Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Konsep Makna Dalil Rezeki Didalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ibnu Katsir)Konsep Makna Dalil Rezeki Didalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ibnu Katsir)

View through CrossRef
Jika membahas masalah rezeki sering kali dikaitkan dengan masalah ekonomi di kehidupan manusia. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap rezeki sebagai sumber kesejahteraan hidup, sehingga mereka lupa bahwa mereka hidup di bumi Allah SWT ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. seseorang yang jika diberi kekayaan maka dia akan bermaksiat, sedangkan jika diberi kecukupan maka dia akan gemar beribadah. Namun, ada juga orang yang jika diberi kemiskinan dia bermaksiat dan jika diberi kekayaan dia akan gemar beribadah dan bersedekah. Kekayaan juga dapat membuat seseorang itu berbuat angkuh dan semaunya.Untuk mengungkap makna dibalik kata rizq yang mana kata rezeki disebutkan sebanyak 123 kali di dalam alqur’an. Maka dari itu diperlukan pendekatan yang sesuai dengan hal tersebut. Seiring berkembangnya zaman, metode penafsiran Al-Qur’an yang beredar saat ini juga beragam, salah satunya ialah menggunakan pendekatan tafsir tematik. Menurut Al-Farmawi ayat-ayat yang berkaitan dengan tema, namun jika tidak memungkinkan bisa dengan menyeleksi ayat-ayat yang mewakili dengan tema yang di angkat. Rezeki menurut Ibnu Katsir segala sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya. Allah meluaskan rezeki mereka tujuannya untuk menguji mereka dengan rezeki mereka tersebut. Jika Allah memberikan cobaan dan menyempitkan rezeki bukan berarti Allah menghinakannya. Tujuannya ialah agar manusia selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Kata rezeki didalam Al-Qur’an terbagi kedalam 32 bentuk dan dibagi lagi menjadi 4 bentuk isytiqaq rezeki terbagi mejadi 3 macam yaitu rezeki yang dijamin yang mana Allah telah menjamin seluruh rezeki makhluk-Nya, rezeki yang dibagikan yang mana rezeki kadarnya bisa berubah-ubah, tergantung usaha seseorang untuk mendapatkannya, dan yang terakhir rezeki yang di janjikan yang mana allah telah menjanjikan rezeki kepada seluruh makhluknya
Title: Konsep Makna Dalil Rezeki Didalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ibnu Katsir)Konsep Makna Dalil Rezeki Didalam Al-Qur’an (Studi Tafsir Ibnu Katsir)
Description:
Jika membahas masalah rezeki sering kali dikaitkan dengan masalah ekonomi di kehidupan manusia.
Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap rezeki sebagai sumber kesejahteraan hidup, sehingga mereka lupa bahwa mereka hidup di bumi Allah SWT ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya.
seseorang yang jika diberi kekayaan maka dia akan bermaksiat, sedangkan jika diberi kecukupan maka dia akan gemar beribadah.
Namun, ada juga orang yang jika diberi kemiskinan dia bermaksiat dan jika diberi kekayaan dia akan gemar beribadah dan bersedekah.
Kekayaan juga dapat membuat seseorang itu berbuat angkuh dan semaunya.
Untuk mengungkap makna dibalik kata rizq yang mana kata rezeki disebutkan sebanyak 123 kali di dalam alqur’an.
Maka dari itu diperlukan pendekatan yang sesuai dengan hal tersebut.
Seiring berkembangnya zaman, metode penafsiran Al-Qur’an yang beredar saat ini juga beragam, salah satunya ialah menggunakan pendekatan tafsir tematik.
Menurut Al-Farmawi ayat-ayat yang berkaitan dengan tema, namun jika tidak memungkinkan bisa dengan menyeleksi ayat-ayat yang mewakili dengan tema yang di angkat.
Rezeki menurut Ibnu Katsir segala sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya.
Allah meluaskan rezeki mereka tujuannya untuk menguji mereka dengan rezeki mereka tersebut.
Jika Allah memberikan cobaan dan menyempitkan rezeki bukan berarti Allah menghinakannya.
Tujuannya ialah agar manusia selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.
Kata rezeki didalam Al-Qur’an terbagi kedalam 32 bentuk dan dibagi lagi menjadi 4 bentuk isytiqaq rezeki terbagi mejadi 3 macam yaitu rezeki yang dijamin yang mana Allah telah menjamin seluruh rezeki makhluk-Nya, rezeki yang dibagikan yang mana rezeki kadarnya bisa berubah-ubah, tergantung usaha seseorang untuk mendapatkannya, dan yang terakhir rezeki yang di janjikan yang mana allah telah menjanjikan rezeki kepada seluruh makhluknya.

Related Results

Studi Komparatif Lafadz Ulul Albab dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Mishbah
Studi Komparatif Lafadz Ulul Albab dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Al Mishbah
Abstrak: Tafsir Al-Qur’an adalah bidang studi yang fokus pada penafsiran dan pemahaman teks suci Al-Qur’an. Salah satu konsep yang sering dibahas adalah “Ulul Albab,” yaitu orang-o...
IBN KATSIR : Telaáh Tafsir al-Quránnul Azim Karya Ibn Katsir
IBN KATSIR : Telaáh Tafsir al-Quránnul Azim Karya Ibn Katsir
Tafsir al-Quránnul Azim, karya ibn katsir ini merupakan salah satu kitab yang menjadi referensi dari sebagian banyak kitab tafsir, tidak asing ditelinga ketika seorang mubaliqh, ul...
STUDI KITAB TAFSIR AL-QUR’AN AL-AZIM KARYA IBNU KATSIR
STUDI KITAB TAFSIR AL-QUR’AN AL-AZIM KARYA IBNU KATSIR
AbstractTafsir Al-Qur'an Al-Azim, which is one of the most authoritative commentaries in the Islamic tradition. Motivated by the significance of this monumental work in the treasur...
Idealisasi Metode Living Qur’an
Idealisasi Metode Living Qur’an
<p align="center"><strong>Abstract</strong></p><p> </p><p>Living Qur’an is one of the contemporary method which needs some supports to be ...
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
AL-QUR’AN: THE ONLY DIVINE GUIDANCE IN PRISTINE FORM
  Al-Qur’an is the Final divine revelation sent down to the Final Messenger of God, the Prophet Muhammad (PBUH). Allah SWT is the creator of all humankind, Jinns, and all creatures...
Konsep Tabayyun dalam Surat Al-Hujurat: Menyikapi Berita Hoax di Zaman Sekarang dari Perspektif Tafsir Ibnu Katsir
Konsep Tabayyun dalam Surat Al-Hujurat: Menyikapi Berita Hoax di Zaman Sekarang dari Perspektif Tafsir Ibnu Katsir
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep tabayyun dalam menyikapi berita hoax dari perspektif tafsir Ibnu Katsir. Desain penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif ...

Back to Top