Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

TEKNOLOGI DIGITAL SEBAGAI MEDIA OBJEKTIFIKASI PEREMPUAN: KAJIAN KRITIS MEDIA SOSIAL

View through CrossRef
Sebagai bagian dari perkembangan teknologi digital yang sangat dinamis, media sosial dapat berfungsi sebagai media pemberdayaan perempuan atau media untuk meningkatkan kesadaran (awareness) terhadap isu-isu gender. Akan tetapi, dalam kenyataannya, media sosial justru dipakai sebagai alat pelanggeng dominasi ideologi patriarki yang memosisikan perempuan sebagai obyek atau pihak yang lebih inferior. Kajian kritis terhadap media sosial melalui pendekatan multi disiplin seperti yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode digital ethnography harus terus dikembangkan agar penelitian akademis dapat membongkar ideologi dominan dalam praktik budaya yang terjadi di media sosial. Penelitian ini menganalisis bagaimana media sosial Instagram digunakan oleh penggunanya, dalam hal ini seorang public figure, yang memiliki follower dalam jumlah banyak melalui akun @phtfcl, untuk mengkonstruksi imaji laki-laki maskulin sebagai individu yang sukses karena memiliki kekayaan yang dapat digunakan untuk mendapatkan perempuan ‘ideal’. Pemikiran dasar penelitian ini adalah bagaimana objektifikasi perempuan terutama dalam media sosial sangat terkait dengan status sosial perempuan di dunia ‘nyata.’ Inilah yang kemudian menjadi signikansi utama mengapa media sosial harus selalu dipermasalahkan kompleksitasnya. Permasalahan utama adalah bagaimana PHT mengkonstruksi pemaknaan dominan atas dirinya sebagai bagian dari konstruksi dominan mengenai maskulinitas yang memosisikan perempuan sebagai obyek. Temuan penelitian menunjukkan objektifikasi perempuan sebagai bentuk pelanggengan budaya patriarki yang direproduksi secara berkesinambungan oleh media sosial. Akan tetapi, peneliti juga menemukan adanya dinamika afirmasi dan kontestasi oleh warganet sebagai bagian dari masyarakat jejaring yang secara aktif menunjukkan agensinya dalam memaknai objektifikasi tersebut. As part of the dynamic development of digital technology, social media serves as a medium for women empowerment or to increase awareness of gender issues. However, in reality, social media is often used as a tool to perpetuate the domination of patriarchal ideology that positions women as more inferior objects or party. Critical studies of social media through a multidisciplinary approach as conducted in this study using digital ethnography methods must continue to be developed in order for academic research to dismantle the dominant ideology in cultural practices that occur in social media. This study analyze how Instagram social media is used, in this case, by a public figure with a large number of followers through the @phtfcl account, to construct the image of masculine men as successful individuals because they have wealth that can be used to get 'ideal' women. The basic thinking of this research is how the objectification of women, especially in social media is closely related to the social status of women in the 'real' world. This is then the main significance of why social media must always be questioned about its complexity. The main problem is how PHT constructs the dominant meaning of himself as part of the dominant construction of masculinity that positions women as objects. Research findings show objectification of women as a form of perpetuating patriarchal culture that is reproduced on an ongoing basis by social media. However, researchers also found the dynamics of affirmation and contestation by citizens as part of a networked society that actively shows its agency in interpreting said objectification.
Title: TEKNOLOGI DIGITAL SEBAGAI MEDIA OBJEKTIFIKASI PEREMPUAN: KAJIAN KRITIS MEDIA SOSIAL
Description:
Sebagai bagian dari perkembangan teknologi digital yang sangat dinamis, media sosial dapat berfungsi sebagai media pemberdayaan perempuan atau media untuk meningkatkan kesadaran (awareness) terhadap isu-isu gender.
Akan tetapi, dalam kenyataannya, media sosial justru dipakai sebagai alat pelanggeng dominasi ideologi patriarki yang memosisikan perempuan sebagai obyek atau pihak yang lebih inferior.
Kajian kritis terhadap media sosial melalui pendekatan multi disiplin seperti yang dilakukan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode digital ethnography harus terus dikembangkan agar penelitian akademis dapat membongkar ideologi dominan dalam praktik budaya yang terjadi di media sosial.
Penelitian ini menganalisis bagaimana media sosial Instagram digunakan oleh penggunanya, dalam hal ini seorang public figure, yang memiliki follower dalam jumlah banyak melalui akun @phtfcl, untuk mengkonstruksi imaji laki-laki maskulin sebagai individu yang sukses karena memiliki kekayaan yang dapat digunakan untuk mendapatkan perempuan ‘ideal’.
Pemikiran dasar penelitian ini adalah bagaimana objektifikasi perempuan terutama dalam media sosial sangat terkait dengan status sosial perempuan di dunia ‘nyata.
’ Inilah yang kemudian menjadi signikansi utama mengapa media sosial harus selalu dipermasalahkan kompleksitasnya.
Permasalahan utama adalah bagaimana PHT mengkonstruksi pemaknaan dominan atas dirinya sebagai bagian dari konstruksi dominan mengenai maskulinitas yang memosisikan perempuan sebagai obyek.
Temuan penelitian menunjukkan objektifikasi perempuan sebagai bentuk pelanggengan budaya patriarki yang direproduksi secara berkesinambungan oleh media sosial.
Akan tetapi, peneliti juga menemukan adanya dinamika afirmasi dan kontestasi oleh warganet sebagai bagian dari masyarakat jejaring yang secara aktif menunjukkan agensinya dalam memaknai objektifikasi tersebut.
 As part of the dynamic development of digital technology, social media serves as a medium for women empowerment or to increase awareness of gender issues.
However, in reality, social media is often used as a tool to perpetuate the domination of patriarchal ideology that positions women as more inferior objects or party.
Critical studies of social media through a multidisciplinary approach as conducted in this study using digital ethnography methods must continue to be developed in order for academic research to dismantle the dominant ideology in cultural practices that occur in social media.
This study analyze how Instagram social media is used, in this case, by a public figure with a large number of followers through the @phtfcl account, to construct the image of masculine men as successful individuals because they have wealth that can be used to get 'ideal' women.
The basic thinking of this research is how the objectification of women, especially in social media is closely related to the social status of women in the 'real' world.
This is then the main significance of why social media must always be questioned about its complexity.
The main problem is how PHT constructs the dominant meaning of himself as part of the dominant construction of masculinity that positions women as objects.
Research findings show objectification of women as a form of perpetuating patriarchal culture that is reproduced on an ongoing basis by social media.
However, researchers also found the dynamics of affirmation and contestation by citizens as part of a networked society that actively shows its agency in interpreting said objectification.

