Javascript must be enabled to continue!
Pelatihan Pembuatan Salep Tanaman Kalangkala (Litsea angulata) untuk Mengatasi Penyakit Kutu Air pada Masyarakat Terdampak Banjir
View through CrossRef
Indonesia in one of the tropical countries that has high temperatures and humidity, which is a good atmosphere for the growth of fungi. Banjar Regency became one of the districts affected by the worst floods in 2020 and 2021. It is known that the incidence of diseases caused by fungi in Indonesia ranged from 2,93 – 27,6% for 2009 – 2011 and the prevalence of skin diseases in flood-affected communities was 47,57%. Empirically, the people of South Kalimantan use the Kalangkala plant for treatments such as diarrhea, skin diseases, anticancer and antimicrobials. Kalangkala is also known to contain flavonoid compounds that function as antimicrobials and kalangkala leaf extract has inhibitory power against Staphylococcus aureus bacterium that causes skin diseases. From a preliminary study, 83% of respondents said they knew about kalangkala plants but as many as 79% did not know that kalangkala plants have properties. And 93% of respondents said they wanted to know how to make an ointment for water fleas. To find out the level of knowledge of the community before and after the delivery of education and training, pre-tests and post-tests were carried out, followed by the community of RT 02 Gudang Hirang Village. Based on the percentage obtained, it shows that there is an increase in public understanding regarding when to stop using ointment by 6% and signs of damaged ointment by 26%. As many as 87% of the people who took part in the ointment making training stated that they could show how to make the ointment that had been delivered. Abstrak: Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi, dimana merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur. Kabupaten Banjar menjadi salah satu Kabupaten terdampak Banjir paling parah pada tahun 2020 dan 2021. Diketahui insidensi penyakit yang disebabkan oleh jamur di Indonesia berkisar 2,93-27,6% untuk tahun 2009-2011 dan prevalensi penyakit kulit pada masyarakat yang terdampak banjir sebesar 47,57%. Secara empiris masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan tanaman Kalangkala untuk pengobatan seperti diare, penyakit kulit, antikanker dan antimikroba. Kalangkala juga diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba dan ekstrak daun kalangkala memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus bakteri penyebab penyakit kulit. Dari studi pendahuluan sebanyak 83% responden mengatakan mengetahui tentang tanaman kalangkala namun sebanyak 79% tidak mengetahui bahwa tanaman kalangkala memiliki khasiat. Dan 93% responden mengatakan ingin mengetahui bagaimana cara pembuatan salep untuk kutu air. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah penyampaian edukasi dan pelatihan dilakukan pre-test dan post-test yang diikuti masyarakat RT 02 Desa Gudang Hirang.Berdasarkan presentase yang didapatkan menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman masyarakat terkait kapan menghentikan penggunaan salep sebanyak 6% dan tanda-tanda salep rusak sebanyak 26%. Sebanyak 87% masyarakat yang mengikuti pelatihan pembuatan salep menyatakan bisa menunjukkan bagaimana cara pembuatan salep yang telah disampaikan.
Title: Pelatihan Pembuatan Salep Tanaman Kalangkala (Litsea angulata) untuk Mengatasi Penyakit Kutu Air pada Masyarakat Terdampak Banjir
Description:
Indonesia in one of the tropical countries that has high temperatures and humidity, which is a good atmosphere for the growth of fungi.
Banjar Regency became one of the districts affected by the worst floods in 2020 and 2021.
It is known that the incidence of diseases caused by fungi in Indonesia ranged from 2,93 – 27,6% for 2009 – 2011 and the prevalence of skin diseases in flood-affected communities was 47,57%.
Empirically, the people of South Kalimantan use the Kalangkala plant for treatments such as diarrhea, skin diseases, anticancer and antimicrobials.
Kalangkala is also known to contain flavonoid compounds that function as antimicrobials and kalangkala leaf extract has inhibitory power against Staphylococcus aureus bacterium that causes skin diseases.
From a preliminary study, 83% of respondents said they knew about kalangkala plants but as many as 79% did not know that kalangkala plants have properties.
And 93% of respondents said they wanted to know how to make an ointment for water fleas.
To find out the level of knowledge of the community before and after the delivery of education and training, pre-tests and post-tests were carried out, followed by the community of RT 02 Gudang Hirang Village.
Based on the percentage obtained, it shows that there is an increase in public understanding regarding when to stop using ointment by 6% and signs of damaged ointment by 26%.
As many as 87% of the people who took part in the ointment making training stated that they could show how to make the ointment that had been delivered.
Abstrak: Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis yang memiliki suhu dan kelembaban tinggi, dimana merupakan suasana yang baik bagi pertumbuhan jamur.
Kabupaten Banjar menjadi salah satu Kabupaten terdampak Banjir paling parah pada tahun 2020 dan 2021.
