Javascript must be enabled to continue!
KAJIAN RISIKO BENCANA DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TURYAPADA TOWER , KABUPATEN BULELENG, BALI
View through CrossRef
Sektor pariwisata berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian di Provinsi Bali. Infrastruktur pariwisata di Bali hanya berfokus di area selatan Bali yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar sehingga terjadinya fenomena overtourism. Pembangunan menara Turyapada dipersiapkan sebagai pemeretaan infrastruktur di area utara Bali sebagai sarana pengembangan jaringan telekomunikasi dan kawasan wisata baru. Akan tetapi, lokasi pembangunan Tower Turyapada di kecamatan Sukasada kabupaten Buleleng terletak di wilayah yang berpontesial terhadap bencana alam. Oleh karena itu perlu kajian risiko bencana yang komprehensif untuk menyiapkan infrastruktur kepariwisataan yang Tangguh bencana. Studi ini bertujuan untuk mengkaji risiko bencana dalam pembangunan infrastruktur menara, mengidentifikasi potensi bahaya, menganalisis kerentanan, serta merumuskan strategi mitigasi yang efektif. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan, wawancara dan focus group discussion. Data sekunder diambil dari studi literatur dan data historis kebencanaan yang pernah terjadi di lokasi tersebut. Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan kajian analisis risiko bencana mencakup identifikasi bahaya, analisis kerentanan, dan evaluasi kapasitas tower Turyapada dari bencana alam. Hasil analisis risiko menjadi acuan untuk melakukan strategi mitigasi yang tepat secara struktural dan non-struktural.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pembangunan Menara diidentifikasikan memiliki bahaya yang cukup tinggi untuk tanah longsor dan cuaca ekstrim. Kawasan ini juga memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap gempa bumi, tanah longsor, dan cuaca ekstrim. Untuk kapasitas, pembangunan tower diasumsikan telah memenuhi kriteria desain yang telah dipakai sesuai dengan SNI sehingga dianggap memiliki kapasitas yang cukup baik. Analisis kajian risiko bencana diskoring berdasarkan skor bahaya, kerentanan, dan kapasitas sehingga didapatkan bencana tanah longsor merupakan level tinggi, cuaca ekstrim level sedang, dan gempa bumi, kebakaran hutan&lahan, dan letusan gunung api dalam level rendah. Strategi mitigasi struktural meliputi pembangunan dindin penahan tanah di sekitar tower untuk mengatasi tanah longsor dan pemasangan alat pendeteksi cuaca otomatis untuk memantau kondisi cuaca ekstrim. Mitigasi non-struktural mencakup pengembangan wisata sadar bencana dan penyusunan rencana jalur evakuasi.
Title: KAJIAN RISIKO BENCANA DALAM PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR TURYAPADA TOWER , KABUPATEN BULELENG, BALI
Description:
Sektor pariwisata berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian di Provinsi Bali.
Infrastruktur pariwisata di Bali hanya berfokus di area selatan Bali yaitu Kabupaten Badung dan Kota Denpasar sehingga terjadinya fenomena overtourism.
Pembangunan menara Turyapada dipersiapkan sebagai pemeretaan infrastruktur di area utara Bali sebagai sarana pengembangan jaringan telekomunikasi dan kawasan wisata baru.
Akan tetapi, lokasi pembangunan Tower Turyapada di kecamatan Sukasada kabupaten Buleleng terletak di wilayah yang berpontesial terhadap bencana alam.
Oleh karena itu perlu kajian risiko bencana yang komprehensif untuk menyiapkan infrastruktur kepariwisataan yang Tangguh bencana.
Studi ini bertujuan untuk mengkaji risiko bencana dalam pembangunan infrastruktur menara, mengidentifikasi potensi bahaya, menganalisis kerentanan, serta merumuskan strategi mitigasi yang efektif.
Metode penelitian dilakukan dengan melakukan pengumpulan data primer melalui observasi lapangan, wawancara dan focus group discussion.
Data sekunder diambil dari studi literatur dan data historis kebencanaan yang pernah terjadi di lokasi tersebut.
Setelah data dikumpulkan, maka dilakukan kajian analisis risiko bencana mencakup identifikasi bahaya, analisis kerentanan, dan evaluasi kapasitas tower Turyapada dari bencana alam.
