Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TINJAUAN MAQASHID AL-SYARI’AH TERHADAP IHDAD PEREMPUAN PEKERJA PABRIK DI PT. SELALU CINTA INDONESIA (SCI)

View through CrossRef
ABSTRACT Iddah is a waiting period experienced by women after divorce or the death of their husbands. During the iddah period, women are obligated to undergo ihdad. However, there is a phenomenon where women working at PT. Selalu Cinta Indonesia (SCI) factory do not comply with the ihdad obligation. The purpose of this research is to investigate the Maqashid Al-Syariah perspective on this phenomenon. The research employs a field research approach with a qualitative method that has a juridical-sociological nature. Data collection techniques involve interviews and document reviews, including books, articles, journals, and mass media. The research concludes that female factory workers at PT. Selalu Cinta Indonesia (SCI) in Randuacir Village, Argomulyo District, Salatiga City, have not fully observed ihdad during the waiting period. They continue to work during iddah to meet personal needs, support their children, and adapt to the social conditions of their residential area. In the context of Maqashid Al-Syariah, women are allowed to work during iddah if it is related to the protection of well-being or benefit, including aspects such as hifdh al-nafs (protection of the soul), hifdh al-aql (protection of reason), and hifdh al-mal (protection of wealth). Keywords: ihdad, working women, Maqashid Al-Syari'ah   ABSTRAK Iddah merupakan periode menunggu yang dijalani oleh perempuan setelah bercerai atau suaminya meninggal. Selama masa iddah, perempuan diwajibkan untuk menjalani ihdad. Namun, terdapat fenomena di mana perempuan yang bekerja di pabrik PT. Selalu Cinta Indonesia (SCI) tidak mematuhi kewajiban ihdad. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki Tinjauan Maqashid Al-Syariah terhadap fenomena tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian lapangan dengan metode kualitatif yang bersifat yuridis sosiologis. Teknik pengumpulan data melibatkan wawancara dan telaah dokumen seperti buku, artikel, jurnal, dan media massa. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perempuan pekerja di PT. Selalu Cinta Indonesia (SCI) Desa Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, masih belum melaksanakan ihdad dengan semestinya. Mereka tetap bekerja selama masa iddah dengan alasan memenuhi kebutuhan pribadi, anak-anak, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan kondisi sosial di daerah tempat tinggal mereka. Dalam konteks Maqashid Al-Syariah, perempuan diizinkan bekerja selama masa iddah jika hal tersebut berkaitan dengan perlindungan kesejahteraan atau kemaslahatan, termasuk aspek-aspek seperti hifdh al-nafs (perlindungan jiwa), hifdh al-aql (perlindungan akal), dan hifdh al-mal (perlindungan harta). Kata Kunci: ihdad, perempuan pekerja, Maqashid  Al-Syari’ah
Title: TINJAUAN MAQASHID AL-SYARI’AH TERHADAP IHDAD PEREMPUAN PEKERJA PABRIK DI PT. SELALU CINTA INDONESIA (SCI)
Description:
ABSTRACT Iddah is a waiting period experienced by women after divorce or the death of their husbands.
During the iddah period, women are obligated to undergo ihdad.
However, there is a phenomenon where women working at PT.
Selalu Cinta Indonesia (SCI) factory do not comply with the ihdad obligation.
The purpose of this research is to investigate the Maqashid Al-Syariah perspective on this phenomenon.
The research employs a field research approach with a qualitative method that has a juridical-sociological nature.
Data collection techniques involve interviews and document reviews, including books, articles, journals, and mass media.
The research concludes that female factory workers at PT.
Selalu Cinta Indonesia (SCI) in Randuacir Village, Argomulyo District, Salatiga City, have not fully observed ihdad during the waiting period.
They continue to work during iddah to meet personal needs, support their children, and adapt to the social conditions of their residential area.
In the context of Maqashid Al-Syariah, women are allowed to work during iddah if it is related to the protection of well-being or benefit, including aspects such as hifdh al-nafs (protection of the soul), hifdh al-aql (protection of reason), and hifdh al-mal (protection of wealth).
Keywords: ihdad, working women, Maqashid Al-Syari'ah   ABSTRAK Iddah merupakan periode menunggu yang dijalani oleh perempuan setelah bercerai atau suaminya meninggal.
Selama masa iddah, perempuan diwajibkan untuk menjalani ihdad.
Namun, terdapat fenomena di mana perempuan yang bekerja di pabrik PT.
Selalu Cinta Indonesia (SCI) tidak mematuhi kewajiban ihdad.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki Tinjauan Maqashid Al-Syariah terhadap fenomena tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian lapangan dengan metode kualitatif yang bersifat yuridis sosiologis.
Teknik pengumpulan data melibatkan wawancara dan telaah dokumen seperti buku, artikel, jurnal, dan media massa.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa perempuan pekerja di PT.
Selalu Cinta Indonesia (SCI) Desa Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, masih belum melaksanakan ihdad dengan semestinya.
Mereka tetap bekerja selama masa iddah dengan alasan memenuhi kebutuhan pribadi, anak-anak, dan menyesuaikan diri dengan tuntutan kondisi sosial di daerah tempat tinggal mereka.
Dalam konteks Maqashid Al-Syariah, perempuan diizinkan bekerja selama masa iddah jika hal tersebut berkaitan dengan perlindungan kesejahteraan atau kemaslahatan, termasuk aspek-aspek seperti hifdh al-nafs (perlindungan jiwa), hifdh al-aql (perlindungan akal), dan hifdh al-mal (perlindungan harta).
Kata Kunci: ihdad, perempuan pekerja, Maqashid  Al-Syari’ah.

