Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Estetika Posmodern Puisi “Aku Ingin” Karya Saut Situmorang

View through CrossRef
Penelitian ini mengkaji estetika puisi “Aku Ingin” karya Saut Situmorang dengan melibatkan pengamatan unsur tekstual dan ekstratekstual, unsur-unsur di dalam dan di luar teks puisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat lima gejala estetika puisi “Aku Ingin” karya Saut Situmorang mencakupi (1) pastiche, (2) parodi, (3) kitsch, (4) camp, dan (5) skizofrenia. Transformasi puisi yang lebih dahulu ada, yakni “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono ke dalam bentuk puisi baru versi Saut menunjukkan gejala pastiche. Gejala pastiche juga terlihat dalam hubungan intertekstualitas dengan teks sebelumnya, yakni drama tragedi Romeo and Juliet. Pemikiran dan ungkapan penyair Sapardi diimitasi sedemikian rupa untuk membuatnya tampak absurd. Ungkapan “mencintai dengan membabi buta” ali-alih “mencintai dengan sederhana” menjadi sebuah penanda imitasi karya yang dibuat mendekati aslinya tetapi disimpangkan arahnya menunjukkan gejala parodi. Gejala kitsch terlihat pada masuknya drama tragedi Romeo and Juliet dalam puisi yang menunjukkan hilangnya batas hasil dan nilai-nilai budaya tinggi dengan budaya massa kontemporer. Gejala camp terlihat pada jawaban Saut terhadap “kebosanan” dan sekaligus merupakan satu reaksi terhadap keangkuhan kebudayaan tinggi yang telah memisahkan seni dari makna-makna sosial dan fungsi komunikasi sosial yang dapat dilihat pada ungkapan “tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi” serta “yang membuatnya jadi abadi”. Gejala skizofrenia terlihat pada kekacauan pertandaan klitika “-Ku” dan “-Mu” pada ungkapan “mencintaiMu” dan “mencintaiKu” sebagai objek penyerta. Skizofrenia juga tampak pada kompleksitas susunan puisi yang terpecah-pecah, bahkan kenirhubungan antara baris pertama dan kedua di tiap bait puisi juga menunjukkan adanya idiom serupa. Kesemua temuan tersebut mentabalkan ciri estetika postmodernisme dalam puisi Saut, yakni ciri yang memanfaatkan citra dan tanda yang tanpa batas dengan cara menghancurkan makna, mengangkat hal-hal yang telah sekian lama dianggap tabu untuk menuju implikatur perenungan mendalam, berfikir intensif, dan perhatian penuh pembaca yang menjadi ciri keindahan postmodern. 
Title: Estetika Posmodern Puisi “Aku Ingin” Karya Saut Situmorang
Description:
Penelitian ini mengkaji estetika puisi “Aku Ingin” karya Saut Situmorang dengan melibatkan pengamatan unsur tekstual dan ekstratekstual, unsur-unsur di dalam dan di luar teks puisi.
Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat lima gejala estetika puisi “Aku Ingin” karya Saut Situmorang mencakupi (1) pastiche, (2) parodi, (3) kitsch, (4) camp, dan (5) skizofrenia.
Transformasi puisi yang lebih dahulu ada, yakni “Aku Ingin” karya Sapardi Djoko Damono ke dalam bentuk puisi baru versi Saut menunjukkan gejala pastiche.
Gejala pastiche juga terlihat dalam hubungan intertekstualitas dengan teks sebelumnya, yakni drama tragedi Romeo and Juliet.
Pemikiran dan ungkapan penyair Sapardi diimitasi sedemikian rupa untuk membuatnya tampak absurd.
Ungkapan “mencintai dengan membabi buta” ali-alih “mencintai dengan sederhana” menjadi sebuah penanda imitasi karya yang dibuat mendekati aslinya tetapi disimpangkan arahnya menunjukkan gejala parodi.
Gejala kitsch terlihat pada masuknya drama tragedi Romeo and Juliet dalam puisi yang menunjukkan hilangnya batas hasil dan nilai-nilai budaya tinggi dengan budaya massa kontemporer.
Gejala camp terlihat pada jawaban Saut terhadap “kebosanan” dan sekaligus merupakan satu reaksi terhadap keangkuhan kebudayaan tinggi yang telah memisahkan seni dari makna-makna sosial dan fungsi komunikasi sosial yang dapat dilihat pada ungkapan “tanpa sangsi yang membuat kematiannya jadi puisi” serta “yang membuatnya jadi abadi”.
Gejala skizofrenia terlihat pada kekacauan pertandaan klitika “-Ku” dan “-Mu” pada ungkapan “mencintaiMu” dan “mencintaiKu” sebagai objek penyerta.
Skizofrenia juga tampak pada kompleksitas susunan puisi yang terpecah-pecah, bahkan kenirhubungan antara baris pertama dan kedua di tiap bait puisi juga menunjukkan adanya idiom serupa.
Kesemua temuan tersebut mentabalkan ciri estetika postmodernisme dalam puisi Saut, yakni ciri yang memanfaatkan citra dan tanda yang tanpa batas dengan cara menghancurkan makna, mengangkat hal-hal yang telah sekian lama dianggap tabu untuk menuju implikatur perenungan mendalam, berfikir intensif, dan perhatian penuh pembaca yang menjadi ciri keindahan postmodern.
 .

