Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

REPRESENTASI DISKRIMINASI TERHADAP PENYANDANG AUTISME SEBAGAI SAKSI DI PENGADILAN DALAM FILM INNOCENT WITNESS (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)

View through CrossRef
Film adalah fenomena sosial yang memiliki banyak pemaknaan. Salah satu fenomena yang sering diangkat ke dalam film adalah diskriminasi dan stigmatisasi yang juga dialami oleh penyandang autisme. Salah satu film yang menceritakan fenomena tersebut adalah film Innocent Witness yang menceritakan tentang penyandang autisme yang menjadi saksi tunggal dalam sebuah kasus pembunuhan. Untuk meneliti film Innocent Witness digunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori semiotik Charles Sanders Peirce. Teori ini akan digunakan untuk mengetahui bagaimana representasi diskriminasi terhadap penyandang autisme sebagai saksi di pengadilan dalam film Innocent Witness. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 sequence dalam film Innocent Witness yang di dalamnya terdapat 10 adegan yang menggambarkan diskriminasi terhadap penyandang autisme. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah penyandang autisme mengalami diskriminasi lingkungan yang tidak ramah kepada penyandang autisme. Dimana penyandang autisme kesulitan berada di tempat umum karena sangat mengganggu pendengarannya. Penyandang autisme juga didiskriminasi karena ia seorang perempuan dengan disabilitas dimana di Korea Selata patriarki masih terasa jelas. Diskriminasi terhadap penyandang autisme juga dilakukan agar terdakwa tidak dihukum dan reputasi firma hukum pengacara pembela membaik. Namun kemudian, diskriminasi terhadap penyandang autisme mulai berkurang karena kebenaran kasus akhirnya terungkap dan terdakwa mengakui perbuatannya. Kata Kunci: representasi, diskriminasi, semiotika, penyandang autisme, film, analisis semiotika charles sanders peirce
Universitas Negeri Surabaya
Title: REPRESENTASI DISKRIMINASI TERHADAP PENYANDANG AUTISME SEBAGAI SAKSI DI PENGADILAN DALAM FILM INNOCENT WITNESS (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)
Description:
Film adalah fenomena sosial yang memiliki banyak pemaknaan.
Salah satu fenomena yang sering diangkat ke dalam film adalah diskriminasi dan stigmatisasi yang juga dialami oleh penyandang autisme.
Salah satu film yang menceritakan fenomena tersebut adalah film Innocent Witness yang menceritakan tentang penyandang autisme yang menjadi saksi tunggal dalam sebuah kasus pembunuhan.
Untuk meneliti film Innocent Witness digunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan menggunakan teori semiotik Charles Sanders Peirce.
Teori ini akan digunakan untuk mengetahui bagaimana representasi diskriminasi terhadap penyandang autisme sebagai saksi di pengadilan dalam film Innocent Witness.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 2 sequence dalam film Innocent Witness yang di dalamnya terdapat 10 adegan yang menggambarkan diskriminasi terhadap penyandang autisme.
Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah penyandang autisme mengalami diskriminasi lingkungan yang tidak ramah kepada penyandang autisme.
Dimana penyandang autisme kesulitan berada di tempat umum karena sangat mengganggu pendengarannya.
Penyandang autisme juga didiskriminasi karena ia seorang perempuan dengan disabilitas dimana di Korea Selata patriarki masih terasa jelas.
Diskriminasi terhadap penyandang autisme juga dilakukan agar terdakwa tidak dihukum dan reputasi firma hukum pengacara pembela membaik.
Namun kemudian, diskriminasi terhadap penyandang autisme mulai berkurang karena kebenaran kasus akhirnya terungkap dan terdakwa mengakui perbuatannya.
Kata Kunci: representasi, diskriminasi, semiotika, penyandang autisme, film, analisis semiotika charles sanders peirce.

Related Results

Keperluan Prosedur Operasi Standard (SOP) Tangkapan dan Tahanan Individu Autisme untuk Pegawai Penguatkuasa Agama
Keperluan Prosedur Operasi Standard (SOP) Tangkapan dan Tahanan Individu Autisme untuk Pegawai Penguatkuasa Agama
Individu autisme mengalami kecelaruan perkembangan-neuro dan menyebabkan kekurangan dari segi kemahiran sosial dan imaginasi. Situasi ini menjadikan mereka terdedah dan agak cender...
TELAAH NILAI PEMBUKTIAN DAN KEKUATAN PEMBUKTIAN ATAS PERLUASAN KETERANGAN SAKSI TESTIMONIUM DE AUDITU
TELAAH NILAI PEMBUKTIAN DAN KEKUATAN PEMBUKTIAN ATAS PERLUASAN KETERANGAN SAKSI TESTIMONIUM DE AUDITU
<p align="center"><strong><em>ABSTRAK</em></strong></p><p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai  kesesuaian pembuktia...
PERKEMBANGAN HUKUM PENYANDANG AUTISME DI INDONESIA
PERKEMBANGAN HUKUM PENYANDANG AUTISME DI INDONESIA
Pertanggungjawaban pidana bagi penyandang autisme adalah isu penting dalam hukum pidana, terkait dengan kemampuan individu untuk memahami tindakan dan konsekuensinya, yang dipengar...
Kedudukan Hukum Saksi Instrumentair Terkait Keautentikan Akta Notaris
Kedudukan Hukum Saksi Instrumentair Terkait Keautentikan Akta Notaris
The legal status of a Notary employee in his capacity is a witness of the Instrumentair to support the validity of an authentic deed which is inseparable and has legal consequences...
REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)
REPRESENTASI NASIONALISME DALAM FILM RUDY HABIBIE (STUDI ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE)
Semiotika merupakan ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.Periset akan menganalisis film dengan menggunakan kajian semiotika Charles Sanders Pierce. Film yang akan di rise...
REPRESENTATION OF FEMINISM ON THE CHARACTER OF ENOLA HOLMES IN THE ENOLA HOLMES FILM: JOHN FISKE'S SEMIOTICS ANALYSIS
REPRESENTATION OF FEMINISM ON THE CHARACTER OF ENOLA HOLMES IN THE ENOLA HOLMES FILM: JOHN FISKE'S SEMIOTICS ANALYSIS
 Abstract   The popularity of film as an object in literary studies creates many adaptations of literary works from the written form into a film. The meaning of the film as a repre...
DESAIN RUANG TERAPI WICARA ANAK PENYANDANG AUTISME
DESAIN RUANG TERAPI WICARA ANAK PENYANDANG AUTISME
Autism atau autisme merupakan istilah yang pertama kali dipopulerkan pada tahun 1943 oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari John Hopkins University. Dikutip dari CNN Indonesia (20...

Back to Top