Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

FORAMINIFERA BENTONIK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN TERUMBU KARANG DI PULAU TEGAL, TELUK LAMPUNG, LAMPUNG

View through CrossRef
Foraminifera telah banyak digunakan sebagai indikator kualitas perairan sekitar terumbu karang di Indonesia berdasarkan perbandingan kelompok foraminifera bentonik tertentu. Studi tersebut diterapkan di sekitar Pulau Tegal, Teluk Lampung yang merupakan salah satu destinasi wisata yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentonik kaitannya dengan kondisi perairan terumbu karang Pulau Tegal, Teluk Lampung. Penelitian ini dilakukan pada 16 stasiun penelitian di Pulau Tegal yang mewakili semua sisi pulau dengan variasi kedalaman dari 0 meter hingga 28 meter. Hasil dari penelitian ini ditemukan 6.918 spesimen foraminifera bentonik dengan keanekaragaman yang tergolong rendah. Genera Amphistegina dan Elphidium ditemukan sangat melimpah pada hampir seluruh stasiun. Nilai Indeks FORAM (FI) diatas 4 ditemukan pada 11 stasiun penelitian yang mengindikasikan bahwa sebagian besar perairan Pulau Tegal berada dalam kondisi yang sangat baik dan kondusif untuk pertumbuhan serta pemulihan terumbu karang. Hasil ini sejalan dengan melimpahnya kehadiran kelompok foraminifera yang berasosiasi dengan terumbu karang pada perairan Pulau Tegal.Kata Kunci: Bioindikator, Pulau Tegal, Indeks FORAM, Terumbu Karang, Komunitas.Foraminifera has been widely used as an indicator of the quality of the waters around coral reefs in Indonesia based on the comparison of certain groups of benthonic foraminifera. The study was implemented around Tegal Island, Lampung Bay, which is one of the tourist destinations that influence the coral reef ecosystem. This study aims to determine the structure of bentonic foraminifera communities related to the condition of the coral reef waters of Tegal Island, Lampung Bay. This research was conducted at 16 research stations in Tegal Island representing all sides of the island with variations in depth from 0 m to 28 m water depth. The results of this study found 6.918 specimens of bentonic foraminifera with relatively low diversity. The genera Amphistegina and Elphidium were found to be very abundant in almost all stations. The FORAM Index (FI) above 4 was found in 11 research stations which indicated that most of the waters of Tegal Island were in very good conditions and conducive to the growth and recovery of coral reefs. This result is in line with the abundance of the presence of foraminifera groups associated with coral reefs in the waters of Tegal Island. Keywords: Bioindicator, Tegal Island, FORAM Index, Coral Reef, Community
Title: FORAMINIFERA BENTONIK SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS PERAIRAN TERUMBU KARANG DI PULAU TEGAL, TELUK LAMPUNG, LAMPUNG
Description:
Foraminifera telah banyak digunakan sebagai indikator kualitas perairan sekitar terumbu karang di Indonesia berdasarkan perbandingan kelompok foraminifera bentonik tertentu.
Studi tersebut diterapkan di sekitar Pulau Tegal, Teluk Lampung yang merupakan salah satu destinasi wisata yang secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap ekosistem terumbu karang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas foraminifera bentonik kaitannya dengan kondisi perairan terumbu karang Pulau Tegal, Teluk Lampung.
Penelitian ini dilakukan pada 16 stasiun penelitian di Pulau Tegal yang mewakili semua sisi pulau dengan variasi kedalaman dari 0 meter hingga 28 meter.
Hasil dari penelitian ini ditemukan 6.
918 spesimen foraminifera bentonik dengan keanekaragaman yang tergolong rendah.
Genera Amphistegina dan Elphidium ditemukan sangat melimpah pada hampir seluruh stasiun.
Nilai Indeks FORAM (FI) diatas 4 ditemukan pada 11 stasiun penelitian yang mengindikasikan bahwa sebagian besar perairan Pulau Tegal berada dalam kondisi yang sangat baik dan kondusif untuk pertumbuhan serta pemulihan terumbu karang.
Hasil ini sejalan dengan melimpahnya kehadiran kelompok foraminifera yang berasosiasi dengan terumbu karang pada perairan Pulau Tegal.
Kata Kunci: Bioindikator, Pulau Tegal, Indeks FORAM, Terumbu Karang, Komunitas.
Foraminifera has been widely used as an indicator of the quality of the waters around coral reefs in Indonesia based on the comparison of certain groups of benthonic foraminifera.
The study was implemented around Tegal Island, Lampung Bay, which is one of the tourist destinations that influence the coral reef ecosystem.
This study aims to determine the structure of bentonic foraminifera communities related to the condition of the coral reef waters of Tegal Island, Lampung Bay.
This research was conducted at 16 research stations in Tegal Island representing all sides of the island with variations in depth from 0 m to 28 m water depth.
The results of this study found 6.
918 specimens of bentonic foraminifera with relatively low diversity.
The genera Amphistegina and Elphidium were found to be very abundant in almost all stations.
The FORAM Index (FI) above 4 was found in 11 research stations which indicated that most of the waters of Tegal Island were in very good conditions and conducive to the growth and recovery of coral reefs.
This result is in line with the abundance of the presence of foraminifera groups associated with coral reefs in the waters of Tegal Island.
Keywords: Bioindicator, Tegal Island, FORAM Index, Coral Reef, Community.

