Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Nilai Keagamaan dalam Wawacan Babad Salira

View through CrossRef
The background of the research is the lack of public knowledge about wawacan, whereas as one of the literary works of poetry genre, wawacan consists of purwakanti (rhyme) which contained spiritual values that can be used as guidance and reflections. This research aimed to describe and analyze the transliteration of manuscripts, rhymes, and religious values in "Wawacan Babad Salira". The method used was descriptive method. The sources of the data in this research was the manuscript of "Wawacan Babad Salira" in Desa Cilimus, Situradja, Kabupaten Sumedang. In collecting the data, this research employed a technique such as literature study, interview, and documentation. While in processing the data, this research used direct analysis technique. The instruments used were the interview guides and data cards. The result of analysis revealed that the contents of "Wawacan Babad Salira" manuscript explained about the advice and discourses, especially those related to religious values. The data obtained from "Wawacan Babad Salira" were 315 rhymes. The results of the research revealed 10 types of rhyme consisting of purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti cakraswara, purwakanti laraspurwa, purwakanti larasmadya, purwakanti laraswwaas, purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindo wekas, purwakanti margaluyu, and purwakanti rangkepan. In general, the most common rhyme was purwakanti margaluyu type which consisted of 109. There were 18 religious values contained in the text covered religious basics teachings of Islam such as aqidah, syari'ah, and morals. The religious values that most frequently explained are about morals.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai wawacan, padahal sebagai salah satu karya sastra genre puisi, wawacan mengandung rima dan di dalamnya sarat akan nilai-nilai luhur yang bisa dijadikan contoh dan cerminan. Penelitian ini bertujuan untuk mendéskripsikan dan menganalisis transliterasi naskah, jenis rima, dan nilai keagamaan dalam “Wawacan Babad Salira”. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah “Wawacan Babad Salira” yang ada di Desa Cilimus, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan dalam pengolahan data menggunakan teknik analisis secara langsung. Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dan kartu data. Dari hasil transliterasi, bisa diketahui bahwa isi “Wawacan Babad Salira” menerangkan tentang nasihat dan wejangan, khususnya yang berhubungan dengan nilai keagamaan. Data yang diperoleh dari “Wawacan Babad Salira” terdapat 315 rima. Dari hasil analisis, ditemukan 10 jenis rima yang terdiri dari purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti cakraswara, purwakanti laraspurwa, purwakanti larasmadya, purwakanti laraswekas, purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, dan purwakanti rangkepan. Secara garis besar, rima yang paling banyak ditemukan adalah jenis purwakanti margaluyu yang berjumlah 109. Nilai keagamaan yang terkandung dalam naskah meliputi dasar-dasar ajaran agama Islam seperti akidah, syari’ah, dan akhlak. Terdapat 18 nilai keagamaan. Nilai keagaamaan yang paling banyak diterangkan adalah tentang akhlak.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Title: Nilai Keagamaan dalam Wawacan Babad Salira
Description:
The background of the research is the lack of public knowledge about wawacan, whereas as one of the literary works of poetry genre, wawacan consists of purwakanti (rhyme) which contained spiritual values that can be used as guidance and reflections.
This research aimed to describe and analyze the transliteration of manuscripts, rhymes, and religious values in "Wawacan Babad Salira".
The method used was descriptive method.
The sources of the data in this research was the manuscript of "Wawacan Babad Salira" in Desa Cilimus, Situradja, Kabupaten Sumedang.
In collecting the data, this research employed a technique such as literature study, interview, and documentation.
While in processing the data, this research used direct analysis technique.
The instruments used were the interview guides and data cards.
The result of analysis revealed that the contents of "Wawacan Babad Salira" manuscript explained about the advice and discourses, especially those related to religious values.
The data obtained from "Wawacan Babad Salira" were 315 rhymes.
The results of the research revealed 10 types of rhyme consisting of purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti cakraswara, purwakanti laraspurwa, purwakanti larasmadya, purwakanti laraswwaas, purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindo wekas, purwakanti margaluyu, and purwakanti rangkepan.
In general, the most common rhyme was purwakanti margaluyu type which consisted of 109.
There were 18 religious values contained in the text covered religious basics teachings of Islam such as aqidah, syari'ah, and morals.
The religious values that most frequently explained are about morals.
AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai wawacan, padahal sebagai salah satu karya sastra genre puisi, wawacan mengandung rima dan di dalamnya sarat akan nilai-nilai luhur yang bisa dijadikan contoh dan cerminan.
Penelitian ini bertujuan untuk mendéskripsikan dan menganalisis transliterasi naskah, jenis rima, dan nilai keagamaan dalam “Wawacan Babad Salira”.
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif.
Sumber data dalam penelitian ini adalah naskah “Wawacan Babad Salira” yang ada di Desa Cilimus, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang.
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik studi pustaka, wawancara, dan dokumentasi.
Sedangkan dalam pengolahan data menggunakan teknik analisis secara langsung.
Instrumen yang digunakan adalah pedoman wawancara dan kartu data.
Dari hasil transliterasi, bisa diketahui bahwa isi “Wawacan Babad Salira” menerangkan tentang nasihat dan wejangan, khususnya yang berhubungan dengan nilai keagamaan.
Data yang diperoleh dari “Wawacan Babad Salira” terdapat 315 rima.
Dari hasil analisis, ditemukan 10 jenis rima yang terdiri dari purwakanti pangluyu, purwakanti maduswara, purwakanti cakraswara, purwakanti laraspurwa, purwakanti larasmadya, purwakanti laraswekas, purwakanti mindoan kawit, purwakanti mindoan wekas, purwakanti margaluyu, dan purwakanti rangkepan.
Secara garis besar, rima yang paling banyak ditemukan adalah jenis purwakanti margaluyu yang berjumlah 109.
Nilai keagamaan yang terkandung dalam naskah meliputi dasar-dasar ajaran agama Islam seperti akidah, syari’ah, dan akhlak.
Terdapat 18 nilai keagamaan.
Nilai keagaamaan yang paling banyak diterangkan adalah tentang akhlak.

