Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Pendugaan Simpanan Karbon pada Kawasan Rehabilitasi Pesisir Selatan Pulau Jawa

View through CrossRef
Konservasi karbon merupakan salah satu tindakan penting dalam rehabilitasi pesisir, khususnya pesisir selatan Pulau Jawa dengan keunikan ombak yang besar, salinitas tinggi dan sedimen beragam. Penelitian dilaksanakan untuk menduga simpanan karbon dalam berbagai bagian pada areal pesisir tersebut, yang terdiri dari tapak tergenang (tegakan mangrove 14 tahun jenis Avicennia/AV, Rhizophora/RH dan campuran/MX, lahan sedimen/SD, rumput/GR) dan tapak kering berpasir tegakan Casuarina equisetifolia/CS umur 18 tahun. Tiga sampai sembilan petak ukur dibuat untuk pengamatan dan pengukuran vegetasi, serta pengambilan sampel tanah (kedalaman 0-20, 20-40 dan 40-60 cm), dan pengukuran tegakan. Biomasa pohon diestimasi dengan mengkonvesri diameter batang (DBH) menggunakan persamaan alometrik. Biomasa pohon dirubah menjadi karbon tersimpan menggunakan berat jenis kayu yaitu 0,464 untuk above-ground (AGC), dan 0,39 untuk below-ground (BGC), serta untuk menduga biomasa karbon total (TBC). Karbon organik tanah (COT) dianalisis secara terpisah, dan digabungkan dengan karbon biomasa untuk memperkirakan simpanan karbon dalam ekosistem. Hasil penelitian menunjukkan variasi yang tinggi dari pertumbuhan dan kerapatan pohon, khususnya pada tegakan mangrove, dengan kemampuan regenerasi yang rendah. Tidak ditemukan perbedaan yang nyata dari simpanan karbon pada biomasa antara tegakan mangrove dengan Casuarina. Rerata TBC pada mangrove adalah 46,08 Mg C/ha, sedikit lebih rendah daripada CS (51,50 Mg C/ha). Di bawah tanah (hingga kedalaman 60 cm), tapak tergenang (AV, RH, MX, SD dan GR) secara nyata menyimpan COT lebih besar daripada tapak kering (CS). Kedalaman tanah secara nyata mempengaruhi COT, namun pada tapak tergenang semakin dalam tanah maka COT semakin besar, sedangkan tren sebaliknya pada tapak kering. Perkiraan total karbon tersimpan adalah 248.52 (±87.21) Mg C/ha, dengan terendah pada CS (94.46 Mg C/ha) dan tertinggi pada MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitasi pesisir berpeluang meningkatkan simpanan karbon ekosistem karena adanya adanya biomasa pohon, dibandingkan tapak terbuka yakni SD dan GR. Pada tapak tergenang/tegakan mangrove sebagian besar simpanan karbon berupa COT, dan lebih sedikit ditemukan pada CS. Perbedaan karakteristik simpanan karbon ini memerlukan penanganan atau konservasi yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan rehabilitasi dan regenerasi buatan yang intensif. Carbon Stock Estimation in the South Coastal Rehabilitation Area of Java IslandAbstractCarbon conservation is one of important actions for coastal rehabilitation, in particular in the south coast of Java Island with its unique characteristics of strong tide, high salinity and diverse substrates. The research aimed to estimate carbon stocks from various carbon pools in the coast rehabilitation area, including wetland sites (14-year-old mangroves of Avicennia/AV, Rhizophora/RH and mix mangrove/MX, mudflat-sediment/SD, grassland/GR) and dry-sandy site of 18-year-old Casuarina equisetifolia/CS. Three to nine plots were established for observing and measuring vegetation, as well as taking soil sample at 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm depths. Tree biomass were estimated by converting treestem diameter using allometric equation. The tree biomass were converted into tree carbon using carbon density of 0.464 for aboveground (AGC), and 0.39 for below-ground (BGC), and to estimate total biomass carbon (TBC). Soil organic carbon (SOC) was analyzed separately, and combined with biomass carbon to estimate total carbon stock in the ecosystems. High variation of tree growth and density were found, especially in mangrove stands, with a low level of natural regeneration. No significant difference of carbon stock in biomass between mangroves and Casuarina was observed. Average TBC in mangroves (46.08 Mg C/ha) was slightly lower than in CS (51.50 Mg C/ha). In below ground (up to 60 cm depth), wetland sites (AV, RH, MX, SD and GR) significantly stored more SOC than dry land (CS). Soil depth significantly affected SOC, but in wetland sites deeper soil contained more carbon than upper, while an opposite trend was observed in CS. Estimated total carbon stock in the coast was 248.52 (±87.21) Mg C/ha, with the lowest in CS (94.46 Mg C/ha) and highest in MX (324.77 Mg C/ha). Rehabilitation activities in the coast possibly improve carbon stock in the ecosystems due to tree biomass, compared to open sites of SD and GR. In the wetland or mangroves, most of carbon was observed as SOC, and less in the dry-land site. The different characteristics of carbon storage in the south coast need different conservation techniques, but both sites need intensive rehabilitation work and artificial regeneration.
