Javascript must be enabled to continue!
Analisis Semantik Reflektif Terhadap Frasa Syaghafaha Hubban dalam Surah Yusuf
View through CrossRef
Syaghaf is an Arabic term that describes love or a very strong inclination toward something. In Surah Yusuf verse 30, the phrase syaghafaha hubban is used to depict the obsessive love of the wife of Al-Aziz for Prophet Yusuf, whose intensity could obscure rationality. Although this concept is frequently mentioned in Qur’anic exegesis, studies linking its semantic analysis with a reflection on Qur’anic ethics remain rare. A deep understanding of this phrase is essential to explore the relationship between the language of revelation, the dynamics of extreme emotions, and moral restraint in modern life. This study aims to analyze the semantic meaning of syaghafaha hubban through a reflective-ethical semantic approach, which combines syntagmatic and paradigmatic analysis with moral examination based on Qur’anic values. Data were collected through a literature review of classical and modern tafsir, as well as Qur’anic linguistic studies to trace semantic shifts in contemporary contexts. The findings indicate that syaghafaha hubban represents a form of obsessive love that can weaken self-control and drive behavior contrary to the principles of tauhid. This study enriches Qur’anic semantic scholarship by integrating linguistic analysis with ethical reflection, while filling a research gap that connects the language of revelation with modern emotional health issues. It recommends strengthening spiritual practices, internalizing tauhid values, and implementing Qur’an-based emotional education as preventive measures in managing extreme emotions, so that the moral message of Surah Yusuf verse 30 can be applied contextually in the present era.
Abstrak: Syaghaf merupakan istilah bahasa Arab yang menggambarkan cinta atau kecenderungan yang sangat kuat terhadap sesuatu. Dalam QS. Yusuf ayat 30, frasa syaghafaha hubban digunakan untuk melukiskan perasaan cinta obsesif istri Al-Aziz terhadap Nabi Yusuf, yang intensitasnya mampu mengaburkan rasionalitas. Meskipun konsep ini sering disebut dalam tafsir, kajian yang mengaitkan analisis semantik frasa tersebut dengan refleksi etika Qur’ani masih jarang dilakukan. Padahal, pemahaman mendalam terhadapnya penting untuk mengkaji relasi antara bahasa wahyu, dinamika emosi ekstrem, dan kendali moral dalam kehidupan modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna semantik syaghafaha hubban dengan pendekatan semantik reflektif-etika, yakni perpaduan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan telaah moral berdasarkan nilai-nilai Qur’ani. Data dihimpun melalui studi pustaka terhadap tafsir klasik dan modern, serta kajian linguistik Al-Qur’an untuk menelusuri pergeseran makna dalam konteks kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa syaghafaha hubban merepresentasikan bentuk cinta obsesif yang dapat melemahkan pengendalian diri dan mendorong perilaku yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Temuan ini memperkaya studi semantik Al-Qur’an dengan mengintegrasikan analisis linguistik dan refleksi etis, sekaligus mengisi celah kajian yang menghubungkan bahasa wahyu dengan kesehatan emosional modern. Penelitian ini merekomendasikan penguatan praktik spiritual, internalisasi nilai tauhid, dan pendidikan emosional berbasis Qur’ani sebagai langkah preventif dalam mengelola emosi ekstrem, sehingga pesan moral QS. Yusuf ayat 30 dapat diterapkan secara kontekstual di era kini.
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Title: Analisis Semantik Reflektif Terhadap Frasa Syaghafaha Hubban dalam Surah Yusuf
Description:
Syaghaf is an Arabic term that describes love or a very strong inclination toward something.
In Surah Yusuf verse 30, the phrase syaghafaha hubban is used to depict the obsessive love of the wife of Al-Aziz for Prophet Yusuf, whose intensity could obscure rationality.
Although this concept is frequently mentioned in Qur’anic exegesis, studies linking its semantic analysis with a reflection on Qur’anic ethics remain rare.
A deep understanding of this phrase is essential to explore the relationship between the language of revelation, the dynamics of extreme emotions, and moral restraint in modern life.
This study aims to analyze the semantic meaning of syaghafaha hubban through a reflective-ethical semantic approach, which combines syntagmatic and paradigmatic analysis with moral examination based on Qur’anic values.
Data were collected through a literature review of classical and modern tafsir, as well as Qur’anic linguistic studies to trace semantic shifts in contemporary contexts.
The findings indicate that syaghafaha hubban represents a form of obsessive love that can weaken self-control and drive behavior contrary to the principles of tauhid.
This study enriches Qur’anic semantic scholarship by integrating linguistic analysis with ethical reflection, while filling a research gap that connects the language of revelation with modern emotional health issues.
It recommends strengthening spiritual practices, internalizing tauhid values, and implementing Qur’an-based emotional education as preventive measures in managing extreme emotions, so that the moral message of Surah Yusuf verse 30 can be applied contextually in the present era.
Abstrak: Syaghaf merupakan istilah bahasa Arab yang menggambarkan cinta atau kecenderungan yang sangat kuat terhadap sesuatu.
Dalam QS.
