Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Peningkatan Produksi dan Ketahanan Jahe Terhadap Penyakit Layu Bakteri Melalui Imbangan Hara dan Kompos Tanaman Elisitor

View through CrossRef
<p class="IsiabstrakIndonesia">Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug Sukabumi, Jawa Barat sejak September 2011 sampai Mei 2012. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan imbangan hara dan kompos tanaman bersifat elisitor (temulawak) yang dapat meningkatkan produksi rimpang dan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri. Jahe yang digunakan adalah jahe putih besar yang ditanam pada media tanah dalam polibag. Rancangan penelitian yang digunakan adalah petak terbagi (<em>split plot</em>), diulang lima kali. Petak utama adalah (1) tanpa inokulasi <em>Ralstonia solanacearum </em>dan (2) inokulasi sebanyak 10<sup>7</sup> cfu ml<sup>-1</sup>. Sedangkan sebagai anak petak adalah imbangan  hara,  yaitu  (1) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl, (2) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 500 kg ha<sup>-1</sup> CaCO<sub>3</sub> + 500 kg ha<sup>-1</sup> + Mn, Cu, B, (3) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 10 t ha<sup>-1</sup> kompos temulawak, (4) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 500 kg ha<sup>-1</sup> CaCO<sub>3</sub> + 500 kg ha<sup>-1</sup> belerang + Mn, Cu, B + 10 t ha<sup>-1</sup> kompos temulawak, dan (5) dosis rekomendasi sebagai pembanding (500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 400 kg ha<sup>-1</sup> KCl). Dosis pupuk Mn, Cu, dan B masing-masing sebanyak tiga kg ha<sup>-1</sup>. Inokulasi bakteri <em>R. solanacearum</em> diberikan dua bulan setelah tanam dengan cara disiramkan pada tanah di sekitar perakaran tanaman sebanyak 200 ml tanaman<sup>-1</sup>. Pemberian imbangan hara 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 500 kg ha<sup>-1</sup> CaCO<sub>3</sub> + 500 kg ha<sup>-1</sup> belerang + unsur hara mikro Mn, Cu, dan B dapat meningkatkan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri sehingga dapat mempertahankan tanaman hidup sebesar 78,56% dengan tingkat kerusakan tanaman 18,43% dan meningkatkan hasil rimpang sebesar 730 g tanaman<sup>-1</sup> setara 29,2 t ha<sup>-1</sup>. Pemberian kompos tanaman elisitor (temulawak) belum dapat meningkatkan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri.</p>
Title: Peningkatan Produksi dan Ketahanan Jahe Terhadap Penyakit Layu Bakteri Melalui Imbangan Hara dan Kompos Tanaman Elisitor
Description:
<p class="IsiabstrakIndonesia">Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cicurug Sukabumi, Jawa Barat sejak September 2011 sampai Mei 2012.
Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan imbangan hara dan kompos tanaman bersifat elisitor (temulawak) yang dapat meningkatkan produksi rimpang dan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri.
Jahe yang digunakan adalah jahe putih besar yang ditanam pada media tanah dalam polibag.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah petak terbagi (<em>split plot</em>), diulang lima kali.
Petak utama adalah (1) tanpa inokulasi <em>Ralstonia solanacearum </em>dan (2) inokulasi sebanyak 10<sup>7</sup> cfu ml<sup>-1</sup>.
Sedangkan sebagai anak petak adalah imbangan  hara,  yaitu  (1) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl, (2) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 500 kg ha<sup>-1</sup> CaCO<sub>3</sub> + 500 kg ha<sup>-1</sup> + Mn, Cu, B, (3) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 10 t ha<sup>-1</sup> kompos temulawak, (4) 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 500 kg ha<sup>-1</sup> CaCO<sub>3</sub> + 500 kg ha<sup>-1</sup> belerang + Mn, Cu, B + 10 t ha<sup>-1</sup> kompos temulawak, dan (5) dosis rekomendasi sebagai pembanding (500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 400 kg ha<sup>-1</sup> KCl).
Dosis pupuk Mn, Cu, dan B masing-masing sebanyak tiga kg ha<sup>-1</sup>.
Inokulasi bakteri <em>R.
solanacearum</em> diberikan dua bulan setelah tanam dengan cara disiramkan pada tanah di sekitar perakaran tanaman sebanyak 200 ml tanaman<sup>-1</sup>.
Pemberian imbangan hara 500 kg ha<sup>-1</sup> urea + 300 kg ha<sup>-1</sup> SP-36 + 600 kg ha<sup>-1</sup> KCl + 500 kg ha<sup>-1</sup> CaCO<sub>3</sub> + 500 kg ha<sup>-1</sup> belerang + unsur hara mikro Mn, Cu, dan B dapat meningkatkan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri sehingga dapat mempertahankan tanaman hidup sebesar 78,56% dengan tingkat kerusakan tanaman 18,43% dan meningkatkan hasil rimpang sebesar 730 g tanaman<sup>-1</sup> setara 29,2 t ha<sup>-1</sup>.
Pemberian kompos tanaman elisitor (temulawak) belum dapat meningkatkan ketahanan tanaman jahe terhadap penyakit layu bakteri.
</p>.