Universitas Gadjah Mada
Title: Pendugaan Simpanan Karbon pada Kawasan Rehabilitasi Pesisir Selatan Pulau Jawa
Description:
Konservasi karbon merupakan salah satu tindakan penting dalam rehabilitasi pesisir, khususnya pesisir selatan Pulau Jawa dengan keunikan ombak yang besar, salinitas tinggi dan sedimen beragam.
 Penelitian dilaksanakan untuk menduga simpanan karbon dalam berbagai bagian pada areal pesisir tersebut, yang terdiri dari tapak tergenang (tegakan mangrove 14 tahun jenis Avicennia/AV, Rhizophora/RH dan campuran/MX, lahan sedimen/SD, rumput/GR) dan tapak kering berpasir tegakan Casuarina equisetifolia/CS umur 18 tahun.
Tiga sampai sembilan petak ukur dibuat untuk pengamatan dan pengukuran vegetasi, serta pengambilan sampel tanah (kedalaman 0-20, 20-40 dan 40-60 cm), dan pengukuran tegakan.
Biomasa pohon diestimasi dengan mengkonvesri diameter batang (DBH) menggunakan persamaan alometrik.
Biomasa pohon dirubah menjadi karbon tersimpan menggunakan berat jenis kayu yaitu 0,464 untuk above-ground (AGC), dan 0,39 untuk below-ground (BGC), serta untuk menduga biomasa karbon total (TBC).
Karbon organik tanah (COT) dianalisis secara terpisah, dan digabungkan dengan karbon biomasa untuk memperkirakan simpanan karbon dalam ekosistem.
Hasil penelitian menunjukkan variasi yang tinggi dari pertumbuhan dan kerapatan pohon, khususnya pada tegakan mangrove, dengan kemampuan regenerasi yang rendah.
Tidak ditemukan perbedaan yang nyata dari simpanan karbon pada biomasa antara tegakan mangrove dengan Casuarina.
Rerata TBC pada mangrove adalah 46,08 Mg C/ha, sedikit lebih rendah daripada CS (51,50 Mg C/ha).
Di bawah tanah (hingga kedalaman 60 cm), tapak tergenang (AV, RH, MX, SD dan GR) secara nyata menyimpan COT lebih besar daripada tapak kering (CS).
Kedalaman tanah secara nyata mempengaruhi COT, namun pada tapak tergenang semakin dalam tanah maka COT semakin besar, sedangkan tren sebaliknya pada tapak kering.
Perkiraan total karbon tersimpan adalah 248.
52 (±87.
21) Mg C/ha, dengan terendah pada CS (94.
46 Mg C/ha) dan tertinggi pada MX (324.
77 Mg C/ha).
Rehabilitasi pesisir berpeluang meningkatkan simpanan karbon ekosistem karena adanya adanya biomasa pohon, dibandingkan tapak terbuka yakni SD dan GR.
Pada tapak tergenang/tegakan mangrove sebagian besar simpanan karbon berupa COT, dan lebih sedikit ditemukan pada CS.
Perbedaan karakteristik simpanan karbon ini memerlukan penanganan atau konservasi yang berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan rehabilitasi dan regenerasi buatan yang intensif.
 Carbon Stock Estimation in the South Coastal Rehabilitation Area of Java IslandAbstractCarbon conservation is one of important actions for coastal rehabilitation, in particular in the south coast of Java Island with its unique characteristics of strong tide, high salinity and diverse substrates.
The research aimed to estimate carbon stocks from various carbon pools in the coast rehabilitation area, including wetland sites (14-year-old mangroves of Avicennia/AV, Rhizophora/RH and mix mangrove/MX, mudflat-sediment/SD, grassland/GR) and dry-sandy site of 18-year-old Casuarina equisetifolia/CS.
 Three to nine plots were established for observing and measuring vegetation, as well as taking soil sample at 0-20 cm, 20-40 cm, 40-60 cm depths.
Tree biomass were estimated by converting treestem diameter using allometric equation.
The tree biomass were converted into tree carbon using carbon density of 0.
464 for aboveground (AGC), and 0.
39 for below-ground (BGC), and to estimate total biomass carbon (TBC).
Soil organic carbon (SOC) was analyzed separately, and combined with biomass carbon to estimate total carbon stock in the ecosystems.
High variation of tree growth and density were found, especially in mangrove stands, with a low level of natural regeneration.
No significant difference of carbon stock in biomass between mangroves and Casuarina was observed.
Average TBC in mangroves (46.
