Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

WAWACAN JAYALALANA (Kajian Struktural dan Etnopedagogik)

View through CrossRef
Latar belakang dari penelitian ini adalah karena di dalam wawacan terdapat nilai pendidikan yang perlu untuk digali agar bisa dijadikan contoh untuk pembaca. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) struktur formal dari Wawacan Jayalalana, 2) struktur naratif dari Wawacan Jayalalana, dan 3) nilai etnopédagogik yang ada di dalam Wawacan Jayalalana. Métode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  deskriptif, sedangkan téhnikna menggunakan studi pustaka. Berdasarkan hasil penelitian, struktur formal Wawacan Jayalalana melingkupi dua aspék, yaitu struktur penyajian dan aturan pupuh. Struktur penyajian terdiri dari judul, manggalasastra, kisahan dan kolofon atau epilog. Berdasarkan aturan pupuh, struktur Wawacan Jayalalana  terdiri dari guru wilangan dan guru lagu, watak, dan sasmita pupuh. Berdasarkan struktur naratifnya, alur Wawacan Jayalalana  termasuk dalam alur maju atau progresif, yang terdiri dari10 épisode. Tokoh di dalam wawacan dibagi ke dalam empat golongan, yang dibagi lagi berdasarkan peran dan wataknya. Latar yang dianalisis melingkupi latar tempat, waktu dan suasana. Motif yang ada dalam wawacan ini ada lima, yaitu kelahiran yang tidak biasa, mencari burung, melaksanakan wasiat, mengembara, mengobati, dan menikah. Téma umum dari wawacan ini adalah tentang kemanusiaan, terutama mengenai cara agar menjadi orang yang unggul. Nilai etnopedagogik yang dianalisis adalah mengenai moral kemanusiaan. Berdasarkan hasil analisis, moral manusia terhadap Tuhan ada 11,54%, moral manusia terhadap pribadi ada 30,78%, moral manusia terhadap manusia ada 11,54%, moral manusia terhadap alam ada 11,54%, moral manusia terhadap waktu ada 15,38%, dan moral manusia dalam mencapai kebahagiaan lahir dan batin ada 19,23%.ABSTRACTThe background of the research is because in wawacan, there are the value of education that needs be extractived so can be used sample for the reader. The purpose of this research is to describe: 1) formal structure of Wawacan Jayalalana, 2) narrative structure of Wawacan Jayalalana, and 3) etnopedagogic value in Wawacan Jayalalana. This research use an analytical descriptive method and literary survey as the technique. According to the result of this research, formal structure of Wawacan Jayalalana consists of two aspect, there are structure of presentation and rules of pupuh. Structure of presentation was consisting of title, manggalasastra, kisahan and kolofon or epilog. By the rules of pupuh, formal structure Wawacan Jayalalana was consisting of guru wilangan and guru lagu, characters, and sasmita pupuh. Based narrative structure, plot of Wawacan Jayalalana  including to progresif plot, which consists of 10 episodes. Characters in this wawacan divided into four group, were subdivided based on position and charakter. Setting in this wawacan includes place, time and atmosphere. The Motifs of this wawacan are unusual birth, looking for bird, executing wills, wander, treat, and marry. The global theme of this wawacan is about humanity, especially on how to become a qualified person. Etnopedagogik value in Wawacan Jayalalana is about moral humanity. Based on research moral to god is 11,54%, moral to self is 30,78%, moral to the others is 11,54%,, moral to time is 15,38%, moral to nature is 11,54%, and moral to achieving the outer and inner pleasure is 19,23%.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Title: WAWACAN JAYALALANA (Kajian Struktural dan Etnopedagogik)
Description:
Latar belakang dari penelitian ini adalah karena di dalam wawacan terdapat nilai pendidikan yang perlu untuk digali agar bisa dijadikan contoh untuk pembaca.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) struktur formal dari Wawacan Jayalalana, 2) struktur naratif dari Wawacan Jayalalana, dan 3) nilai etnopédagogik yang ada di dalam Wawacan Jayalalana.
Métode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  deskriptif, sedangkan téhnikna menggunakan studi pustaka.
Berdasarkan hasil penelitian, struktur formal Wawacan Jayalalana melingkupi dua aspék, yaitu struktur penyajian dan aturan pupuh.
Struktur penyajian terdiri dari judul, manggalasastra, kisahan dan kolofon atau epilog.
Berdasarkan aturan pupuh, struktur Wawacan Jayalalana  terdiri dari guru wilangan dan guru lagu, watak, dan sasmita pupuh.
Berdasarkan struktur naratifnya, alur Wawacan Jayalalana  termasuk dalam alur maju atau progresif, yang terdiri dari10 épisode.
Tokoh di dalam wawacan dibagi ke dalam empat golongan, yang dibagi lagi berdasarkan peran dan wataknya.
Latar yang dianalisis melingkupi latar tempat, waktu dan suasana.
Motif yang ada dalam wawacan ini ada lima, yaitu kelahiran yang tidak biasa, mencari burung, melaksanakan wasiat, mengembara, mengobati, dan menikah.
Téma umum dari wawacan ini adalah tentang kemanusiaan, terutama mengenai cara agar menjadi orang yang unggul.
Nilai etnopedagogik yang dianalisis adalah mengenai moral kemanusiaan.
Berdasarkan hasil analisis, moral manusia terhadap Tuhan ada 11,54%, moral manusia terhadap pribadi ada 30,78%, moral manusia terhadap manusia ada 11,54%, moral manusia terhadap alam ada 11,54%, moral manusia terhadap waktu ada 15,38%, dan moral manusia dalam mencapai kebahagiaan lahir dan batin ada 19,23%.
ABSTRACTThe background of the research is because in wawacan, there are the value of education that needs be extractived so can be used sample for the reader.
The purpose of this research is to describe: 1) formal structure of Wawacan Jayalalana, 2) narrative structure of Wawacan Jayalalana, and 3) etnopedagogic value in Wawacan Jayalalana.
This research use an analytical descriptive method and literary survey as the technique.
According to the result of this research, formal structure of Wawacan Jayalalana consists of two aspect, there are structure of presentation and rules of pupuh.
Structure of presentation was consisting of title, manggalasastra, kisahan and kolofon or epilog.
By the rules of pupuh, formal structure Wawacan Jayalalana was consisting of guru wilangan and guru lagu, characters, and sasmita pupuh.
Based narrative structure, plot of Wawacan Jayalalana  including to progresif plot, which consists of 10 episodes.
Characters in this wawacan divided into four group, were subdivided based on position and charakter.
Setting in this wawacan includes place, time and atmosphere.
The Motifs of this wawacan are unusual birth, looking for bird, executing wills, wander, treat, and marry.
The global theme of this wawacan is about humanity, especially on how to become a qualified person.
Etnopedagogik value in Wawacan Jayalalana is about moral humanity.
Based on research moral to god is 11,54%, moral to self is 30,78%, moral to the others is 11,54%,, moral to time is 15,38%, moral to nature is 11,54%, and moral to achieving the outer and inner pleasure is 19,23%.

