Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TRADISI PENGUBURAN MAYAT UMAT HINDU DI DESA TIGAWASA

View through CrossRef
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap keunikan-keunikkan dan kesederhanaan dari pelaksanaan penguburan mayat umat Hindu di desa Tigawasa. Untuk merampungkan penelitian ini digunakan beberapa metode antara lain, dalam mengumpulkan data digunakan metode wawancara dan metode kepustakaan. Dalam menganalisis data digunakan model analisis etnografi (ethnography analysis) dan hasilnya dipaparkan secara deskriptif. Adapun hasil penelitian yang diperoleh sebagai berikut. 1. Keunikan-keunikan Penguburan Mayat di Tigawasa antara lain: (1) tidak boleh membuat liang kubur sebelum upacara penguburan, karena kuburan tidak boleh dimasuki kecuali ada upacara penguburan/ngaben. (2) kuburan desa Tegawasa tidak disertai pura Dalem dan pura Prajapati, karena adanya awig-awig pelarangan memasuki wilayah kuburan. (3) sebagian sarana penguburan seperti bambu, kayu dan dedaunan yang diperlukan saat menguburkan harus dicari di areal kuburan tidak boleh dibawa dari rumah duka. (4) waktu penguburan tidak mencari dewasa ayu (hari baik) karena ada awig-awig desa, mayat tidak boleh didiamkan di rumah duka lebih dari 24 jam. 2. Tradisi penguburan meliputi beberapa tahapan upacara, yaitu: (1). Upacara saat meninggal ( Wawu lampus), (2). Upacara memandikan mayat (nyiramang); (3). Upacara mengusung mayat ke kuburan; (4). Upacara pembelian liang kubur dan (5). Upacara penguburan; 3. Sarana yang digunakan dalam penguburan mayat antara lain: 1). Ambuh; 2). Sisir/petat; 3). Sisig, 4). Waja; 5). Cermin/meka; 6). Uang kepeng; 7). Daun sirih; 8). Benang; 9). Mesui; 10). Daun sembung; 11). Pepage; 12). Daun penyalin/daun wi; 13). Blitbit; 14). Puung; 15). Cepu; 16). Air dan 17). Pakaian; sedangkan banten/upakara yang digunakan, diantaranya: 1). Sesagi (banten Punjung), 2). Banten aleman, dan 3). Canang gantal 21 buah.
Title: TRADISI PENGUBURAN MAYAT UMAT HINDU DI DESA TIGAWASA
Description:
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap keunikan-keunikkan dan kesederhanaan dari pelaksanaan penguburan mayat umat Hindu di desa Tigawasa.
Untuk merampungkan penelitian ini digunakan beberapa metode antara lain, dalam mengumpulkan data digunakan metode wawancara dan metode kepustakaan.
Dalam menganalisis data digunakan model analisis etnografi (ethnography analysis) dan hasilnya dipaparkan secara deskriptif.
Adapun hasil penelitian yang diperoleh sebagai berikut.
1.
Keunikan-keunikan Penguburan Mayat di Tigawasa antara lain: (1) tidak boleh membuat liang kubur sebelum upacara penguburan, karena kuburan tidak boleh dimasuki kecuali ada upacara penguburan/ngaben.
(2) kuburan desa Tegawasa tidak disertai pura Dalem dan pura Prajapati, karena adanya awig-awig pelarangan memasuki wilayah kuburan.
(3) sebagian sarana penguburan seperti bambu, kayu dan dedaunan yang diperlukan saat menguburkan harus dicari di areal kuburan tidak boleh dibawa dari rumah duka.
(4) waktu penguburan tidak mencari dewasa ayu (hari baik) karena ada awig-awig desa, mayat tidak boleh didiamkan di rumah duka lebih dari 24 jam.
2.
Tradisi penguburan meliputi beberapa tahapan upacara, yaitu: (1).
Upacara saat meninggal ( Wawu lampus), (2).
Upacara memandikan mayat (nyiramang); (3).
Upacara mengusung mayat ke kuburan; (4).
Upacara pembelian liang kubur dan (5).
Upacara penguburan; 3.
Sarana yang digunakan dalam penguburan mayat antara lain: 1).
Ambuh; 2).
Sisir/petat; 3).
Sisig, 4).
Waja; 5).
Cermin/meka; 6).
Uang kepeng; 7).
Daun sirih; 8).
Benang; 9).
Mesui; 10).
Daun sembung; 11).
Pepage; 12).
Daun penyalin/daun wi; 13).
Blitbit; 14).
Puung; 15).
Cepu; 16).
Air dan 17).
Pakaian; sedangkan banten/upakara yang digunakan, diantaranya: 1).
Sesagi (banten Punjung), 2).
Banten aleman, dan 3).
Canang gantal 21 buah.

