Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia Abad 19 dari Ortodoksi ke Politisasi

View through CrossRef
Setidaknya ada beberapa hal penting dalam tulisan ini; pertama, perkembangan tarekat Naqsabandiyah pada abad 19 terjadi secara luas. Tidak hanya di Indonesia tetapi di hampir seluruh wilayah muslim. Hal ini disebabkan karena dominasi faham wujudiyah (tasawuf falsafi) yang melekat pada tarekat Syattariyah mulai ditinggalkan oleh masyarakat muslim akibat serangan gencar kaum tradisionalis (tasawuf sunni). Proses peralihan dalam kurun ini menyebabkan tarekat Naqsabandiyah menjadi diminati. Kedua, kritik pedas kaum tradisionalis juga dilakukan oleh para ulama fikih kepada bid’ah tarekat. Kesesuaian dengan al-Quran dan sunnah seperti yang menjadi landasan tasawuf sunni akhirnya membuat tarekat Naqsabandiyah (dan terekat non faham wujudiyah) diminati oleh masyarakat muslim. Ketiga, kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda terhadap tarekat, terutama Naqsabandiyah saat itu, diarahkan kepada tarekat dalam arti politik, termasuk di dalamnya gerakan Pan-Islamisme. Tetapi sepanjang tidak berpolitik, pihak konial tidak membatasi tarekat.At least there are some important things in this article; First, the development of widespread Naqsabandiyah congregation in the 19th century. It happens not only in Indonesia but also in almost all Muslim lands. This is due to the dominance of ideology Wujudiyah (Sufism philosophical) attached to Syattariyah congregation begins to be abandoned by the Muslim community as a result of the onslaught of the traditionalists (Sufism of Sunni). The process of transition in this period leads Naqsabandiyah to be desirable. Second, harsh criticism of the traditionalists is also done by the jurists to heretical congregation. Compliance with the Quran and the Sunnah as the basis of Sufism Sunni finally made Naqsabandiyah congregation (and congregation of non wujudiyah’s thought) demand by the Muslim community. Thirdly, the Dutch colonial government fears the congregation, especially Naqsabandiyah. Then, it is directed to the congregation in a political sense, including the movement of Pan-Islamism. But as long as there are no politics, colonial party does not restrict the congregation.
State Islamic University of Raden Fatah Palembang
Title: Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia Abad 19 dari Ortodoksi ke Politisasi
Description:
Setidaknya ada beberapa hal penting dalam tulisan ini; pertama, perkembangan tarekat Naqsabandiyah pada abad 19 terjadi secara luas.
Tidak hanya di Indonesia tetapi di hampir seluruh wilayah muslim.
Hal ini disebabkan karena dominasi faham wujudiyah (tasawuf falsafi) yang melekat pada tarekat Syattariyah mulai ditinggalkan oleh masyarakat muslim akibat serangan gencar kaum tradisionalis (tasawuf sunni).
Proses peralihan dalam kurun ini menyebabkan tarekat Naqsabandiyah menjadi diminati.
Kedua, kritik pedas kaum tradisionalis juga dilakukan oleh para ulama fikih kepada bid’ah tarekat.
Kesesuaian dengan al-Quran dan sunnah seperti yang menjadi landasan tasawuf sunni akhirnya membuat tarekat Naqsabandiyah (dan terekat non faham wujudiyah) diminati oleh masyarakat muslim.
Ketiga, kekhawatiran pemerintah kolonial Belanda terhadap tarekat, terutama Naqsabandiyah saat itu, diarahkan kepada tarekat dalam arti politik, termasuk di dalamnya gerakan Pan-Islamisme.
Tetapi sepanjang tidak berpolitik, pihak konial tidak membatasi tarekat.
At least there are some important things in this article; First, the development of widespread Naqsabandiyah congregation in the 19th century.
It happens not only in Indonesia but also in almost all Muslim lands.
This is due to the dominance of ideology Wujudiyah (Sufism philosophical) attached to Syattariyah congregation begins to be abandoned by the Muslim community as a result of the onslaught of the traditionalists (Sufism of Sunni).
The process of transition in this period leads Naqsabandiyah to be desirable.
Second, harsh criticism of the traditionalists is also done by the jurists to heretical congregation.
Compliance with the Quran and the Sunnah as the basis of Sufism Sunni finally made Naqsabandiyah congregation (and congregation of non wujudiyah’s thought) demand by the Muslim community.
Thirdly, the Dutch colonial government fears the congregation, especially Naqsabandiyah.
Then, it is directed to the congregation in a political sense, including the movement of Pan-Islamism.
But as long as there are no politics, colonial party does not restrict the congregation.