Related Results

Perempuan Sebagai Objektifikasi dan Komerialisasi dalam Media Sosial TikTok
Perempuan Sebagai Objektifikasi dan Komerialisasi dalam Media Sosial TikTok
  Abstract. This study is entitled "Women as Objectification and Commercialization in TikTok Social Media (Sara Mills' Discourse Analysis of the Content of the TikTok Account @goo...
Kritik Objektifikasi Perempuan pada Lirik Lagu Nxde karya (G)-IDLE
Kritik Objektifikasi Perempuan pada Lirik Lagu Nxde karya (G)-IDLE
Abstract. The research entitled “Criticism of the Objectification of Women in the Song Lyrics Riffaterre's Semiotic (Analysis of the Lyrics of the Song Nxde by (G)-IDLE) was motiva...
Access Denied
Access Denied
Introduction As social-distancing mandates in response to COVID-19 restricted in-person data collection methods such as participant observation and interviews, researchers turned t...
Objektifikasi Perempuan dalam Kumpulan Cerpen Sebuah Pertanyaan untuk Cinta Karya Seno Gumira Ajidarma
Objektifikasi Perempuan dalam Kumpulan Cerpen Sebuah Pertanyaan untuk Cinta Karya Seno Gumira Ajidarma
ABSTRAK Perempuan seringkali diposisikan sebagai pihak yang inferior dan laki-laki seringkali menempatkan perempuan sebagai objek seksual. Hal ini tidak hanya terlihat dalam ...
KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH
KETERWAKILAN PEREMPUAN DALAM PARTAI POLITIK PERSPEKTIF SIYASAH SYAR’IYYAH
Peran perempuan Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai manusia yang hidup dalam situasi dramatis. Disatu sisi perempuan Indonesia dituntut untuk berperan dalam semua sektor, ...
MITOS TOKOH PEREMPUAN LAKON ABDULMULUK JAUHARI TEATER DULMULUK TUNAS HARAPAN
MITOS TOKOH PEREMPUAN LAKON ABDULMULUK JAUHARI TEATER DULMULUK TUNAS HARAPAN
<p>Penelitian berjudul “Mitos Tokoh Perempuan Lakon Abdulmuluk Jauhari Teater Dulmuluk Tunas Harapan” ini menganalisis tentang tokoh perempuan yang dimainkan oleh aktor laki-...
The influence of micro influencers and digital marketing on product purchasing decisions at tiktok shop in bengkulu city
The influence of micro influencers and digital marketing on product purchasing decisions at tiktok shop in bengkulu city
THE INFLUENCE OF MICRO-INFLUENCERS AND DIGITAL MARKETING ON PURCHASE DECISIONS OF TIKTOK SHOP CUSTOMERS IN BENGKULU CITY Andhes Tiani Putri, Meylaty F   12Faculty Of Economic E...

Back to Top