Yusuf ayat 30, frasa syaghafaha hubban digunakan untuk melukiskan perasaan cinta obsesif istri Al-Aziz terhadap Nabi Yusuf, yang intensitasnya mampu mengaburkan rasionalitas.
Meskipun konsep ini sering disebut dalam tafsir, kajian yang mengaitkan analisis semantik frasa tersebut dengan refleksi etika Qur’ani masih jarang dilakukan.
Padahal, pemahaman mendalam terhadapnya penting untuk mengkaji relasi antara bahasa wahyu, dinamika emosi ekstrem, dan kendali moral dalam kehidupan modern.
Penelitian ini bertujuan menganalisis makna semantik syaghafaha hubban dengan pendekatan semantik reflektif-etika, yakni perpaduan analisis sintagmatik dan paradigmatik dengan telaah moral berdasarkan nilai-nilai Qur’ani.
Data dihimpun melalui studi pustaka terhadap tafsir klasik dan modern, serta kajian linguistik Al-Qur’an untuk menelusuri pergeseran makna dalam konteks kontemporer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa syaghafaha hubban merepresentasikan bentuk cinta obsesif yang dapat melemahkan pengendalian diri dan mendorong perilaku yang bertentangan dengan prinsip tauhid.
Temuan ini memperkaya studi semantik Al-Qur’an dengan mengintegrasikan analisis linguistik dan refleksi etis, sekaligus mengisi celah kajian yang menghubungkan bahasa wahyu dengan kesehatan emosional modern.
Penelitian ini merekomendasikan penguatan praktik spiritual, internalisasi nilai tauhid, dan pendidikan emosional berbasis Qur’ani sebagai langkah preventif dalam mengelola emosi ekstrem, sehingga pesan moral QS.
Yusuf ayat 30 dapat diterapkan secara kontekstual di era kini.
Related Results
Frasa Eksosentrik dalam Novel Kembang Kembang Petingan Karya Holisoh M.E
Frasa Eksosentrik dalam Novel Kembang Kembang Petingan Karya Holisoh M.E
The research aims to analyze and describe exocentric phrase that include the form, stucture, and semantics (the relation between grammatical elements) that contained in the novel K...
MATEMATIKA DALAM AL-QUR’AN
MATEMATIKA DALAM AL-QUR’AN
Al-Qur’an merupakan kitab suci bagi umat Islam yang di dalamnya tidak hanya memuat tentang amaliah keagamaan saja tapi juga memuat tentang sains dan ilmu pengetahuan tak terkecual...
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
PERAN TATA KELOLA PERUSAHAAN DALAM MEMODERASI PENGARUH IMPLEMANTASI GREEN ACCOUNTING, CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY DAN FIRM SIZE TERHADAP KINERJA KEUANGAN
This study examines the role of corporate governance in moderating the influence of green accounting disclosure, corporate social responsibility (CSR), and firm size on the financi...
BEBERAPA TEORI DAN PENDEKATAN SEMANTIK
BEBERAPA TEORI DAN PENDEKATAN SEMANTIK
Tujuan penulisan makalah ini untuk mendeskripsikan pengertian semantik, beberapa teori dan pendekatan. Data dikumpulkan dari pendapat beberapa ahli linguistik. Metode pengumpulan d...
KAITAN BUNSETSU DAN FRASA POSPOSISI SUBJEK-OBJEK DALAM BAHASA JEPANG
KAITAN BUNSETSU DAN FRASA POSPOSISI SUBJEK-OBJEK DALAM BAHASA JEPANG
Kalimat dibentuk oleh berbagai satuan kalimat (satuan gramatikal) dari satuan terkecil yaitu kata sampai satuan terbesar yaitu kalimat itu sendiri. Pada umumnya satuan gramatikal s...
EFEKTIVITAS REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION BERBASIS HYPOTHETICAL LEARNING TRAJECTORIES TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR REFLEKTIF SISWA
EFEKTIVITAS REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION BERBASIS HYPOTHETICAL LEARNING TRAJECTORIES TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR REFLEKTIF SISWA
Berpikir reflektif memiliki peran penting bagi siswa pada pembelajaran matematika yang melibatkan pemecahan masalah. Namun, siswa seringkali memiliki kemampuan berpikir reflektif y...
Diksi Bung Karno dalam Memoar Sarinah: Sebuah Analisis Wacana Kritis Feminis Model Sara Mills
Diksi Bung Karno dalam Memoar Sarinah: Sebuah Analisis Wacana Kritis Feminis Model Sara Mills
This study aims to explain the use of words or phrase categories: general form; mark and not mark; naming and androcentrism; and semantic derogation in Sarinah's memoir. The materi...
FRASA BAHASA MAIRASI (PHRASES IN MAIRASI LANGUAGE)
FRASA BAHASA MAIRASI (PHRASES IN MAIRASI LANGUAGE)
Frase hanya mengisi satu fungsi dalam klausa. Untuk memperkuat klarifikasi di atas dikutip satu pengertian frasa pendukung yang dibuat oleh Elson Pickket dan (1976: 73), yaitu “Fra...

