Javascript must be enabled to continue!
Laki-laki Menjaga Tsunami, Perempuan Menjaga 'Brahma': Pemetaan Potensi Bencana dan Masalah Daerah Rawan Tsunami di Pantai Golo, Desa Wojo, Kabupaten Malang, Jawa Timur
View through CrossRef
AbstractMapping potential disasters and problems is the basis for knowing disaster risks that will occur. Wojo Village is one of the villages in the southern region of Malang Regency which has the potential of a tsunami disaster. The potential of the tsunami disaster was realized by the community since the cessation of the mining cooperatives in 2015 on Golo Beach. The activity of mapping potential disasters and problems utilize the Participatory Geographic Information System (PGIS) method. This method was carried out by inviting several group representatives to conduct focus group discussions (FGD). The aim is to find potential disaster funding problems according to the perspective of the local community. The result of the process of mapping potential disasters and problems is the emergence of different perspectives between men and women invited as representatives. The male representatives present were able to draw on the map regarding the potential for disasters and the problem in the village was one of which was a tsunami, whereas women's representatives actually looked at potential disasters and problems from the perspective of the family's economic stability. Some male representatives stated that the threat of the tsunami became a male area of control while women's representatives guarded Brahma cattle. When referring to these results, women's groups become gender groups threatened by the risk of a tsunami disaster.
Pemetaan potensi bencana dan masalah merupakan upaya dasar dalam membaca risiko bencana sebelum bencana tersebut benar-benar terjadi. Desa Wojo merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Malang sebelah selatan yang memiliki potensi bencana karena masuk ke dalam daerah rawan tsunami. Potensi bencana atas tsunami terbaca oleh masyarakat desa justru setelah berhentinya operasional salah satu koperasi pertambangan di Pantai Golo tahun 2015. Kegiatan pemetaan potensi bencana dan masalah dilakukan dengan menggunakan metode Participatory Geographic Information System (PGIS). Metode ini dilakukan dengan cara melakukan penglibatan perwakilan dari beberapa kelompok yang dilakukan dengan model focus group discussion (FGD) dari perwakilan perangkat desa, karang taruna, kelompok tani, kelompok wisata, dan kelompok perempuan. Tujuannya adalah ditemukannya potensi bencana dan masalah berdasarkan sudut pandang masyarakat setempat. Hasil dari proses pemetaan potensi bencana dan masalah adalah munculnya sudut pandang yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang diundang sebagai perwakilan. Perwakilan laki-laki yang hadir mampu mengambarkan dan menuangkan ke dalam peta terkait potensi bencana dan masalah di desa mereka salah satunya adalah rawan tsunami, sedangkan perwakilan perempuan justru memandang potensi bencana dan masalah dari sudut pandang pencapaian kemapanan ekonomi keluarga. Beberapa perwakilan laki-laki menyatakan bahwa masalah dan bencana tsunami merupakan wilayah pengawasan laki-laki sedangkan beberapa perwakilan perempuan menyatakan bahwa menjaga sapi jenis 'Brahma' menjadi upaya terpenting untuk menyelamatkan desa dibandingkan sadar akan potensi tsunami. Bila merujuk pada hasil tersebut maka kelompok perempuan menjadi kelompok gender yang terancam atas risiko bencana tsunami.
Universitas Sumatera Utara
Title: Laki-laki Menjaga Tsunami, Perempuan Menjaga 'Brahma': Pemetaan Potensi Bencana dan Masalah Daerah Rawan Tsunami di Pantai Golo, Desa Wojo, Kabupaten Malang, Jawa Timur
Description:
AbstractMapping potential disasters and problems is the basis for knowing disaster risks that will occur.
Wojo Village is one of the villages in the southern region of Malang Regency which has the potential of a tsunami disaster.
The potential of the tsunami disaster was realized by the community since the cessation of the mining cooperatives in 2015 on Golo Beach.
The activity of mapping potential disasters and problems utilize the Participatory Geographic Information System (PGIS) method.
This method was carried out by inviting several group representatives to conduct focus group discussions (FGD).
The aim is to find potential disaster funding problems according to the perspective of the local community.
The result of the process of mapping potential disasters and problems is the emergence of different perspectives between men and women invited as representatives.
The male representatives present were able to draw on the map regarding the potential for disasters and the problem in the village was one of which was a tsunami, whereas women's representatives actually looked at potential disasters and problems from the perspective of the family's economic stability.
Some male representatives stated that the threat of the tsunami became a male area of control while women's representatives guarded Brahma cattle.
When referring to these results, women's groups become gender groups threatened by the risk of a tsunami disaster.
Pemetaan potensi bencana dan masalah merupakan upaya dasar dalam membaca risiko bencana sebelum bencana tersebut benar-benar terjadi.
Desa Wojo merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kabupaten Malang sebelah selatan yang memiliki potensi bencana karena masuk ke dalam daerah rawan tsunami.
Potensi bencana atas tsunami terbaca oleh masyarakat desa justru setelah berhentinya operasional salah satu koperasi pertambangan di Pantai Golo tahun 2015.