Related Results

MACAM PUPUK KANDANG DAN KONSENTRASI ELISITOR BIOSAKA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS (Brassica oleraceae L)
MACAM PUPUK KANDANG DAN KONSENTRASI ELISITOR BIOSAKA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KUBIS (Brassica oleraceae L)
Penelitian tentang “Kajian Macam Pupuk Kandang Dan Konsentrasi Elisitor Biosaka Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Kubis (Brassica Oleraceae L)” dilaksanakan Maret 2024 hingga Juni...
FORMULASI DAN EVALUASI STABILITAS FISIK CREAM MINYAK JAHE MERAH
FORMULASI DAN EVALUASI STABILITAS FISIK CREAM MINYAK JAHE MERAH
Jahe merah mempunyai efek untuk menurunkan sensasi nyeri juga meningkatkan proses penyembuhan jaringan yang mengalami kerusakan, penggunaan panas pada jahe merah selain memberikan ...
Pengaruh aplikasi nitrogen lepas lambat dan bio elisitor terhadap fisiologi dan hasil tanaman (Oryza sativa L.)
Pengaruh aplikasi nitrogen lepas lambat dan bio elisitor terhadap fisiologi dan hasil tanaman (Oryza sativa L.)
Salah satu alternatif dalam peningkatan efisiensi pemupukan adalah penggunaan nitrogen lepas lambat. Elisitor dapat meningkatkan penyerapan nutrisi dari tanah, ketahanan tanaman pa...
Peningkatan Produksi Tanaman Bangun-Bangun (Coleus amboinicus L.) Daerah Sumatera Barat Dengan Penggunaan Kompos Eceng Gondok
Peningkatan Produksi Tanaman Bangun-Bangun (Coleus amboinicus L.) Daerah Sumatera Barat Dengan Penggunaan Kompos Eceng Gondok
Tujuan penelitian adalah mempelajari potensi daun bangun-bangun yang ditanam di beberapa daerah Sumatera Barat, kandungan gizinya dan untuk mengetahui formulasi pupuk yang tepat un...
KONTRIBUSI PEMANFAATAN PUPUK HAYATI DAN PUPUK KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SERAPAN FOSFOR PADA TANAMAN JAGUNG
KONTRIBUSI PEMANFAATAN PUPUK HAYATI DAN PUPUK KOMPOS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SERAPAN FOSFOR PADA TANAMAN JAGUNG
Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Lahan yang berpotensi sebagai lahan untuk produksi jagung diantaranya adalah...
Teh Kompos dan Pemanfaatannya sebagai Sumber Hara dan Agen Ketahanan Tanaman
Teh Kompos dan Pemanfaatannya sebagai Sumber Hara dan Agen Ketahanan Tanaman
Teh kompos akhir-akhir ini menarik perhatian para peneliti dan praktisi pertanian organik karena berfungsi ganda sebagai sumber unsur hara dan sekaligus sebagai biopestisida teruta...

Back to Top