maloklusi anterior terbanyak berturut-turut ialah gigi berjejal (25,65%), gigi bercelah, gigi protrusif, deep bite, open bite, dan cross bite dari total 151 kasus. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kelompok usia dengan gigi berjejal, gigi bercelah, dan gigitan silang namun tidak terdapat hubungan bermakna dengan gigi protrusif, gigitan dalam, serta gigitan terbuka. Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan seluruh jenis kasus maloklusi. Simpulan penelitian ini ialah terdapat prevalensi maloklusi anterior yang tinggi pada anak usia 8-12 tahun di SDN Renged I Tangerang.
Kata kunci: prevalensi maloklusi anterior; anak usia 8-12 tahun
Title: Prevalensi Maloklusi Anterior pada Anak Usia 8-12 tahun di SDN Renged 1 Tangerang
Description:
Abstract: Epidemiologic data on the prevalence of malocclusion is an important determinant in planning appropriate orthodontic services.
This study aimed to describe the prevalence of anterior dental malocclusion which were crowding, spacing, protrusion teeth, crossbite, deep bite, and openbite among children.
The study involved 106 students aged 8-12 years at Sekolah Dasar Negeri Renged I Tangerang (Elementary School) taken by stratified random sampling technique.
Crowding teeth was measured by malalignment score using 45o ended plastic ruler, while crossbite and openbite were examined by inspection.
The results showed that only 6.
6% had normal occlusion and 93.
4% had anterior dental malocclusion.
Most cases were crowding (25.
65%), followed by spacing, protrusion teeth, deep bite, anterior open bite, and anterior cross bites of 151 total cases.
Statistical test showed significant relationships between age and crowding, spacing teeth, and cross bites.
Meanwhile, there were no relationships between age and protrusion teeth, deep bite, and open bite.
There was no significant relationship between gender and all types of anterior malocclusions.
In conclusion, there is a high prevalence of anterior malocclusion among 8-12 years old children in Elementary School Renged I Tangerang.
Keywords: anterior malocclusion prevalence; children aged 8-12 years
Abstrak: Data epidemiologi mengenai prevalensi maloklusi anterior merupakan faktor penting dalam perencanaan yang tepat untuk layanan ortodontik.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi berbagai kasus maloklusi anterior meliputi gigi berjejal, bercelah, gigi protrusif, gigitan silang, gigitan dalam dan terbuka pada anak.
Subyek penelitian melibatkan 106 anak sekolah usia 8-12 tahun di Sekolah Dasar Negeri Renged I Tangerang.
Pengukuran gigi berjejal dilakukan dengan skor indeks malalignment menggunakan penggaris plastik berujung 45o, sedangkan pengukuran gigi bercelah dilakukan dengan jangka berujung runcing, serta gigitan silang dan gigitan terbuka dilihat dengan inspeksi.
Hasil pemeriksaan menunjukkan hanya 6,6% anak memiliki oklusi normal dan 93,4% mengalami maloklusi anterior.
Jenis kasus maloklusi anterior terbanyak berturut-turut ialah gigi berjejal (25,65%), gigi bercelah, gigi protrusif, deep bite, open bite, dan cross bite dari total 151 kasus.
Uji statistik menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kelompok usia dengan gigi berjejal, gigi bercelah, dan gigitan silang namun tidak terdapat hubungan bermakna dengan gigi protrusif, gigitan dalam, serta gigitan terbuka.
Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan seluruh jenis kasus maloklusi.
Simpulan penelitian ini ialah terdapat prevalensi maloklusi anterior yang tinggi pada anak usia 8-12 tahun di SDN Renged I Tangerang.
Kata kunci: prevalensi maloklusi anterior; anak usia 8-12 tahun.
Related Results
Maloklusi pada Penderita Cerebral Palsy
Maloklusi pada Penderita Cerebral Palsy
Cerebral palsy (CP) is a non-progressive disorder that affect the brain during the growth and development process. Various disorders in patients with cerebral palsy, such as dentoc...
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DENGAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN GIGI DAN MULUT REMAJA SMA DI BANJARMASIN
HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN MALOKLUSI DENGAN KUALITAS HIDUP TERKAIT KESEHATAN GIGI DAN MULUT REMAJA SMA DI BANJARMASIN
ABSTRACTBackground: Malocclusion is a form of deviation from normal occlusion and varies from mild to severe. Malocclusion is not a disease, but it can impact a person's quality of...
Proporsi klasifikasi maloklusi angle mahasiswa angkatan 2015 dan 2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
Proporsi klasifikasi maloklusi angle mahasiswa angkatan 2015 dan 2016 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
Maloklusi merupakan kondisi oklusi yang menyimpang dari keadaan normal, ditandai dengan ketidaksesuaian hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah. Maloklusi dapat dice...
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA KRISTEN
PEMBINAAN KARAKTER REMAJA KRISTEN
Sepanjang sejarah Alkitab khususnya dalam Perjanjian Baru menunjukkan bahwa Tuhan Yesus banyak memakai dan melibatkan anak-anak dalam pengajaran dan pelayanan-Nya ini membuktikan b...
REKOGNISI, MINAT, DAN MOTIVASI ORANGTUA TERHADAP EDUKASI PADA ANAK USIA DINI: STUDI MULTISITUS
REKOGNISI, MINAT, DAN MOTIVASI ORANGTUA TERHADAP EDUKASI PADA ANAK USIA DINI: STUDI MULTISITUS
Penelitian ini merupakan penelitian multisitus di dua lokasi penelitian yakni di TK Kartika XXI-17 Kota Gorontalo Dan RA Anajmushagir Kota Gorontalo Tujuan Penelitian ini adalah un...
PENGGUNAAN GADGET DENGAN RESIKO GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIF PADA ANAK USIA PRASEKOLAH
PENGGUNAAN GADGET DENGAN RESIKO GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIF PADA ANAK USIA PRASEKOLAH
Latar belakang: Survey yang dilakukan NSCH (National Survey of Children’s Health) di Amerika Serikat pada tahun 2016 mengatakan bahwa pada anak usia 2-17 tahun terdapat 9,4% atau s...
EVALUASI PELAYANAN STASIUN TANGERANG KOTA TANGERANG
EVALUASI PELAYANAN STASIUN TANGERANG KOTA TANGERANG
Stasiun Tangerang merupakan Stasiun KA yang berada di Kota Tangerang, Provinsi Banten. Stasiun Tangerang termasuk ke dalam kelas Stasiun Besar. Namun, pembangunan dan perbaikan saa...
KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
KARAKTERISTIK DAN KEBUTUHAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak-anak yang tumbuh dan berkembang dengan berbagai perbedaan dengan anak-anak pada umumnya. Istilah anak-anak dengan kebutuhan khusus t...

