Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

ANALISIS DEIKSIS PERORANGAN DALAM BAHASA BUGIS DI KAMPUNG SIMPANG EMPAT, KUNAK, SABAH

View through CrossRef
Abstrak Masyarakat Bugis sinonim dengan keunikan budaya dan bahasa yang mereka miliki, namun masyarakat kurang didedahkan dengan konteks pertuturan deiksis dalam kalangan masyarakat Bugis terutamanya deiksis perorangan. Kajian ini memberi fokus kepada dua objektif utama iaitu untuk mengenal pasti deiksis perorangan yang terdapat dalam masyarakat Kampung Simpang Empat Kunak, Sabah dan menganalisis penanda kesantunan bahasa Bugis yang dituturkan oleh empat jenis kaum Bugis iaitu Bugis Bone, Bugis Rappang, Bugis Pinrang dan Bugis Enrekang di Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah dengan mengaplikasikan Strategi Kesantunan Grice (1975) berserta kaedah kualitatif. Hasil dapatan kajian memperlihatkan struktur penggunaan deiksis perorangan dari empat kaum Bugis. Sebagai contoh, penggunaan Kata Ganti Nama Diri Pertama (KGNDP) iyya’, -ka yang merujuk kepada saya manakala Kata Ganti Nama Diri Kedua (KGNDK) idi’ yang membawa maksud awak. Dapatan kajian menunjukkan terdapat persamaan dan perbezaan dalam penggunaan konteks deiksis perorangan yang dituturkan daripada keempat-empat kaum bugis di kampung tersebut. Justeru, penggunaan deiksis perorangan dalam pertuturan harian masyarakat Bugis di Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah memperlihatkan nilai kesantunan melalui bahasa Bugis menurut strategi kesantunan Grice (1975) yang terbahagi kepada emapat maksim utama iaitu Maksim Kualiti, Maksim Kuantiti, Maksim Pertalian dan Maksim Cara. Abstract The Bugis community are synonym with the uniqueness of their culture and language, but the community is less exposed to the context of deixis speech among the Bugis community, especially personal deixis. This study focuses on two main objectives which are to identify the personal deixis found in the community of Kampung Simpang Empat Kunak, Sabah and analyze the politeness markers of the Bugis language spoken by four types of Bugis, namely Bugis Bone, Bugis Rappang, Bugis Pinrang and Bugis Enrekang in Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah by applying Grice's Politeness Strategy (1975). The results of the study show the structure of the use of personal deixis from the four Bugis tribes. For example, the use of the First Personal Pronoun (KGNDP) iyya', -ka which refers to me while the Second Personal Pronoun (KGNDK) idi' means you. It can be stated that the researcher found that there are similarities and differences in the use of personal deixis contexts spoken by all four Bugis in the village. Therefore, the use of personal deixis in the daily speech of the Bugis community in Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah shows the value of politeness in the Bugis language implemented by Grice's politeness strategy (1975) which is divided into four main maxims which is Maxim of Quantity, Maxim of Quality, Maxim of Relation and Maxim of Manner.  
Title: ANALISIS DEIKSIS PERORANGAN DALAM BAHASA BUGIS DI KAMPUNG SIMPANG EMPAT, KUNAK, SABAH
Description:
Abstrak Masyarakat Bugis sinonim dengan keunikan budaya dan bahasa yang mereka miliki, namun masyarakat kurang didedahkan dengan konteks pertuturan deiksis dalam kalangan masyarakat Bugis terutamanya deiksis perorangan.
Kajian ini memberi fokus kepada dua objektif utama iaitu untuk mengenal pasti deiksis perorangan yang terdapat dalam masyarakat Kampung Simpang Empat Kunak, Sabah dan menganalisis penanda kesantunan bahasa Bugis yang dituturkan oleh empat jenis kaum Bugis iaitu Bugis Bone, Bugis Rappang, Bugis Pinrang dan Bugis Enrekang di Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah dengan mengaplikasikan Strategi Kesantunan Grice (1975) berserta kaedah kualitatif.
Hasil dapatan kajian memperlihatkan struktur penggunaan deiksis perorangan dari empat kaum Bugis.
Sebagai contoh, penggunaan Kata Ganti Nama Diri Pertama (KGNDP) iyya’, -ka yang merujuk kepada saya manakala Kata Ganti Nama Diri Kedua (KGNDK) idi’ yang membawa maksud awak.
Dapatan kajian menunjukkan terdapat persamaan dan perbezaan dalam penggunaan konteks deiksis perorangan yang dituturkan daripada keempat-empat kaum bugis di kampung tersebut.
Justeru, penggunaan deiksis perorangan dalam pertuturan harian masyarakat Bugis di Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah memperlihatkan nilai kesantunan melalui bahasa Bugis menurut strategi kesantunan Grice (1975) yang terbahagi kepada emapat maksim utama iaitu Maksim Kualiti, Maksim Kuantiti, Maksim Pertalian dan Maksim Cara.
Abstract The Bugis community are synonym with the uniqueness of their culture and language, but the community is less exposed to the context of deixis speech among the Bugis community, especially personal deixis.
This study focuses on two main objectives which are to identify the personal deixis found in the community of Kampung Simpang Empat Kunak, Sabah and analyze the politeness markers of the Bugis language spoken by four types of Bugis, namely Bugis Bone, Bugis Rappang, Bugis Pinrang and Bugis Enrekang in Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah by applying Grice's Politeness Strategy (1975).
The results of the study show the structure of the use of personal deixis from the four Bugis tribes.
For example, the use of the First Personal Pronoun (KGNDP) iyya', -ka which refers to me while the Second Personal Pronoun (KGNDK) idi' means you.
It can be stated that the researcher found that there are similarities and differences in the use of personal deixis contexts spoken by all four Bugis in the village.
Therefore, the use of personal deixis in the daily speech of the Bugis community in Kampung Simpang Empat, Kunak, Sabah shows the value of politeness in the Bugis language implemented by Grice's politeness strategy (1975) which is divided into four main maxims which is Maxim of Quantity, Maxim of Quality, Maxim of Relation and Maxim of Manner.
 .

