Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Tafsir Sosial atas Bencana Banjir oleh Komunitas Tepi Hutan

View through CrossRef
AbstractAs a forest edge community, Sidoasri Village, Sumbermanjing Wetan Sub-district, Malang Regency experienced many ecological changes since the implementation of Community Collaborative Forest Management (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM) in early 2000s. This condition also triggers a change in disaster conditions. After the forestlands ultivated by the people, the flood becomes annually agenda. Using phenomenology approach, by interviewing and observing some informants, this paper describes that knowledge of disasters has changed. Villagers know that before implementation of PHBM disaster was trigerred by natural phenomena, however after PHBM implemented, they regard that the forest management created the flood. The forest edge community experience a dilemma; on the one hand utilizing forest can sustain their economic condition, but on the other hand, it creates disaster risk. Their knowledge related to external and internal conditions, obtained through ecological change and social interaction.   Sebagai komunitas tepi hutan, Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang mengalami banyak perubahan ekologis sejak diterapkannya kebijakan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada awal 2000an. Kondisi ini juga memicu perubahan kondisi kebencanaan. Setelah lahan hutan digarap oleh warga, banjir menjadi agenda rutin yang hampir tiap tahun terjadi. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, dengan mewawancarai dan mengamati beberapa informan, tulisan ini menguraikan bahwa terdapat perubahan pengetahuan atas bencana oleh warga desa ini. Jika sebelum ada kebijakan PHBM bencana banjir dipicu karena ativitas alamiah saja, maka setelahnya, warga menyadari bahwa aktivitas pengelolaan hutan menjadi pemicu banjir. Warga tepi hutan ini mengalami dilemma; di satu sisi memanfaatkan lahan hutan dapat menopang perekonomian, namun di sisi lain justru menciptakan risiko bencana. Pengetahuan tersebut terkait dengan kondisi eksternal dan internal yang didapat melalui perubahan ekologis maupun interaksi sosial.
Title: Tafsir Sosial atas Bencana Banjir oleh Komunitas Tepi Hutan
Description:
AbstractAs a forest edge community, Sidoasri Village, Sumbermanjing Wetan Sub-district, Malang Regency experienced many ecological changes since the implementation of Community Collaborative Forest Management (Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat/PHBM) in early 2000s.
This condition also triggers a change in disaster conditions.
After the forestlands ultivated by the people, the flood becomes annually agenda.
Using phenomenology approach, by interviewing and observing some informants, this paper describes that knowledge of disasters has changed.
Villagers know that before implementation of PHBM disaster was trigerred by natural phenomena, however after PHBM implemented, they regard that the forest management created the flood.
The forest edge community experience a dilemma; on the one hand utilizing forest can sustain their economic condition, but on the other hand, it creates disaster risk.
Their knowledge related to external and internal conditions, obtained through ecological change and social interaction.
  Sebagai komunitas tepi hutan, Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang mengalami banyak perubahan ekologis sejak diterapkannya kebijakan Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) pada awal 2000an.
Kondisi ini juga memicu perubahan kondisi kebencanaan.
Setelah lahan hutan digarap oleh warga, banjir menjadi agenda rutin yang hampir tiap tahun terjadi.
Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, dengan mewawancarai dan mengamati beberapa informan, tulisan ini menguraikan bahwa terdapat perubahan pengetahuan atas bencana oleh warga desa ini.
Jika sebelum ada kebijakan PHBM bencana banjir dipicu karena ativitas alamiah saja, maka setelahnya, warga menyadari bahwa aktivitas pengelolaan hutan menjadi pemicu banjir.
Warga tepi hutan ini mengalami dilemma; di satu sisi memanfaatkan lahan hutan dapat menopang perekonomian, namun di sisi lain justru menciptakan risiko bencana.
Pengetahuan tersebut terkait dengan kondisi eksternal dan internal yang didapat melalui perubahan ekologis maupun interaksi sosial.

Related Results

Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Kapasitas Mitigasi Bencana Banjir di Desa Meurandeh Aceh
Upaya Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Kapasitas Mitigasi Bencana Banjir di Desa Meurandeh Aceh
Dalam rangka meningkatkan kapasitas mitigasi Bencana Banjir di Desa Meurandeh Aceh, telah dilaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pemberian edukasi dan informasi...
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān
DISKURSUS MUNĀSABAH: Problem Tafsīr al-Qur’ān bi ’l-Qur’ān
Abstract: Munāsabah al-Qur’ān is a part of ‘Ulūm al-Qur’ān which presents pros and contrast. The pros ulama makes munāsabah as a method to reveal enigma system of Quran verses and ...
Kajian Kritis terhadap Rumusan Konsep Mufassir: Perspektif Ushul Tafsir
Kajian Kritis terhadap Rumusan Konsep Mufassir: Perspektif Ushul Tafsir
In the study of ushûl al-tafsir, among the most important things in discussing the basics of interpretation is establishing the concept of mufassir. This is because without underst...
Analisis Penanggulangan Bencana Banjir oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi
Analisis Penanggulangan Bencana Banjir oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Bekasi
Penelitian ini menganalisis penanggulangan banjir yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bekasi. Sebagaimana diketahui Kota Bekasi termasuk kategori tinggi ...
Penanggulangan Krisis Kesehatan di Indonesia Tahun 2016
Penanggulangan Krisis Kesehatan di Indonesia Tahun 2016
AbstractHealth crisis is an event/series of events that threaten the health of individuals or communities caused by disasters and / or potentially disasters. Researchs on health cr...
Pemanfaatan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Banjir di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan
Pemanfaatan Ruang Berbasis Mitigasi Bencana Banjir di Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan
Indonesia memiliki kondisi topografi yang beragam dan beriklim tropis dengan intensitas curah hujan yang tinggi sehingga rentan terhadap bencana hidrometeorologi, khususnya banjir....
PEMAHAMAN MENEJEMEN BENCANA SISWA SMP DI KABUPATEN SLEMAN
PEMAHAMAN MENEJEMEN BENCANA SISWA SMP DI KABUPATEN SLEMAN
Strategi penanggulangan bencana akan dapat berjalan dengan efektif apabila penduduk mempunyai pemahaman yang memadai mengenai menejemen dan mitigasi bencana. Wilayah Kabupaten Slem...

Back to Top