Javascript must be enabled to continue!
Agama dan Negara
View through CrossRef
This study explores the relationship between religion and the state which has an impact on the marginalization of local beliefs as a natural thing. The term "reasonable" refers to an ongoing social phenomenon and not a justification claim for the process of marginalization for local beliefs. The focus of this study is on the role of the state and Christianity in constructing religion as a phenomenon of marginalization of local Minahasa beliefs. The followers of local Minahasa beliefs are stigmatized as infidels because they practice rituals that are different from the world religion paradigm; One of them is the paradigm of Christianity. Stigma against adherents of faith is further strengthened through the history of the Indonesian state's policy of limiting the term religion in Indonesia.The state has legitimized the existence of “world religions” or “imported religions” as an intrinsic part of the life of the state; including Christianity. As a result, marginalization of local beliefs has become a natural practice. This research is based on Peter Berger's (1991) "social construction" approach and Sunder John Boopelan's "ritual of humiliation" (2017) to analyze the phenomenon of marginalization as a natural thing. This article uses qualitative research methods with descriptive analytical research to describe the relationship between religion and the state based on the findings. The argument in this study is that the marginalization of local believers is constructed by the relationship between the state as a public policy maker and Christianity as the majority in Minahasa.
[Penelitian ini mengeksplorasi relasi agama dan negara yang berdampak pada marginalisasi kepercayaan lokal sebagai hal yang wajar. Istilah “wajar” mengacu pada fenomena sosial yang sedang terjadi dan bukan klaim pembenaran atas proses marginalisasi bagi kepercayaan lokal. Fokus kajian ini pada peran negara dan kekristenan dalam mengkonstruksi agama sebagai fenomena marginalisasi terhadap kepercayaan lokal Minahasa. Para pemeluk kepercayaan lokal Minahasa mendapat stigma kafir karena melakukan praktek ritual yang berbeda dari paradigma world religion (agama dunia); salah satunya paradigma agama Kristen. Stigma terhadap pemeluk kepercayaan semakin diperkuat melalui sejarah kebijakan Negara Indonesia yang membatasi istilah agama di Indonesia. Negara telah melegitimasi eksistensi “agama-agama dunia” atau “agama impor” sebagai bagian intrinsik dalam kehidupan bernegara; termasuk di dalamnya agama Kristen. Akibatnya, marginalisasi terhadap kepercayaan lokal menjadi praktek yang wajar. Penelitian ini berbasis pada pendekatan “konstruksi sosial” Peter Berger (1991) dan “ritual of humiliation” Sunder John Boopelan (2017) untuk menganalisa fenomena marginalisasi sebagai hal yang wajar. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitis untuk mendeskripsikan relasi agama dan negara berdasarkan temuan. Argumentasi dalam penelitian ini, bahwa marginalisasi terhadap pemeluk kepercayaan lokal dikonstruksi oleh relasi antara negara sebagai pembuat kebijakan publik dan agama Kristen sebagai mayoritas di Minahasa.]
Al-Jamiah Research Centre
Title: Agama dan Negara
Description:
This study explores the relationship between religion and the state which has an impact on the marginalization of local beliefs as a natural thing.
The term "reasonable" refers to an ongoing social phenomenon and not a justification claim for the process of marginalization for local beliefs.
The focus of this study is on the role of the state and Christianity in constructing religion as a phenomenon of marginalization of local Minahasa beliefs.
The followers of local Minahasa beliefs are stigmatized as infidels because they practice rituals that are different from the world religion paradigm; One of them is the paradigm of Christianity.
Stigma against adherents of faith is further strengthened through the history of the Indonesian state's policy of limiting the term religion in Indonesia.
The state has legitimized the existence of “world religions” or “imported religions” as an intrinsic part of the life of the state; including Christianity.
As a result, marginalization of local beliefs has become a natural practice.
This research is based on Peter Berger's (1991) "social construction" approach and Sunder John Boopelan's "ritual of humiliation" (2017) to analyze the phenomenon of marginalization as a natural thing.
This article uses qualitative research methods with descriptive analytical research to describe the relationship between religion and the state based on the findings.
The argument in this study is that the marginalization of local believers is constructed by the relationship between the state as a public policy maker and Christianity as the majority in Minahasa.
[Penelitian ini mengeksplorasi relasi agama dan negara yang berdampak pada marginalisasi kepercayaan lokal sebagai hal yang wajar.