08 Mg C/ha) was slightly lower than in CS (51.
50 Mg C/ha).
In below ground (up to 60 cm depth), wetland sites (AV, RH, MX, SD and GR) significantly stored more SOC than dry land (CS).
Soil depth significantly affected SOC, but in wetland sites deeper soil contained more carbon than upper, while an opposite trend was observed in CS.
Estimated total carbon stock in the coast was 248.
52 (±87.
21) Mg C/ha, with the lowest in CS (94.
46 Mg C/ha) and highest in MX (324.
77 Mg C/ha).
Rehabilitation activities in the coast possibly improve carbon stock in the ecosystems due to tree biomass, compared to open sites of SD and GR.
In the wetland or mangroves, most of carbon was observed as SOC, and less in the dry-land site.
The different characteristics of carbon storage in the south coast need different conservation techniques, but both sites need intensive rehabilitation work and artificial regeneration.

Related Results

HUBUNGAN ANTAR PARAMETER STRUKTUR TEGAKAN MANGROVE DALAM ESTIMASI SIMPANAN KARBON ABOVEGROUND PADA SKALA KOMUNITAS
HUBUNGAN ANTAR PARAMETER STRUKTUR TEGAKAN MANGROVE DALAM ESTIMASI SIMPANAN KARBON ABOVEGROUND PADA SKALA KOMUNITAS
Mangrove merupakan ekosistem pesisir yang memiliki kemampuan sangat baik dalam menyerap dan menyimpan karbon. Struktur tegakan mangrove memberikan kontribusi signifikan terhadap es...
Akibat Hukum Pada Pemisahan Simpanan Dari Nasabah Bank Saat Likuidasi Untuk Memperoleh Jaminan Dari Lembaga Penjamin Simpanan
Akibat Hukum Pada Pemisahan Simpanan Dari Nasabah Bank Saat Likuidasi Untuk Memperoleh Jaminan Dari Lembaga Penjamin Simpanan
Abstrak. Penelitian dalam artikel ini menjelaskan tentang adanya celah hukum yang terkait dengan kontrak penjaminan simpanan LPS terhadap syarat dan ketentuan penjaminan simpanan n...
MODEL DINAMIK TINGKAT KERENTANAN PANTAI PULAU POTERAN DAN GILI LAWAK KABUPATEN SUMENEP MADURA
MODEL DINAMIK TINGKAT KERENTANAN PANTAI PULAU POTERAN DAN GILI LAWAK KABUPATEN SUMENEP MADURA
<div class="WordSection1"><p><em>Pulau Poteran dan Pulau Gili Lawak Kabupaten Sumenep merupakan pulau-pulau kecil yang berada di sebelah barat Pulau Madura dengan...
PENGEMBANGAN DATASET WILAYAH PESISIR BERBASIS CITRA FOTO UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) DI KECAMATAN BULELENG
PENGEMBANGAN DATASET WILAYAH PESISIR BERBASIS CITRA FOTO UAV (UNMANNED AERIAL VEHICLE) DI KECAMATAN BULELENG
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengembangkan dataset wilayah pesisir pada citra UAV (Unmanned Aerial Vehicle) . Sesuai UU UU No.27 tahun 2007 tentang pengelola...
PENGEMBANGAN DAYA TARIK KAWASAN WISATA PESISIR LANTEBUNG -MANGAMBANG KOTA MAKASSAR
PENGEMBANGAN DAYA TARIK KAWASAN WISATA PESISIR LANTEBUNG -MANGAMBANG KOTA MAKASSAR
wilayah pesisir merupakan suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan. Berdasarkan keputusan menteri kelautan dan pariwisata Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang pedoman umum peren...
DINAMIKA GARIS PANTAI SURABAYA TAHUN 1994 – 2023
DINAMIKA GARIS PANTAI SURABAYA TAHUN 1994 – 2023
Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia, Surabaya merupakan salah satu kota pesisir yang mengalami perubahan garis pantai secara dinamis....
Diversifikasi Usaha untuk Keberlanjutan Lingkungan dalam Kerangka Reforma Agraria melalui Pertanian Karbon
Diversifikasi Usaha untuk Keberlanjutan Lingkungan dalam Kerangka Reforma Agraria melalui Pertanian Karbon
The accelerating pace of climate change has prompted many countries to reduce carbon emissions through carbon farming. Carbon farming plays a crucial role in climate change mitigat...
KARAKTERISASI KARBON AKTIF TERAKTIVASI NaCl DARI AMPAS TAHU
KARAKTERISASI KARBON AKTIF TERAKTIVASI NaCl DARI AMPAS TAHU
<p>Ampas tahu merupakan residu proses pembuatan tahu. Ampas tahu yang dihasilkan dalam proses pembuatan tahu cukup melimpah. Pemanfaatan ampas tahu selama ini dapat digunakan...

Back to Top