Related Results

Analisis Deiksis dalam Dialog Film Dua Hati Biru Karya Gina S. Noer Berdasarkan Kajian Pragmatik
Analisis Deiksis dalam Dialog Film Dua Hati Biru Karya Gina S. Noer Berdasarkan Kajian Pragmatik
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan jenis serta bentuk deiksis yang terdapat dalam dialog film Dua Hati Biru karya Gina S. Noer berdasarkan perspektif p...
DEIXIS IN THE CARTOON MOVIE “COCO (2017)”: PRAGMATICS ANALYSIS
DEIXIS IN THE CARTOON MOVIE “COCO (2017)”: PRAGMATICS ANALYSIS
Penelitian ini berjudul Deiksis dalam Film Kartun "Coco (2017)": Analisis Pragmatik.Deiksis merupakan bagian dari pragmatik yang membahas tentang ungkapan atau konteksdalam sebuah ...
Penggunaan Aspek Deiksis dalam Filem Hikayat Merong Mahawangsa
Penggunaan Aspek Deiksis dalam Filem Hikayat Merong Mahawangsa
Deiksis merupakan cara sesuatu bahasa diperkatakan dan cara bahasa tersebut melengkapi konteks ujaran (Levinson, 1983). Kajian mengenai deiksis dalam filem masih tidak banyak dan b...
PEMERTAHANAN BAHASA BUGIS DI KOTA AMBON [Bugis Language Defence in the city of Ambon]
PEMERTAHANAN BAHASA BUGIS DI KOTA AMBON [Bugis Language Defence in the city of Ambon]
This study examines the maintenance of Bugis language in the Wara neighborhood, Ambon City. As a language brought by immigrants from South Sulawesi, the Bugis language is a minorit...
Analisis Deiksis dalam Lagu-Lagu Daerah Bahasa Bugis
Analisis Deiksis dalam Lagu-Lagu Daerah Bahasa Bugis
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna penggunaan deiksis dalam lirik lagu daerah berbahasa Bugis. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskripti...
Analisis Deiksis Dalam Novel “Teluk Alaska” Karya Eka Aryani
Analisis Deiksis Dalam Novel “Teluk Alaska” Karya Eka Aryani
Deiksis yang ada dalam novel “Teluk Alaska” Karya Eka Aryani yaitu deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, deiksis sosial. Deiksis persona yaitu topeng, ber...
ANALISIS DEIKSIS DALAM NOVEL TELUK ALASKA KARYA EKA ARYANI
ANALISIS DEIKSIS DALAM NOVEL TELUK ALASKA KARYA EKA ARYANI
Deiksis yang ada dalam novel “Teluk Alaska” Karya Eka Aryani yaitu deiksis persona, deiksis tempat, deiksis waktu, deiksis wacana, deiksis sosial. Deiksis persona yaitu topeng, ber...

Back to Top