Related Results

WAWACAN SIMBAR KANCANA (Kajian Struktural, Budaya, dan Etnopedagogik)
WAWACAN SIMBAR KANCANA (Kajian Struktural, Budaya, dan Etnopedagogik)
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: 1) struktur Wawacan Simbar Kancana, 2) unsur-unsur budaya dalam Wawacan Simbar Kancana, dan 3) nilai etnopedagogik yang ada...
Nilai Keagamaan dalam Wawacan Babad Salira
Nilai Keagamaan dalam Wawacan Babad Salira
The background of the research is the lack of public knowledge about wawacan, whereas as one of the literary works of poetry genre, wawacan consists of purwakanti (rhyme) which con...
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
Kreativiti Dalam Rekaan Fesyen Dan Pakaian: Tinjauan Sistematik
Kreativiti Dalam Rekaan Fesyen Dan Pakaian: Tinjauan Sistematik
Konsep dan amalan peramal fesyen terhadap elemen kreativiti amat signifikan dalam memupuk pemikiran kreatif dan kritis dalam menyelesaikan setiap masalah. Kertas tinjauan sistemati...
LIRIK TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN (Kajian Historis, Struktural, dan Etnopedagogik)
LIRIK TEMBANG SUNDA CIGAWIRAN (Kajian Historis, Struktural, dan Etnopedagogik)
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan perkembangan, struktur, dan nilai étnopédagogik lirik tembang Sunda Cigawiran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskri...
PERBANDINGAN PERIBAHASA SUNDA DAN INDONESIA (Kajian Semantik Formal dan Etnopedagogik)
PERBANDINGAN PERIBAHASA SUNDA DAN INDONESIA (Kajian Semantik Formal dan Etnopedagogik)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan perbandingan peribahasa Sunda‐Indonesia secara semantik formal dan etnopedagogik dalam peribahasa yang memiliki makna ...
CERITA PANTUN BUJANG PANGALASAN (Analisis Struktur, Semiotik, dan Etnopedagogi)
CERITA PANTUN BUJANG PANGALASAN (Analisis Struktur, Semiotik, dan Etnopedagogi)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memaparkan struktur formal dan naratif, unsur semiotik, dan nilai etnopedagogik. Dalam Cerita Pantun Bujang Pangalasan. Dalam peneliti...
Kekerasan dalam Novel Dari Dalam Kubur Karya Soe Tjen Marching: Perspektif Johan Galtung
Kekerasan dalam Novel Dari Dalam Kubur Karya Soe Tjen Marching: Perspektif Johan Galtung
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kekerasan yang terdapat dalam novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching menggunakan perspektif Johan Galtung. Tujuan dilakukannya penel...

Back to Top