Related Results

Telaah Atas Konsep Khilafah Al-Mawardi (Studi Deskriptif Analisis)
Telaah Atas Konsep Khilafah Al-Mawardi (Studi Deskriptif Analisis)
<p><strong>Abstract</strong><strong></strong></p><p>Al-Mawardi was a Muslim scholar who was very well known for his Islamic political theo...
Penerapan Maqashid Asy-Syari‘Ah Pada Sistem Ekonomi Syariah
Penerapan Maqashid Asy-Syari‘Ah Pada Sistem Ekonomi Syariah
Maqāshid asy-syari‘ah merupakan merupakan faktor yang paling menentukan dalam melahirkan produk-produk ekonomi syari’ah yang dapat berperan ganda (alat sosial-kontrol dan rekayasa ...
Metafora cinta dalam bahasa Batak Toba
Metafora cinta dalam bahasa Batak Toba
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kategorisasi metafora konseptual cinta dalam bahasa Batak Toba. Data yang digunakan adalah data tulis dan data lisan. Data tulis dipe...
Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Dalam Sistem Hukum Nasional
Perlindungan Pekerja Rumah Tangga Dalam Sistem Hukum Nasional
The role of house worker is very important in our daily life. Developing of work frame fo house worker are more extend and complex as advance as the era. Kencana foundation is foun...
Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Kesehatan Pekerja Di Bagian Power Plant Ptpn XIV Pabrik Gula Camming
Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Kesehatan Pekerja Di Bagian Power Plant Ptpn XIV Pabrik Gula Camming
Kesehatan dan keselamatan masyarakat pekerja sangat terkait hubungannya dengan kesejahteraan dari pekerja itu sendiri. Perusahaan jelas ingin pekerja sehat, dikarenakan pekerja yan...
Eksistensi Digital Wedding Di Era Disrupsi Dalam Maqashid Syariah
Eksistensi Digital Wedding Di Era Disrupsi Dalam Maqashid Syariah
Abstract The era of disruption has presented a new phenomenon in wedding procedures, namely digital weddings.  The emergence of digital marriage raises questions about its validity...
Maqâshid al-Syarî`ah al-Shâthibî and Ibn `Ashûr’s Perspectives on al-Qitâl Verse
Maqâshid al-Syarî`ah al-Shâthibî and Ibn `Ashûr’s Perspectives on al-Qitâl Verse
The verse of al-Qitâl is frequently exploited as a symbol to instill a negative stigma against Islam and trigger the emergence of religious radicalism, which disrupts Muslim-non-Mu...
CLIMATE-2019 Program committee
CLIMATE-2019 Program committee
NOTITLE. Chairman Mokhov Igor RAS academecian, Dr. Sci., Professor ...

Back to Top