Search engine for discovering works of Art, research articles, and books related to Art and Culture
ShareThis
Javascript must be enabled to continue!

Akurasi Citra Image Penyakit Daun Kentang berdasarkan Citra Sehat, Citra Early Blight, dan Citra Late Blight Menggunakan Convolutional Neural Network (CNN)

View through CrossRef
Kentang merupakan salah satu produk hasil pertanian yang memiliki kandungan tepung tertinggi keempat setelah jagung, gandum, dan padi. Pengelolaan pertanian kentang menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya adalah penyakit pada daun kentang yang dapat menyebabkan hasil produksi yang buruk hingga gagal panen jika tidak ditangani dengan tepat. Dua penyakit yang sering ditemui pada daun kentang adalah early blight dan late blight, yang masing-masing memiliki gejala serta penanganan berbeda. Proses klasifikasi penyakit yang lambat dapat menyebabkan tambahan biaya untuk perawatan. Penelitian ini memanfaatkan algoritma deep learning, yaitu Convolutional Neural Network (CNN), untuk klasifikasi citra daun kentang. Metode CNN menggunakan proses konvolusi di mana citra dipecah menjadi gambar-gambar yang lebih kecil dengan konvolusi yang sama. Hasil dari gambar-gambar kecil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam array baru yang digunakan untuk prediksi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 5400 citra, terbagi menjadi tiga kelas: citra sehat, citra early blight, dan citra late blight. Hasil pengujian menunjukkan akurasi tertinggi pada data validasi sebesar 99% dengan waktu komputasi per epoch sekitar 2,5 detik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa algoritma deep learning Convolutional Neural Network (CNN) mampu melakukan proses klasifikasi penyakit pada citra daun kentang dengan sangat baik.
Title: Akurasi Citra Image Penyakit Daun Kentang berdasarkan Citra Sehat, Citra Early Blight, dan Citra Late Blight Menggunakan Convolutional Neural Network (CNN)
Description:
Kentang merupakan salah satu produk hasil pertanian yang memiliki kandungan tepung tertinggi keempat setelah jagung, gandum, dan padi.
Pengelolaan pertanian kentang menghadapi berbagai permasalahan, salah satunya adalah penyakit pada daun kentang yang dapat menyebabkan hasil produksi yang buruk hingga gagal panen jika tidak ditangani dengan tepat.
Dua penyakit yang sering ditemui pada daun kentang adalah early blight dan late blight, yang masing-masing memiliki gejala serta penanganan berbeda.
Proses klasifikasi penyakit yang lambat dapat menyebabkan tambahan biaya untuk perawatan.
Penelitian ini memanfaatkan algoritma deep learning, yaitu Convolutional Neural Network (CNN), untuk klasifikasi citra daun kentang.
Metode CNN menggunakan proses konvolusi di mana citra dipecah menjadi gambar-gambar yang lebih kecil dengan konvolusi yang sama.
Hasil dari gambar-gambar kecil tersebut kemudian dimasukkan ke dalam array baru yang digunakan untuk prediksi.
Data yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 5400 citra, terbagi menjadi tiga kelas: citra sehat, citra early blight, dan citra late blight.
Hasil pengujian menunjukkan akurasi tertinggi pada data validasi sebesar 99% dengan waktu komputasi per epoch sekitar 2,5 detik.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa algoritma deep learning Convolutional Neural Network (CNN) mampu melakukan proses klasifikasi penyakit pada citra daun kentang dengan sangat baik.

Related Results

Kendala Adopsi Benih Bersertifikat untuk Usahatani Kentang
Kendala Adopsi Benih Bersertifikat untuk Usahatani Kentang
<p><strong>English</strong><br />Most potato farmers in Indonesia do not adopt certified potato seed. Relatively expensive price of certified seed is the ma...
HUBUNGAN ANTARA PANJANG DAN LEBAR DAUN NENAS TERHADAP KUALITAS SERAT DAUN NANAS BERDASARKAN LETAK DAUN DAN LAMA PERENDAMAN DAUN
HUBUNGAN ANTARA PANJANG DAN LEBAR DAUN NENAS TERHADAP KUALITAS SERAT DAUN NANAS BERDASARKAN LETAK DAUN DAN LAMA PERENDAMAN DAUN
Proses panen nenas akan menghasilkan limbah berupa daun nenas sebesar 2 sampai 3 kg per tanaman. Karena daun nanas tidak dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak, jadi biasanya peta...
Kajian Terhadap Perubahan Fisik Umbi Kentang (Solanum tuberosum L.) Selama Penyimpanan Di Suhu Ruang
Kajian Terhadap Perubahan Fisik Umbi Kentang (Solanum tuberosum L.) Selama Penyimpanan Di Suhu Ruang
Kerusakan komoditi hortikultura setelah panen sekitar 20-40%. Ini disebabkan proses respirasi dan metabolisme yang masih berlangsung, ketidaktepatan waktu panen, kerusakan mekanis,...
Efektivitas Kebijakan Perbenihan Kentang
Efektivitas Kebijakan Perbenihan Kentang
Kebijakan sistem perbenihan kentang bertujuan untuk mendorong produksi dan peredaran benih kentang bermutu, serta mendorong petani lebih banyak mengadopsi penggunaan benih kentang ...
Efektivitas Kebijakan Perbenihan Kentang
Efektivitas Kebijakan Perbenihan Kentang
Kebijakan sistem perbenihan kentang bertujuan untuk mendorong produksi dan peredaran benih kentang bermutu, serta mendorong petani lebih banyak mengadopsi penggunaan benih kentang ...
INTEGRASI FITUR WARNA, TEKSTUR DAN RENYI FRAKTAL UNTUK KLASIFIKASI PENYAKIT DAUN KENTANG MENGGUNAKAN LINEAR DISCRIMINANT ANALYSIS
INTEGRASI FITUR WARNA, TEKSTUR DAN RENYI FRAKTAL UNTUK KLASIFIKASI PENYAKIT DAUN KENTANG MENGGUNAKAN LINEAR DISCRIMINANT ANALYSIS
Penyakit pada daun tanaman kentang dapat secara signifikan mengurangi hasil panen dan kualitas produksi, sehingga diperlukan pendekatan otomatis berbasis pengolahan citra digital d...
Penerapan Metode Convolutional Neural Network untuk Diagnosa Penyakit Alzheimer
Penerapan Metode Convolutional Neural Network untuk Diagnosa Penyakit Alzheimer
Abstract— Alzheimer's disease is a neurodegenerative disease that develops gradually, and is associated with cardiovascular and cerebrovascular problems. Alzheimer's is a serious d...
Etnomedicine Melalui Penggunaan Daun Cemangi pada Masyarakat Pammana Kabupaten Wajo
Etnomedicine Melalui Penggunaan Daun Cemangi pada Masyarakat Pammana Kabupaten Wajo
Penggunaan daun cemangi oleh masyarakat Pammana kabupatenWajo sebagai tradisi turun - temurun yang dipercayai masyarakat sebagai pengobatan. Etnomedicine penggunaan daun cemangi da...

Back to Top