Javascript must be enabled to continue!
Pemetaan dan Perencanaan Sanitasi Kota Yogyakarta
View through CrossRef
Millenium Development Goals (MDGs) menempatkan manusia sebagai fokus utama pembangunan yang mencakup kelestarian lingkungan. Salah satu target yang harus dicapai adalah akses berkelanjutan terhadap air minum layak serta akses terhadap sanitasi layak di perkotaan dan perdesaan. Salah satu upaya untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi layak Kota Yogyakarta mengadopsi Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP).Tujuan pertama dari penelitian ini adalah memetakan area beresiko berdasarkan tingkat resiko sanitasi. Proses penentuan area beresiko terhadap kondisi sanitasi dilakukan melalui Indeks Resiko (Risk Index), skoring dan pembobotan, analisis frekuensi (mean weighted) serta diskusi kelompok terfokus (FGD). Penetapan area beresiko dilakukan berdasarkan kriteria: (1) Kepadatan penduduk, (2) Tingkat kemiskinan, (3) Kelurahan yang berada di sepanjang aliran sungai, dan (4) Daerah yang terkena banjir/terdapat genangan air. Tujuan kedua adalah menyusun perencanaan yang sesuai terutama untuk area yang sangat beresiko dan beresiko.Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara (interview) dengan masyarakat Kota Yogyakarta dan, pengamatan/observasi lapangan. Selain data primer, juga dikumpulkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi pemerintahan yang terkait dengan sanitasi. Data-data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan software SPSS dan ArcGiss dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif serta analisis spasial untuk mengetahui kondisi sanitasi wilayah secara keruangan.Hasil dari penelitian ini adalah area beresiko sanitasi Kota Yogyakarta yang dibagi ke dalam 3 area beresiko antara lain area beresiko sangat tinggi meliputi Kelurahan Klutren, Ngampilan, Matrijeron dan Prenggan. Area beresiko sedang antara lain Kelurahan Kricak, Brontokusuman, Bumijo, Pringgokusuman, dan Sorosutan. Area kurang beresiko antara lain Kelurahan Kadipaten. Berdasarkan kondisi ini, selanjutnya disusun program-program perencanaan pembangunan sanitasi khusunya untuk wilayah-wilayah yang sangat beresiko tinggi dan beresiko sedang sehingga dapat mengurangi keberadaan kawasan kumuh perkotaan serta mewujudkan kondisi sanitasi yang sehat di masa mendatang.
Title: Pemetaan dan Perencanaan Sanitasi Kota Yogyakarta
Description:
Millenium Development Goals (MDGs) menempatkan manusia sebagai fokus utama pembangunan yang mencakup kelestarian lingkungan.
Salah satu target yang harus dicapai adalah akses berkelanjutan terhadap air minum layak serta akses terhadap sanitasi layak di perkotaan dan perdesaan.
Salah satu upaya untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi layak Kota Yogyakarta mengadopsi Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Pemukiman (PPSP).
Tujuan pertama dari penelitian ini adalah memetakan area beresiko berdasarkan tingkat resiko sanitasi.
Proses penentuan area beresiko terhadap kondisi sanitasi dilakukan melalui Indeks Resiko (Risk Index), skoring dan pembobotan, analisis frekuensi (mean weighted) serta diskusi kelompok terfokus (FGD).
Penetapan area beresiko dilakukan berdasarkan kriteria: (1) Kepadatan penduduk, (2) Tingkat kemiskinan, (3) Kelurahan yang berada di sepanjang aliran sungai, dan (4) Daerah yang terkena banjir/terdapat genangan air.
Tujuan kedua adalah menyusun perencanaan yang sesuai terutama untuk area yang sangat beresiko dan beresiko.
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.
Data primer diperoleh dari hasil wawancara (interview) dengan masyarakat Kota Yogyakarta dan, pengamatan/observasi lapangan.
Selain data primer, juga dikumpulkan data sekunder yaitu data yang diperoleh dari instansi pemerintahan yang terkait dengan sanitasi.