Related Results

KOMPARASI POLA SPASIAL KONDISI TERUMBU KARANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
KOMPARASI POLA SPASIAL KONDISI TERUMBU KARANG TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA
ABSTRACTComparative studies on the percentage of coral reef substrate cover have been carried out in 3 (three) management zones (protection zone, utilization and Non-MPA) Karimunja...
Monitoring Habitat Terumbu Karang Di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran
Monitoring Habitat Terumbu Karang Di Pulau Pahawang Kabupaten Pesawaran
Provinsi Lampung merupakan bagian minor ekosistem terumbu karang, khususnya Pulau Pahawang yang merupakan destinasi wisata unggulan habitat terumbu karang. Maka dari itu, proses mo...
Aksi Rehabilitasi Kerusakan Terumbu Karang dengan Kombinasi Metode Rock Piles dan Transplantasi
Aksi Rehabilitasi Kerusakan Terumbu Karang dengan Kombinasi Metode Rock Piles dan Transplantasi
Aktifitas penambangan terumbu karang dan pemboman ikan di perairan Desa Tol-toli telah terjadi dalam beberapa dekade terakhir. Meskipun aktifitas tersebut sudah terhenti namun damp...
Sebaran Spasial Nitrat dan Fosfat Di Perairan Terumbu Karang Kabupaten Bone dan Kelayakannya Untuk Lokasi Pertumbuhan Karang
Sebaran Spasial Nitrat dan Fosfat Di Perairan Terumbu Karang Kabupaten Bone dan Kelayakannya Untuk Lokasi Pertumbuhan Karang
Nitrat dan posfat dibutuhkan oleh zooxhantella yang bersimbiosis dengan terumbu karang. Kadar nitrat dan fospat perairan dipengaruhi oleh aktifitas di daratan karena sumber utama n...
Evaluasi Kesehatan Terumbu Karang di Pulau Pramuka: Tantangan dan Peluang Konservasi di Kawasan Kepulauan Seribu
Evaluasi Kesehatan Terumbu Karang di Pulau Pramuka: Tantangan dan Peluang Konservasi di Kawasan Kepulauan Seribu
Pulau Pramuka merupakan salah satu pulau di Kepulauan Seribu yang merupakan pusat administratif. Salah satu wisata yang terkenal dan menarik adalah wisata bahari. Ekosistem terumbu...
Tanggungjawab Pemerintah Daerah terhadap kerusakan Terumbu Karang Di Kabupaten Raja Ampat
Tanggungjawab Pemerintah Daerah terhadap kerusakan Terumbu Karang Di Kabupaten Raja Ampat
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Tanggungjawab Pemerintah Daerah dalam penyelesaiankerusakan terumbu karang, dan untuk mengetahui proses penyelesaian terhadap kerusakan te...
PEMETAAN KEDALAMAN LAUT UNTUK ZONA BUDIDAYA TERUMBU KARANG
PEMETAAN KEDALAMAN LAUT UNTUK ZONA BUDIDAYA TERUMBU KARANG
Desa Temukus Kecamatan Banjar merupakan desa pesisir yang mengembangkan wilayah pesisir dengan salah satu programnya adalah budidaya terumbu karang. Namun, menemui kesulitan untuk ...

Back to Top