Related Results

WAWACAN JAYALALANA (Kajian Struktural dan Etnopedagogik)
WAWACAN JAYALALANA (Kajian Struktural dan Etnopedagogik)
Latar belakang dari penelitian ini adalah karena di dalam wawacan terdapat nilai pendidikan yang perlu untuk digali agar bisa dijadikan contoh untuk pembaca. Tujuan dari penelitian...
WAWACAN SIMBAR KANCANA (Kajian Struktural, Budaya, dan Etnopedagogik)
WAWACAN SIMBAR KANCANA (Kajian Struktural, Budaya, dan Etnopedagogik)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) struktur Wawacan Simbar Kancana, 2) unsur-unsur budaya dalam Wawacan Simbar Kancana, dan 3) nilai etnopedagogik yang ada...
KISAH ADIPATI JAYAKUSUMA-PANEMBAHAN SENOPATI DALAM HISTORIOGRAFI BABAD
KISAH ADIPATI JAYAKUSUMA-PANEMBAHAN SENOPATI DALAM HISTORIOGRAFI BABAD
AbstractThis research is to elaborate the relationship between Adipati Jayakusuma from Pati and Panembahan Senopati from Mataram. Regarding historians give little attention to solv...
Jejak Raden Jaka Prabangkara pada Kerajaan Majapahit Abad ke-15 M dalam Babad Jaka Tingkir
Jejak Raden Jaka Prabangkara pada Kerajaan Majapahit Abad ke-15 M dalam Babad Jaka Tingkir
Raden Jaka Prabangkara was the son of Brawijaya V, the last king of the Majapahit Kingdom. He was the king's son of an ordinary woman or concubine. During the reign of his father, ...
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
DEMENSI BUDAYA LOKAL DALAM TRADISI HAUL DAN MAULIDAN BAGI KOMUNITAS SEKARBELA MATARAM
<p>Penelitian ini dilakukan di Kotamadya<br />Mataram Nusa Tenggara Barat. Sasaran<br />penelitian adalah suatu masyarakat lokal yang<br />menamakan dirinya...
NILAI MORAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA
NILAI MORAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA
Abstrak Kata Kunci: Nilai Moral Baik dan Buruk,  NovelOrang-Orang Biasa. Nilai-nilai Moral adalah ajaran baik atau buruk perbuatan atau kelakuan, akhlak, kewajiban, budi pekerti...
Pengaruh Bahan Tambah Serbuk Ban Bekas Pada Konstruksi Hotrolled Sheet-Wearing Course
Pengaruh Bahan Tambah Serbuk Ban Bekas Pada Konstruksi Hotrolled Sheet-Wearing Course
ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan mengetahui pemanfaatan serbuk ban bekas sebagai bahan tambahan pada konstruksi jalan. Benda uji Kadar Aspal Optimum (KAO) masing-masing dibuat 3 b...
REKONSTRUKSI NAMA JEMBER DALAM LAKON BABAD JEMBER OLEH LUDRUK SURYA UTAMA
REKONSTRUKSI NAMA JEMBER DALAM LAKON BABAD JEMBER OLEH LUDRUK SURYA UTAMA
This study entitled “Reconstruction name of Jember in Babad Jember Play Ludruk Surya Utama”, is a study of ludruk play that are suspected of having participated in producing or dis...

Back to Top