Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pappasang: Nilai Budaya Mandar dalam Perspektif Pluralisme Hukum

View through CrossRef
Pappasang, as a source of values and norms within Mandar customary law, faces significant challenges amid the expansion of state law and the dynamics of modernization. This study aims to analyze the position of Pappasang within the structure of Mandar customary law and to examine its interaction with Indonesian positive law through the lens of legal pluralism. Employing a qualitative socio-legal approach, the research draws on textual analysis of Pappasang, in-depth interviews with customary leaders, and field observations in coastal and inland Mandar communities. The findings indicate that Pappasang continues to possess meaningful normative authority, particularly in consensus-based dispute resolution, although it has undergone transformation due to state legal intervention and social change. The study’s distinguishing contribution lies in revealing a process of normative negotiation between customary law and state law, whereby certain Pappasang values are accommodated within formal legal practices but risk being reduced in substantive meaning. This study underscores the urgency of revitalizing Mandar customary law as a living law and proposes a synergistic model between local tradition and modernity for the development of Indonesia’s national legal system.   AbstrakPappasang sebagai sumber nilai dan norma dalam hukum adat Mandar menghadapi tantangan serius di tengah penetrasi hukum negara dan arus modernisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi Pappasang dalam struktur hukum adat Mandar serta pola interaksinya dengan hukum positif Indonesia dalam kerangka pluralisme hukum. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosio-legal melalui analisis teks Pappasang, wawancara mendalam dengan tokoh adat, serta observasi pada komunitas pesisir dan pedalaman Mandar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pappasang masih memiliki daya ikat normatif yang signifikan, khususnya dalam penyelesaian sengketa berbasis musyawarah, namun mengalami transformasi akibat proses institusionalisasi hukum negara dan perubahan sosial. Temuan pembeda penelitian ini menunjukkan adanya negosiasi normatif antara hukum adat dan hukum negara, di mana sebagian nilai Pappasang terakomodasi dalam praktik hukum formal, tetapi cenderung mengalami penyederhanaan makna. Studi ini menegaskan urgensi revitalisasi hukum adat Mandar sebagai living law serta pentingnya model sinergi antara tradisi lokal dan modernitas dalam pengembangan hukum nasional.
Title: Pappasang: Nilai Budaya Mandar dalam Perspektif Pluralisme Hukum
Description:
Pappasang, as a source of values and norms within Mandar customary law, faces significant challenges amid the expansion of state law and the dynamics of modernization.
This study aims to analyze the position of Pappasang within the structure of Mandar customary law and to examine its interaction with Indonesian positive law through the lens of legal pluralism.
Employing a qualitative socio-legal approach, the research draws on textual analysis of Pappasang, in-depth interviews with customary leaders, and field observations in coastal and inland Mandar communities.
The findings indicate that Pappasang continues to possess meaningful normative authority, particularly in consensus-based dispute resolution, although it has undergone transformation due to state legal intervention and social change.
The study’s distinguishing contribution lies in revealing a process of normative negotiation between customary law and state law, whereby certain Pappasang values are accommodated within formal legal practices but risk being reduced in substantive meaning.
This study underscores the urgency of revitalizing Mandar customary law as a living law and proposes a synergistic model between local tradition and modernity for the development of Indonesia’s national legal system.
  AbstrakPappasang sebagai sumber nilai dan norma dalam hukum adat Mandar menghadapi tantangan serius di tengah penetrasi hukum negara dan arus modernisasi.
Penelitian ini bertujuan menganalisis posisi Pappasang dalam struktur hukum adat Mandar serta pola interaksinya dengan hukum positif Indonesia dalam kerangka pluralisme hukum.
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sosio-legal melalui analisis teks Pappasang, wawancara mendalam dengan tokoh adat, serta observasi pada komunitas pesisir dan pedalaman Mandar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pappasang masih memiliki daya ikat normatif yang signifikan, khususnya dalam penyelesaian sengketa berbasis musyawarah, namun mengalami transformasi akibat proses institusionalisasi hukum negara dan perubahan sosial.
Temuan pembeda penelitian ini menunjukkan adanya negosiasi normatif antara hukum adat dan hukum negara, di mana sebagian nilai Pappasang terakomodasi dalam praktik hukum formal, tetapi cenderung mengalami penyederhanaan makna.
Studi ini menegaskan urgensi revitalisasi hukum adat Mandar sebagai living law serta pentingnya model sinergi antara tradisi lokal dan modernitas dalam pengembangan hukum nasional.

Related Results

Pandangan MUI terhadap Pluralisme Agama
Pandangan MUI terhadap Pluralisme Agama
Religious pluralisme among Muslims itself raises pros and cons, acceptance on the one hand and resistance on the other. Supporters of religious pluralisme argue that this idea is a...
Analisis Nilai-Nilai Budaya Mandar Pada Puisi Dalam Buku Di Mandar Bulan Menenun Layar Karya Adi Arwan Alimin, Dkk
Analisis Nilai-Nilai Budaya Mandar Pada Puisi Dalam Buku Di Mandar Bulan Menenun Layar Karya Adi Arwan Alimin, Dkk
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan nilai-nilai budaya Mandar puisi yang berjudul RabbAku Datang Lagi, Pada sebuah Persimpangan, Mandar Duka,Hukum Prihati...
MODERATION IN MANDAR PAPPASANG (A Study on law enforcement of Pappasang in Mandar, West Sulawesi)
MODERATION IN MANDAR PAPPASANG (A Study on law enforcement of Pappasang in Mandar, West Sulawesi)
<p>Mandar as one of Indonesian ethnic groups is the majority population in West Sulawesi Province. This ethnic group has an assimilated culture with Islamic teaching values, ...
Legal Pluralism: Concept, Theoretical Dialectics, and Its Existence in Indonesia
Legal Pluralism: Concept, Theoretical Dialectics, and Its Existence in Indonesia
Legal pluralism is the coexistence of multiple legal systems within a society, including state law, customary law, and religious law. In Indonesia, this concept is deeply rooted in...
Urgensi Pengaturan Artificial Intelligence (AI) Dalam Bidang Hukum Hak Cipta Di Indonesia
Urgensi Pengaturan Artificial Intelligence (AI) Dalam Bidang Hukum Hak Cipta Di Indonesia
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta memahami urgensi pengaturan AI dalam UU Hak Cipta di Indonesia serta potensi AI sebagai subjek hukum dalam sistem hukum di Indonesia...
NAKODAI MARA’DIA ABANUA KAIYANG TOILOPI: SPIRIT NILAI BUDAYA MARITIM DAN IDENTITAS ORANG MANDAR
NAKODAI MARA’DIA ABANUA KAIYANG TOILOPI: SPIRIT NILAI BUDAYA MARITIM DAN IDENTITAS ORANG MANDAR
Artikel ini membahas orang Mandar sebagai suku bangsa maritim yang tidak diragukan eksistensinya. Sebagai pemangku kebudayaan maritim dan religius yang taat, tidak dapat dimungkiri...
TEORI PLURALISME
TEORI PLURALISME
Isu maupun kajian seputar pluralisme hukum bukan isu baru ataupun ranah studi barudi Indonesia. Secara sederhana, pluralisme hukum hadir sebagai kritikan terhadap sentralismedan po...

Back to Top