Istilah “wajar” mengacu pada fenomena sosial yang sedang terjadi dan bukan klaim pembenaran atas proses marginalisasi bagi kepercayaan lokal.
Fokus kajian ini pada peran negara dan kekristenan dalam mengkonstruksi agama sebagai fenomena marginalisasi terhadap kepercayaan lokal Minahasa.
Para pemeluk kepercayaan lokal Minahasa mendapat stigma kafir karena melakukan praktek ritual yang berbeda dari paradigma world religion (agama dunia); salah satunya paradigma agama Kristen.
Stigma terhadap pemeluk kepercayaan semakin diperkuat melalui sejarah kebijakan Negara Indonesia yang membatasi istilah agama di Indonesia.
Negara telah melegitimasi eksistensi “agama-agama dunia” atau “agama impor” sebagai bagian intrinsik dalam kehidupan bernegara; termasuk di dalamnya agama Kristen.
Akibatnya, marginalisasi terhadap kepercayaan lokal menjadi praktek yang wajar.
Penelitian ini berbasis pada pendekatan “konstruksi sosial” Peter Berger (1991) dan “ritual of humiliation” Sunder John Boopelan (2017) untuk menganalisa fenomena marginalisasi sebagai hal yang wajar.
Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif analitis untuk mendeskripsikan relasi agama dan negara berdasarkan temuan.
Argumentasi dalam penelitian ini, bahwa marginalisasi terhadap pemeluk kepercayaan lokal dikonstruksi oleh relasi antara negara sebagai pembuat kebijakan publik dan agama Kristen sebagai mayoritas di Minahasa.
].
Related Results
tugas resume hukum tata negara
tugas resume hukum tata negara
Hukum tata Negara dapar diartikan dalam arti sempit maupun dalam arti luas. Secara arti sempit hukum tata negara dapat diartikan hukum yang mengatur organisasi negra sedangkan dala...
tugas hukum tata negara
tugas hukum tata negara
Tujuan Hukum Tata Negara yang di simpulkan beberapa definisi di atas,bahwa hukum HTN mengkaji beberapa aspek krusial,yakni Negara/ organ Negara,hubungan antara organ/lembaga Negara...
ANISHA-HTN
ANISHA-HTN
NAMA:ANISHANIM :10200120233KELAS :HTN-FMATA KULIAH:HUKUM TATA NEGARAHUKUM TATA NEGARAA.Pengertian Hukum tata Negara pada dasarnya adalah hukum yang mengatur organisasi kek...
Tipe Negara Yunani Purba
Tipe Negara Yunani Purba
Tipe Negara Yunani Purba=>Tipe negara ialah suatu penggolongan negara yang tidak mempunyai batas-batas yang tegas. Ini berbeda dengan klasifikasi negara atas bentuk-bentuk t...
Tipe Negara Yunani Purba
Tipe Negara Yunani Purba
Tipe negara ialah suatu penggolongan negara yang tidak mempunyai batas-batas yang tegas. Ini berbeda dengan klasifikasi negara atas bentuk-bentuk tertentu, misal bentuk negara (Kes...
SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM
SOSIALISASI AGAMA DI LINGKUNGAN KELUARGA MUSLIM
Dalam proses pembangunan manusia Indonesia, agama memiliki kedudukan penting dan utama dalam upaya membentuk kualitas manusia dan masyarakat yang maju dan mandiri. Melalui pembangu...
RELASI AGAMA DAN NEGARA (STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN NURCHOLIS MADJID DAN ABDURRAHMAN WAHID)
RELASI AGAMA DAN NEGARA (STUDI KOMPARASI PEMIKIRAN NURCHOLIS MADJID DAN ABDURRAHMAN WAHID)
Religion and the State are two important things that cannot be separated from human life. This study raises the thoughts of Nurcholis Madjid and Abdurrahman Wahid regarding the rel...
Falsafah Pembangunan Negara Zikir Memperteguh Stabiliti Konsep Melayu Islam Beraja
Falsafah Pembangunan Negara Zikir Memperteguh Stabiliti Konsep Melayu Islam Beraja
Negara-negara dunia hari ini saling bersaing dan berlumba-lumba untuk meletakkan kedudukan negara masing-masing dalam kelompok negara maju yang mencapai indeks terbaik dalam aspek ...