Related Results

Late-Onset Alkaptonuria in an Elderly Male: A Case Report and Literature Review
Late-Onset Alkaptonuria in an Elderly Male: A Case Report and Literature Review
Abstract Introduction: Alkaptonuria (AKU) is a rare autosomal recessive metabolic disorder caused by homogentisate 1,2-dioxygenase deficiency, leading to homogentisic acid accumula...
APRESIASI PUISI DALAM GERAKAN LITERASI
APRESIASI PUISI DALAM GERAKAN LITERASI
Memahami puisi dan memahami prosa ada bedanya. Ini disebabkan karena bahasa yang digunakan dalam puisi berbeda dengan yang dipakai prosa. Memahami puisi mungkin sedikit lebih rumit...
Kajian Semiotika pada Kumpulan Puisi Nyanyian Pesisir Karya Marsel Robot
Kajian Semiotika pada Kumpulan Puisi Nyanyian Pesisir Karya Marsel Robot
Kumpulan puisi Nyanyian Pesisir karya Marsel Robot merupakan objek kajian dalam artikel ini. Puisi mengekpresikan pengalaman, pengetahuan, dan perasaan ...
Membaca Puisi
Membaca Puisi
Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra. Secara etimologis kata puisi berasal dari bahasa Yunani poeima yang berarti membuat atau poeisis yang berarti pembuatan, dalam bahasa I...
KARAKTERISTIK PUISI KARYA-KARYA W.S RENDRA
KARAKTERISTIK PUISI KARYA-KARYA W.S RENDRA
Puisi memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain, adanya sebuah karakteristik dikarenakan ada faktor pembeda. Karakteristik puisi adalah ciri khas yang terdapat didalam pui...
ESTETIKA DAN MAKNA DALAM PUISI “UNTUK CORONA TANPA MENGELUH” KARYA SALAMI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
ESTETIKA DAN MAKNA DALAM PUISI “UNTUK CORONA TANPA MENGELUH” KARYA SALAMI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
ABSTRAK Penelilitian ini membahas estetika dan makna dalam puisi “Untuk Corona tanpa Mengeluh” karya Salami, serta implikasinya dengan pembelajaran di sekolah. Metode yang dip...
Analisis Sastra Siber Puisi Aku Ingin Karya Saut Situmorang Menggunakan Pendekatan Objektif pada Platform Wattpad
Analisis Sastra Siber Puisi Aku Ingin Karya Saut Situmorang Menggunakan Pendekatan Objektif pada Platform Wattpad
The literary work of poetry, whether in cyber form or not, is inseparable from the activity of analysis. Poetry can be examined from various aspects, one of which is through an obj...

Back to Top