Hasil analisis risiko menjadi acuan untuk melakukan strategi mitigasi yang tepat secara struktural dan non-struktural.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pembangunan Menara diidentifikasikan memiliki bahaya yang cukup tinggi untuk tanah longsor dan cuaca ekstrim.
Kawasan ini juga memiliki kerentanan yang cukup tinggi terhadap gempa bumi, tanah longsor, dan cuaca ekstrim.
Untuk kapasitas, pembangunan tower diasumsikan telah memenuhi kriteria desain yang telah dipakai sesuai dengan SNI sehingga dianggap memiliki kapasitas yang cukup baik.
Analisis kajian risiko bencana diskoring berdasarkan skor bahaya, kerentanan, dan kapasitas sehingga didapatkan bencana tanah longsor merupakan level tinggi, cuaca ekstrim level sedang, dan gempa bumi, kebakaran hutan&lahan, dan letusan gunung api dalam level rendah.
Strategi mitigasi struktural meliputi pembangunan dindin penahan tanah di sekitar tower untuk mengatasi tanah longsor dan pemasangan alat pendeteksi cuaca otomatis untuk memantau kondisi cuaca ekstrim.
Mitigasi non-struktural mencakup pengembangan wisata sadar bencana dan penyusunan rencana jalur evakuasi.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
KEPEMIMPINAN, MOTIVASI KERJA DAN KINERJA PEGAWAI PADA KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BULELENG
KEPEMIMPINAN, MOTIVASI KERJA DAN KINERJA PEGAWAI PADA KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN BULELENG
Penelitian ini dilakukan di Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Buleleng. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan kuisioner sebagai instrumen ...
Penyuluhan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Pulau Pramuka
Penyuluhan Mitigasi Bencana pada Masyarakat Pulau Pramuka
Pulau Pramuka adalah salah satu pulau di Kepulauan Seribu, yang terletak di sebelah utara Jakarta, Kepulauan Seribu terdiri dari sekitar 110 pulau, Pulau Pramuka adalah pulau terbe...
Ketahanan Masyarakat untuk Manajemen Risiko Bencana: Studi Kasus di Tiga Desa Wisata Rawan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta
Ketahanan Masyarakat untuk Manajemen Risiko Bencana: Studi Kasus di Tiga Desa Wisata Rawan Bencana Daerah Istimewa Yogyakarta
Daerah Istimewa Yogyakarta, destinasi wisata nasional terkemuka, sangat rentan terhadap beragam bencana alam. Pembangunan berkelanjutan desa pariwisata di daerah rawan bencana ini ...
EDUKASI KONSEP TAGANA (TANGGAP SIAP BENCANA) UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DI DAERAH RAWAN BENCANA KABUPATEN SOLOK SELATAN SUMATERA BARAT
EDUKASI KONSEP TAGANA (TANGGAP SIAP BENCANA) UNTUK ANAK USIA SEKOLAH DI DAERAH RAWAN BENCANA KABUPATEN SOLOK SELATAN SUMATERA BARAT
Kesiapan dan pencegahan terhadap bencana alam merupakan salah satu faktor dalam mengurangi dampak kerugian serta korban. Bencana adalah suatu rangkaian peristiwa mengganggu, merusa...
Pengendalian Proyek Berbasis Risiko Pada Proyek Embung Tukad Unda Di Klungkung Bali
Pengendalian Proyek Berbasis Risiko Pada Proyek Embung Tukad Unda Di Klungkung Bali
Proyek pembanguna Pusat Kebudayaan Bali (PKB) memiliki luas 337.68 Hektar di Kabupaten Klungkung, PKB yang merupakan salah satu program pemerintah Provinsi Bali dalam mendukung pen...
KAJIAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG
KAJIAN RISIKO BENCANA TANAH LONGSOR DAN GEMPA BUMI KABUPATEN PRINGSEWU PROVINSI LAMPUNG
Potensi bencana pada daerah Kabupaten Pringsewu berdasarkan RTRW daerah tersebut diantaranya tanah longsor dan gempa bumi, sehingga diperlukannya Kajian Risiko Bencana terhadap dua...
Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
Tingkat Ancaman Multi Bencana Alam di Kabupaten Karanganyar
<em><span lang="EN-US">Kabupaten </span><span>Karanganyar</span><span lang="EN-US">, Provinsi </span><span>Jawa Tengah</span>&...