Related Results

Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah Al-Aminiyah di Paciran
Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah Al-Aminiyah di Paciran
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dari tarekat Naqsabqandiyah Khalidiyah jalur Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin dengan tarekat Naqsabandiyah Khalidiuyah jalur la...
“Dang-dang Tawoe Bak Tuhan”: Suluk, Tawajuh dan “Rural Sufism” dalam Masyarakat Aceh
“Dang-dang Tawoe Bak Tuhan”: Suluk, Tawajuh dan “Rural Sufism” dalam Masyarakat Aceh
AbstrakArtikel ini bertujuan menegaskan kembali eksistensi praktik tarekat dalam masyarakat Islam di pedesaan yang telah menjadi bagian dari kebudayaan. Seiring dengan perkembangan...
RUKYAH BIL QALBI PERSPEKTIF TAREKAT NAQSABANDIYAH KHALIDIYAH AL-ALIYAH JOMBANG
RUKYAH BIL QALBI PERSPEKTIF TAREKAT NAQSABANDIYAH KHALIDIYAH AL-ALIYAH JOMBANG
Penentuan awal bulan Kamariah di Indonesia belum menemukan kata sepakat untuk menunjuk satu kriteria. Hal ini karena masing-masing kelompok masih memegang teguh metode dan kriteria...
POLA PEMAHAMAN KEAGAMAAN MASYARAKAT SIMPANG EMPAT PASAMAN BARAT (Studi Terhadap Aliran Haqqul Yaqin Tarekat Naqsabandiyah)
POLA PEMAHAMAN KEAGAMAAN MASYARAKAT SIMPANG EMPAT PASAMAN BARAT (Studi Terhadap Aliran Haqqul Yaqin Tarekat Naqsabandiyah)
Haqqul Yaqin Tarekat Naqsabandiyah is one of the tarekat that developed in Simpang Empat Pasaman Barat, in spreading sufistism, it uses remembering Methode (dzikir)as a form of rit...
POLITISASI KEPOLISIAN DALAM KONTEKS PEMILIHAN UMUM
POLITISASI KEPOLISIAN DALAM KONTEKS PEMILIHAN UMUM
Abstrak: Penelitian ini mengkaji fenomena politisasi kepolisian dalam konteks pemilihan umum, dengan fokus pada faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya politisasi tersebut d...
NAQSABANDIYAH BANTUL IN THE DIARY OF PSYCHOLOGY
NAQSABANDIYAH BANTUL IN THE DIARY OF PSYCHOLOGY
Tarekat is an activity in an effort to draw closer to Allah through self-purification in accordance with the teachings exemplified by the Messenger of Allah the companions, and the...
Values Of Islamic Religious Education In Tarekat Teachings
Values Of Islamic Religious Education In Tarekat Teachings
Old age is a time when everyone will pass it. The aging process means a decrease in physical endurance, resulting in changes in the structure and function of cells, tissues and org...
POLITISASI BIROKRASI DALAM PELAKSANAAN PILKADA DI INDONESIA
POLITISASI BIROKRASI DALAM PELAKSANAAN PILKADA DI INDONESIA
Politisasi birokrasi di negara berkembang sudah menjadi strategi dalam perebutan kekuasaan pemerintah, pejabat hierarki atas gencar memobilisasi bawahannya untuk menciptakan sebuah...

Back to Top