Related Results

Ritus Kematian Masyarakat di Desa Tigawasa, Buleleng Bali
Ritus Kematian Masyarakat di Desa Tigawasa, Buleleng Bali
The process of death rites in Tigawasa village community is different from the Balinese death rite in general, where the Tigawasa community does not carry out the procession of ars...
RITUAL KEMATIAN MA AYUN BAREH DI JORONG PETOK, PANTI SELATAN, PANTI, PASAMAN SUMATERA BARAT
RITUAL KEMATIAN MA AYUN BAREH DI JORONG PETOK, PANTI SELATAN, PANTI, PASAMAN SUMATERA BARAT
ABSTRAKDi dalam masyarakat Jorong Petok terdapat suatu tradisi atau kebiasaan yang dilaksanakan ketika ada seseorang masyarakat yang meninggal dunia, yaitu Tradisi Ma Ayun Bareh. T...
STRATEGI KOMUNIKASI PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA ( PHDI) DALAM PEMBINAAN UMAT HINDU DI KOTA KENDARI TAHUN 2020-2021
STRATEGI KOMUNIKASI PARISADA HINDU DHARMA INDONESIA ( PHDI) DALAM PEMBINAAN UMAT HINDU DI KOTA KENDARI TAHUN 2020-2021
         Parisada Hindu Dharma Indonesia atau biasa di singkat PHDI merupakan majelis tertinggi lembaga keagamaan Umat Hindu, yang didirikan untuk melayani Umat Hindu dalam meningk...
PERAN PENYULUH AGAMA HINDU NON PNS TERHADAP PENDIDIKAN DAN SRADHA GENERASI MUDA HINDU DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOYOLALI
PERAN PENYULUH AGAMA HINDU NON PNS TERHADAP PENDIDIKAN DAN SRADHA GENERASI MUDA HINDU DI KECAMATAN TAMANSARI KABUPATEN BOYOLALI
Penyuluhan Agama Hindu adalah suatu kegiatan memberi sesuluh atau penjelasan ajaran agama Hindu dalam rangka pembinaan umat agar dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran a...
TRADISI MEMUTRU PADA UPACARA NGABEN DI DESA DARMASABA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)
TRADISI MEMUTRU PADA UPACARA NGABEN DI DESA DARMASABA KECAMATAN ABIANSEMAL KABUPATEN BADUNG (Perspektif Pendidikan Agama Hindu)
       Tradisi memutru adalah salah satu tradisi yang ada di Desa Adat Darmasaba yang dilaksanakan pada upacara ngaben. Adapun masalah yang akan dibahas antara lain: (1) Bagaimanak...
TRADISI NGEDEBLAG DI DESA PAKRAMAN KEMENUH KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (Kajian Teologi Hindu)
TRADISI NGEDEBLAG DI DESA PAKRAMAN KEMENUH KECAMATAN SUKAWATI KABUPATEN GIANYAR (Kajian Teologi Hindu)
<p>Umat Hindu selalu memegang teguh ajaran <em>Tri Hita Karana </em>yaitu tiga sumber</p><p>yang mendatangkan kebahagiaan, yakni hubungan manusia deng...
ANALISIS KEBUTUHAN GURU AGAMA HINDU DI KOTA MATARAM DAN SIGNIFIKANSINYA DENGAN LULUSAN INSTITUT AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA MATARAM
ANALISIS KEBUTUHAN GURU AGAMA HINDU DI KOTA MATARAM DAN SIGNIFIKANSINYA DENGAN LULUSAN INSTITUT AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA MATARAM
The shortage of Hindu Religion Teachers is one of the main problems for the world of education. We hope that with the large number of Hindu religious colleges and graduates of the ...
FILOSOFI MENDIRIKAN KERAMAT MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN
FILOSOFI MENDIRIKAN KERAMAT MENURUT AGAMA HINDU KAHARINGAN
Pengaruh agama dalam kehidupan berbudaya dan sebaliknya telah menciptakan suatu tradisi yang beraneka ragam. Dialektika hubungan agama dan tradisi terjadi dalam masyarakat yang dig...

Back to Top