Diketahui insidensi penyakit yang disebabkan oleh jamur di Indonesia berkisar 2,93-27,6% untuk tahun 2009-2011 dan prevalensi penyakit kulit pada masyarakat yang terdampak banjir sebesar 47,57%.
Secara empiris masyarakat Kalimantan Selatan menggunakan tanaman Kalangkala untuk pengobatan seperti diare, penyakit kulit, antikanker dan antimikroba.
Kalangkala juga diketahui mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antimikroba dan ekstrak daun kalangkala memiliki daya hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus bakteri penyebab penyakit kulit.
Dari studi pendahuluan sebanyak 83% responden mengatakan mengetahui tentang tanaman kalangkala namun sebanyak 79% tidak mengetahui bahwa tanaman kalangkala memiliki khasiat.
Dan 93% responden mengatakan ingin mengetahui bagaimana cara pembuatan salep untuk kutu air.
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat sebelum dan sesudah penyampaian edukasi dan pelatihan dilakukan pre-test dan post-test yang diikuti masyarakat RT 02 Desa Gudang Hirang.
Berdasarkan presentase yang didapatkan menunjukkan terjadi peningkatan pemahaman masyarakat terkait kapan menghentikan penggunaan salep sebanyak 6% dan tanda-tanda salep rusak sebanyak 26%.
Sebanyak 87% masyarakat yang mengikuti pelatihan pembuatan salep menyatakan bisa menunjukkan bagaimana cara pembuatan salep yang telah disampaikan.
Related Results
DISTRIBUTION, MORPHOLOGICAL VARIATION AND NEW VARIETY OF BACCAUREA ANGULATA MERR. (PHYLLANTHACEAE)
DISTRIBUTION, MORPHOLOGICAL VARIATION AND NEW VARIETY OF BACCAUREA ANGULATA MERR. (PHYLLANTHACEAE)
Gunawan, Tatik Chikmawati, Sobir & Sulistijorini.2018. Distribusi, Variasi Morfologi dan Varietas Baru dari Baccaurea angulata Merr. (Phyllanthaceae). Floribunda 6(1): 1–11. — ...
PROFIL KROMATOGRAFI DAN PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL FRAKSI AQUADEST DAUN KALANGKALA (LITSEA ANGULATA. BLUM) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
PROFIL KROMATOGRAFI DAN PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL FRAKSI AQUADEST DAUN KALANGKALA (LITSEA ANGULATA. BLUM) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS
Kalangkala (Litsea angulata) merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan yang secara empiris digunakan untuk mengobati bisul, diare, dyspepsia, diabetes dan secara penelitian daun k...
Profil Kromatografi dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Fraksi Aquadest Daun Kalangkala (Litsea angulata. Blum) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis
Profil Kromatografi dan Penentuan Kadar Flavonoid Total Fraksi Aquadest Daun Kalangkala (Litsea angulata. Blum) Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis
Kalangkala (Litsea angulata) merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan yang secara empiris digunakan untuk mengobati bisul, diare, dyspepsia, diabetes dan secara penelitian daun k...
Kajian Penelusuran Banjir Batang Tambuo
Kajian Penelusuran Banjir Batang Tambuo
Batang Tambuo adalah sebuah sungai yang mengalir melewati di Kecamatan Aur Birugo, Kota Bukittinggi. Daerah Aliran Sungai Batang (DAS) Tambuo ini sering kali mengalami banjir. Musi...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Peta Sebaran Kutu Putih (Pseudococcidae) di Pulau Ternate, Maluku Utara
Peta Sebaran Kutu Putih (Pseudococcidae) di Pulau Ternate, Maluku Utara
Kutu putih (Hemiptera: Pseudococcidae) merupakan kelompok serangga hama penting yang bersifat polifag dan mampu menyerang berbagai jenis tanaman budidaya, hortikultura, dan tanaman...
Aplikasi PGPR Akar Bambu dan Akar Putri Malu dalam Mengurangi Intensitas Serangan Aphis gosypii pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.)
Aplikasi PGPR Akar Bambu dan Akar Putri Malu dalam Mengurangi Intensitas Serangan Aphis gosypii pada Tanaman Cabai (Capsicum annum L.)
Plant growth promoting rhizobacter (PGPR) mengandung Rhizobacter yang dapat memfiksasi nitrogen bebas yang berada di alam, nitrogen tersebut diubah menjadi amonia yang selanjutnya ...
Preferensi Bemisia tabaci Genn. dan Kaitannya dengan Karakter Anatomi dan Morfologi Daun pada Cabai (Capsicum annuum L.)
Preferensi Bemisia tabaci Genn. dan Kaitannya dengan Karakter Anatomi dan Morfologi Daun pada Cabai (Capsicum annuum L.)
Identifikasi karakter seleksi yang tepat diperlukan dalam pemuliaan tanaman untuk menghasilkan varietas cabai yang tahan terhadap kutu kebul Bemisia tabaci Genn. Tujuan penelitian ...