Kegiatan pemetaan potensi bencana dan masalah dilakukan dengan menggunakan metode Participatory Geographic Information System (PGIS).
Metode ini dilakukan dengan cara melakukan penglibatan perwakilan dari beberapa kelompok yang dilakukan dengan model focus group discussion (FGD) dari perwakilan perangkat desa, karang taruna, kelompok tani, kelompok wisata, dan kelompok perempuan.
Tujuannya adalah ditemukannya potensi bencana dan masalah berdasarkan sudut pandang masyarakat setempat.
Hasil dari proses pemetaan potensi bencana dan masalah adalah munculnya sudut pandang yang berbeda antara laki-laki dan perempuan yang diundang sebagai perwakilan.
Perwakilan laki-laki yang hadir mampu mengambarkan dan menuangkan ke dalam peta terkait potensi bencana dan masalah di desa mereka salah satunya adalah rawan tsunami, sedangkan perwakilan perempuan justru memandang potensi bencana dan masalah dari sudut pandang pencapaian kemapanan ekonomi keluarga.
Beberapa perwakilan laki-laki menyatakan bahwa masalah dan bencana tsunami merupakan wilayah pengawasan laki-laki sedangkan beberapa perwakilan perempuan menyatakan bahwa menjaga sapi jenis 'Brahma' menjadi upaya terpenting untuk menyelamatkan desa dibandingkan sadar akan potensi tsunami.
Bila merujuk pada hasil tersebut maka kelompok perempuan menjadi kelompok gender yang terancam atas risiko bencana tsunami.
Related Results
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAMPAK TEKNOLOGI TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
DAFTAR PUSTAKAAditama, M. H. R., & Selfiardy, S. (2022). Kehidupan Mahasiswa Kuliah Sambil Bekerja di Masa Pandemi Covid-19. Kidspedia: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3(...
TUNTUTAN FISIOLOGI OLAHRAGA SEPAK TAKRAW ATLET SEKOLAH MENENGAH ATAS OLAHRAGA
TUNTUTAN FISIOLOGI OLAHRAGA SEPAK TAKRAW ATLET SEKOLAH MENENGAH ATAS OLAHRAGA
AbstrakSepak takraw merupakan olahraga yang menggunakan net dengan tiga pemain yang memiliki posisi masing-masing diantaranya server, feeder, dan striker. Ketiga posisi tersebut me...
ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKONOMI DESA PANTAI KABUPATEN SUBANG
ANALISIS KEBIJAKAN PENGEMBANGAN EKONOMI DESA PANTAI KABUPATEN SUBANG
Kabupaten Subang merupakan kabupaten yang memiliki panjang garis pantai sekitar 68km di daerah Pantai Utara dan luas area pertambakan sebesar 10.000 ha, merupakan potensiuntuk peng...
POTENSI DESA JATIROKE SEBAGAI DESA WISATA
POTENSI DESA JATIROKE SEBAGAI DESA WISATA
Desa Jatiroke selama perkembangannya hingga saat ini mempunyai beberapa masalah. Yang pertama adalah belum dikelolanya berbagai potensi desa yang sebenarnya dapat dikembangkan deng...
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan Relawan Kebencanaan Di Desa Tanjung Luar Sebagai Bentuk Kesiapsiagaan Dalam Menghadapi Bencana
Pembentukan relawan kebencanaan sebagai salah satu program kerja KKN Desa Tanjung Luar sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana terlaksana dengan baik berkat kerjasam...
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA SEMBALUN TIMBA GADING KABUPATEN LOMBOK TIMUR DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT TANGGUH BENCANA
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESA SEMBALUN TIMBA GADING KABUPATEN LOMBOK TIMUR DALAM MEWUJUDKAN MASYARAKAT TANGGUH BENCANA
Desa Sembalun Timba Gading merupakan bagian dari 6 desa dan kelurahan yang terletak di kecamatan Sembalun Kabupaten Lombok Timur, provinsi Nusa Tenggara Barat. Desa ini terletak di...
KARAKTERISTIK PANTAI PULAU LAUT-SEKATUNG (SALAH SATU PULAU TERLUAR NKRI)
KARAKTERISTIK PANTAI PULAU LAUT-SEKATUNG (SALAH SATU PULAU TERLUAR NKRI)
Pulau Laut-Sekatung adalah salah satu pulau terluar Negara Republik Indonesia yang berbatasan dengan perairan Malaysia Timur. Pulau ini terletak di laut Cina Selatan sebagai bagian...
Edukasi dan Fasilitasi Pemetaan Titik Rawan dan Titik Aman Longsor sebagai Strategi Mitigasi Daerah Rawan Bencana Masyarakat Desa Cikoneng
Edukasi dan Fasilitasi Pemetaan Titik Rawan dan Titik Aman Longsor sebagai Strategi Mitigasi Daerah Rawan Bencana Masyarakat Desa Cikoneng
Background: Desa Cikoneng, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung merupakan wilayah dengan potensi rawan longsor yang tinggi. Rendahnya pemahaman masyarakat dan LINMAS mengenai m...