Data-data yang diperoleh selanjutnya diolah dengan menggunakan software SPSS dan ArcGiss dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif serta analisis spasial untuk mengetahui kondisi sanitasi wilayah secara keruangan.
Hasil dari penelitian ini adalah area beresiko sanitasi Kota Yogyakarta yang dibagi ke dalam 3 area beresiko antara lain area beresiko sangat tinggi meliputi Kelurahan Klutren, Ngampilan, Matrijeron dan Prenggan.
Area beresiko sedang antara lain Kelurahan Kricak, Brontokusuman, Bumijo, Pringgokusuman, dan Sorosutan.
Area kurang beresiko antara lain Kelurahan Kadipaten.
Berdasarkan kondisi ini, selanjutnya disusun program-program perencanaan pembangunan sanitasi khusunya untuk wilayah-wilayah yang sangat beresiko tinggi dan beresiko sedang sehingga dapat mengurangi keberadaan kawasan kumuh perkotaan serta mewujudkan kondisi sanitasi yang sehat di masa mendatang.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
SCREENING DAN EVALUASI PROGRAM BANK SAMPAH KOTA YOGYAKARTA
SCREENING DAN EVALUASI PROGRAM BANK SAMPAH KOTA YOGYAKARTA
Pendahuluan: Badan Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Sejak Tahun 2009 mengembangkan program bank sampah sebagai salah satu kegiatan yang dilaksanakan oleh Sub Bidang Daur Ulan...
Pemeliharaan Fasilitas Sanitasi dan Pengelolaan Sampah di Yogyakarta International Airport (YIA)
Pemeliharaan Fasilitas Sanitasi dan Pengelolaan Sampah di Yogyakarta International Airport (YIA)
Latar Belakang: Sebagai pintu masuk negara, bandar udara perlu mengutamakan pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan yang bersih dan sehat untuk menjamin penumpang merasa aman, nyam...
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN REVITALISASI KOTA TANPA KUMUH NEIGBORHOOD UPGRADING AND SHELTER SECTOR PROJECT (NUSSP) DI KOTA BIMA
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN REVITALISASI KOTA TANPA KUMUH NEIGBORHOOD UPGRADING AND SHELTER SECTOR PROJECT (NUSSP) DI KOTA BIMA
Judul penelitian ini adalah : “Implementasi Kebijakan Revitalisasi Kota Tanpa Kumuh Neigborhood Upgrading And Shelter Sector Project (NUSSP) di Kota Bima. Dengan tujuan untuk m...
Sanitasi Lingkungan Pasar Tradisional Di Padang Dan Payakumbuh
Sanitasi Lingkungan Pasar Tradisional Di Padang Dan Payakumbuh
Perilaku sanitasi lingkungan mengacu pada keterlibatan warga dalam penyediaan, pemanfaatan, dan pemeliharaan fasilitas dan pelayanan sanitasi lingkungan. Kajian ini bertujuan untuk...
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MORTALITAS PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR COSTA: Literature Review Anna Tri Wahyuni1), Masfuri2), Liya Arista3)1,2,3 Fakultas Ilmu Keperawatan Univers...
STUDI SANITASI LINGKUNGAN WILAYAH PESISIR DI KELURAHAN NAMBO KECAMATAN NAMBO KOTA KENDARI
STUDI SANITASI LINGKUNGAN WILAYAH PESISIR DI KELURAHAN NAMBO KECAMATAN NAMBO KOTA KENDARI
AbstrakSanitasi merupakan upaya dasar dalam menjaga kesehatan manusia dengan cara penyediaan lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan. Penyediaan sarana sanitasi akan memberikan d...
EVALUASI PROGRAM KLINIK SANITASI TERHADAP PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN DI PUSKESMAS KENDALSARI KOTA MALANG
EVALUASI PROGRAM KLINIK SANITASI TERHADAP PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN DI PUSKESMAS KENDALSARI KOTA MALANG
ABSTRAK
Evaluasi program klinik sanitasi terhadap penyakit berbasis lingkungan di Puskesmas Kendalsari Kota Malang merupakan salah satu fungsi manajemen program, dimana cakupan pr...

